GAIRAH PEMBANTUKU

GAIRAH PEMBANTUKU
GP34


__ADS_3

Deon menunggu Izza di mobil sementara wanita itu mengobrol bersama beberapa pengurus panti dan pemilik panti usai proses pemakaman selesai. Tidak lama kemudian wanita itu kembali ke mobil dengan raut wajah yang tidak bisa menyembunyikan kesedihan.


"Jangan sedih. Do'akan saja semoga beliau tenang di alam sana," ucap Deon.


Izza mengangguk dan menatap pria yang duduk di sampingnya. "Iya."


Deon lekas menghidupkan mesin mobil, dan mulai menekan pedal gas meninggalkan parkiran TPU tempat peristirahatan terakhir pengurus panti yang mengasuh Izza.


"Kamu kenapa mengaku sebagai suami aku di depan mereka?" Pertanyaan Izza membelah keheningan perjalanan pulang.


Deon menatap Izza sekilas, sebelum ia fokus lagi ke jalan.


"Aku cuma mau mereka tahunya kamu sudah memiliki kebahagiaan di luar sana."


Jawaban Deon cukup masuk akal. Tapi ia jadi teringat akan obrolannya tadi dengan para pengurus panti.


"Bu panti menawari aku untuk jadi pengurus panti di sana."


Ckiitt ..


Kalimat Izza barusan membuat pria itu harus menekan rem secara mendadak dan membuat wanita itu terkejut.


"Ada apa?" seru wanita itu.


"Kamu jawab apa sama mereka?" Deon menatap kedua manik mata Izza secara bergantian berharap Izza menolak penawaran mereka.


"Aku jawab akan pikir-pikir dulu dan minta izin sama suami aku."


"Aku gak izinin kamu," sahut Deon cepat.


"Kamu kan bukan suami aku dan itu cuma alasan aku aja."


"Tapi aku majikan kamu dan aku punya hak untuk tidak memberi izin."


Izza diam. Pria itu memang akhir-akhir ini jadi posesif dengannya. Seolah-olah ia adalah istrinya beneran. Tapi jika di pikir-pikir Izza tertarik dengan tawaran ibu panti untuk menjadi pengurus panti tempat ia tinggal untuk menggantikan pengurus panti yang meninggal. Tapi mungkin tidak sekarang dan dalam waktu dekat ini.


"Aku bakalan pikirin ini nanti."


"Kenapa mesti dipikirin?"


"Karena akus tertarik."


Giliran Deon yang diam. Entah kenapa ia tidak rela jika Izza mengambil keputusan untuk menjadi pengurus panti di sana. Sebab itu artinya Izza tidak akan bekerja lagi di rumahnya. Ia belum siap kehilangan wanita itu, apalagi sekarang ia sudah mulai ada rasa.


Deon melanjutkan lagi perjalanannya. Kini tidak ada obrolan di antara keduanya. Deon kecewa jika Izza benar-benar mengambil keputusan untuk keluar dari rumahnya dan memilih untuk kembali ke panti.


Sampai di rumah Deon mendiamkan Izza. Tetapi Izza tidak merasa jika pria itu sedang kesal padanya sebab ia tidak merasa telah membuat kesalahan. Sebenarnya berat juga jika pada akhirnya ia akan meninggalkan rumah ini dan berpisah dengan pria itu. Tapi ia juga ingin mengabdikan diri di tempat dimana ia tinggal dulu. Segan rasanya jika harus menolak permintaan seseorang yang memberikan tempat tinggal untuknya dulu.

__ADS_1


Sudah jam lima sore. Deon belum menerima kabar lagi dari orang suruhannya. Begitu ia cek ponselnya ternyata ponselnya yang mati akibat kehabisan baterai. Buru-buru ia mencari charger dan sudah tidak sabar ingin menyalakan ponselnya. Siapa tahu ada kabar terbaru mengenai istrinya.


Benar saja, begitu ia buka ponselnya, banyak panggilan masuk tak terjawab dari orang suruhannya, serta spam chat.


Pak Deon.


Pak.


Pak, kenapa tidak jawab telepon saya?


Pak.


Pak, saya berhasil mengikuti bu Adell dengan pria yang dia temui. Mereka sekarang sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat.


Pak, bu Adell dan pria itu masuk ke hotel.


[mengirim foto]


Pak, saya berhasil mengikuti sampai dalam.


Bu Adell dan pria itu masuk ke kamar yang sama, pak. Mereka terlihat mesra.


[mengirim foto]


Deon melihat foto yang di kirim oleh suruhannya, dimana Adell dan seorang pria memasuki sebuah kamar hotel sambil bergandengan tangan. Raut wajah keduanya tampak happy.


Deon membanting ponselnya ke lantai hingga pecah hancur dan berserakan. Dia melampiaskan kemarahannya dengan memukuli tembok dan mengeluarkan darah segar dari setiap tulang jemarinya.


