GAIRAH PEMBANTUKU

GAIRAH PEMBANTUKU
GP 13


__ADS_3

Sebelum adzan berkumandang, Izza sudah selesai memasak. Mumpung makanannya masih panas, ia memberi tahu Deon jika masakannya sudah siap untuk di santap.


Izza ragu untuk mengetuk pintu kamar pria itu mengingat tadi ia mendengar suara teriakan disertai pukulan. Oleh karena itu ia harus sedikit waspada, takut jadi sasaran atas kemarahan majikannya.


Tok tok ..


Izza memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar majikannya. Berharap jika ia tidak mengganggunya.


Izza mengetuk pintu sekali lagi. Namun tidak ada respon dari dalam. Begitu ia akan mengetuk yang ketiga kalinya, pintu terbuka dan tangannya hampir mengenai wajah pria yang muncul dari balik pintu.


"Eh, maaf, pak," ucap Izza dan dengan cepat menurunkan tangannya.


"Iya. Kenapa?" tanya Deon dengan raut wajah dan nada datar.


"Makan siangnya sudah siap, pak."


"Kamu saja yang makan. Aku belum ada selera."


Deon hendak menutup pintu kamarnya tapi segera di cegah oleh Izza.


"Tunggu, pak!" Izza berusaha menahan pintunya supaya tidak di tutup.


"Apa?" seru pria itu ketus.


"Pak Deon tadi yang minta saya untuk masak yang enak. Saya masak agak banyak, sayang kalau misalkan cuma di makan sendiri. Gak bakalan habis."


Izza kira dengan alasan itu akan membuat Deon berubah pikiran.


"Kalau begitu kamu bisa bagi ke tetangga."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Deon langsung menutup pintu kamarnya.


"Pak! Pak Deon!"


Izza mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Ia tahu hal seperti ini tidak harus ia lakukan. Sebagai seorang pembantu seharusnya ia tidak perduli majikannya mau makan masakan yang sudah di buatnya atau tidak. Yang terpenting ia sudah melakukan tugas yang seharusnya. Tapi situasinya berbeda, karena itu menyukai majikannya, jadi harus ada effort untuk membujuk pria itu. Tapi sayangnya Deon tetap menolak, jadi ia tidak bisa jika harus memaksanya.


Izza berjalan lunglai menuju meja makan. Ia terlihat tidak ada semangat makan sendiri. Sebab sejak hari kemarin ia makan bareng dengan majikannya, membuatnya ketagihan untuk makan satu meja lagi.


Wanita itu jatuh terduduk di kursi makan. Ia memandangi masakannya di atas meja yang masih mengepul. Bukannya ia haus pujian, hanya saja pujian dari Deon akan masakannya membuatnya jadi makin semangat untuk masak.


"Aku lapar. Tapi aku malas makan sendirian," ujar wanita itu.


Izza melipat tangannya di atas meja untuk ia jadikan sebagai bantalan kepala. Akhirnya masakannya hanya di pandangi sampai dingin dan tidak jadi di makan. Rasa kantuknya kembali datang. Perlahan kelopak matanya menutup dan ia tertidur.


Deon tidak mendengar suara apapun lagi dari luar kamar. Suasana cukup hening. Amarah pria itu perlahan mereda begitu ia mendengar suara perutnya keroncongan. Tadi pagi ia memang melewatkan sarapan sehingga cacing perutnya mulai meronta.


Tanpa banyak pikir lagi, Deon bergegas keluar kamar pergi menuju ruang makan. Belum sampai di sana, dari kejauhan ia melihat Izza masih di sana. Deon perlahan jalan mendekat dan mendapati wanita itu tengah tertidur.


Deon melihat apa yang ada di atas meja makan. Semuanya masih terlihat utuh belum sempat tersentuh.


"Izza belum makan? Terus dari tadi dia ngapain di sini sampai tertidur?"


Deon memandang wajah Izza yang sedang tertidur. Melihat anak sulur rambut terurai menutupi wajahnya. Perlahan tangan Deon bergerak dan mengalihkan anak rambut yang menutupi wajah Izza, menyelipkan ke daun telinga. Ia melakukannya tanpa sadar.


"Apa kamu menungguku sampai tertidur?" kata pria itu di akhiri dengan senyum tipis.


Deon terus memandangi wajah Izza. Jika ia lihat dengan jarak sedekat ini, wanita itu sangat cantik di seusianya yang sudah tiga puluh empat tahun namun masih terlihat seperti usia tiga puluh ke bawah.


Tiba-tiba kelopak mata Izza bergerak. Deon dengan cepat mengangkat wajahnya yang tadi masih memegangi rambut wanita itu.

__ADS_1


Deon hendak pergi dari sana, tapi sayang Izza sudah lebih dulu bangun.


"Pak Deon," ucap Izza seraya mengucek mantanya memastikan tidak ada kotoran.


Deon pura-pura melihat ke arah lain dan ia terlihat sedikit gugup.


"Maaf, pak. Saya ketiduran," ucap Izza lalu bangkit dari duduknya.


"Ah iya, gak apa-apa," jawab pria itu datar.


Izza melihat makanannya masih utuh, itu artinya pria itu belum makan.


"Em .. Pak Deon sejak kapan berdiri di sini? Pak Deon belum mau makan juga?"


Deon mengabaikan pertanyaan Izza yang pertama, namun di pertanyaan kedua belum sempat ia jawab, tapi perutnya sudah mewakili dirinya.


Krubuk krubuk krubuk ..


Suara itu jelas terdengar oleh Izza. Dia jadi malu karena Izza mengulum senyum mendengar suara cacing perutnya meronta.


"Masih belum selera makan kah?" tanya Izza sedikit menyindir pria itu.


Deon sudah tidak bisa menyembunyikan rasa laparnya. Dia menarik salah satu kursi dan mendaratkan dirinya duduk di sana.


Izza tersenyum senang. Tidak sia-sia ia tidur dan tidak makan sendiri tadi. Meskipun makanannya sudah dingin, tapi tidak akan menghilangkan cita rasanya.


"Mau saya hangatkan dulu makanannya?" Izza memberi penawaran.


"Gak usah," tolak pria itu.

__ADS_1


Izza tadinya berinisiatif untuk mengambilkan makanannya untuk pria itu, tapi Deon lebih dulu mengambil sendiri. Itu bukanlah masalah, yang terpenting ia bisa makan semeja berdua lagi.


_Bersambung_


__ADS_2