Pria itu masih tidak menyangka jika Adell tega melakukan ini padanya. Mungkin ini alasan kenapa Adell tidak mau punya anak.


Tok tok tok ..


"Deon, kamu kenapa?" Terdengar Izza memanggil namanya dari luar kamar.


"Deon .."


Izza mengetuk-ngetuk pintu berulang kali sambil meneriakkan nama pria itu. Tapi Deon tak kunjung keluar kamar. Ia khawatir mendengar Deon berteriak dan memukuli tembok seperti beberapa hari lalu.


Deon mengabaikan panggilan Izza. Ia tidak ingin menemui wanita itu dalam keadaan marah seperti ini. Karena ia tidak ingin Izza menjadi sasaran atas kemarahannya. Kebetulan Izza juga baru saja membuatnya kesal. Ia tidak ingin melukai wanita itu.


Tiba-tiba ia mendengar suara mobil yang berhenti di halaman rumah. Suara mobil itu tentu saja tak asing di telinganya. Ia bergegas membuka pintu kamar melewati Izza begitu saja.


Izza terkejut Deon keluar kamar secara tiba-tiba dan nyaris menabraknya.


"Ada apa dengannya? Apa yang membuatnya bisa semarah ini?"


Pertanyaan itu memenuhi seisi kepala Izza. Ia berjalan mengikuti langkah pria itu.

__ADS_1


Sampai di tengah rumah, Deon mendapati Adell masuk ke dalam rumah. Adell tersenyum sambil menyapa suaminya dan tidak menyadari kemarahan pria itu.


"Hai, sayang .."


Adell akan memeluk pria itu tapi tangannya di tepis dengan kasar. Tentu saja ia merasa kebingungan.


"Sayang, kamu kenapa?" seru wanita itu.


"Jadi ini alasan kenapa kamu gak mau punya anak setiap kali aku memintanya."


Adell mengerutkan dahinya bingung.


"Apa, sih? Kenapa kamu marah-marah gak jelas, sayang?"


"Gak jelas? Jelas aku marah karena kamu selama ini selingkuh dari aku, Adell! Barusan kamu dari hotel dengan selingkuhan kamu kan?"


"Sa-"


"Mau nyangkal gimana lagi? Aku sudah tahu semuanya dan bodohnya aku, percaya kalau insial S yang kamu bilang itu Sinta sahabat lama kamu, padahal dia selingkuhan kamu juga kan? Berapa banyak pria yang kamu pacari tiduri diluar sana?"


Adell bungkam. Ia masih bingung darimana Deon bisa tahu ini semuanya. Tapi mungkin ini sudah saatnya ia jujur jika selama ini ia memang ada main api di belakang suaminya.


"It's okay, kamu benar. Maaf-"


"Maaf? Selingkuhan di balas dengan maaf itu curang."


Deon melihat Izza menguping pembicaraannya. Kemudian, ia hampiri wanita itu, menarik tangannya mengeluarkan dari persembunyian dan memperlihatkannya pada Adell.


"Selingkuh harus dibalas dengan perselingkuhan," imbuh pria itu.


Di depan Adell, Deon mencium bibir Izza dan berciuman hingga wanita itu shock. Tidak menyangka jika selama ini suaminya akan melakukan hal yang sama seperti dirinya. Tapi yang lebih membuatnya terkejut, suaminya selingkuh dengan seorang pembantu.


Selain Adell, Izza pun cukup terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Deon padanya di depan wanita itu langsung. Hal itu membuat senam jantung karena ia takut dengan amukan Adell.


Alih-alih marah dan tidak terima, Adell justru malah tersenyum bahkan tertawa. Itu cukup membuat Deon dan Izza terheran-heran.


"Dasar playing victim!" ujar Adell.


"Kamu marah-marah gak jelas sama aku karena aku selingkuh dari kamu. Tapi nyatanya kamu sendiri selingkuh sama pembantu sendiri. Selingkuh yang tidak berkelas," imbuh wanita itu.


Adell berjalan melewati mereka menuju kamar seolah tidak terjadi sesuatu. Tiga menit berikutnya Adell keluar dari kamar dengan membawa sebuah koper.


"Aku tidak masalah kalau kamu mau ceraikan aku. Aku gak rugi kok. Toh, kamu juga selingkuh sama pembantu kamu itu kan? Selamat menikmati perselingkuhan kamu dengan pembantumu, Deon."


Adell melambaikan tangannya sebelum pergi dari sana. Deon sama sekali tidak bicara sepatah katapun. Juga tidak mencegah kepergian Adell. Entahlah, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia memilih untuk masuk ke kamarnya, meninggalkan Izza sendiri.


Izza ingin mencegah pria itu. Tapi rasanya tidak perlu. Ia membiarkan pria itu sendiri. Apa yang barusan Deon lakukan terhadap dirinya di depan Adell, membuktikan jika ia hanya sosok pelampiasan pria itu saja. Mungkin, ia harus membuang jauh-jauh perasaannya mulai saat ini. Dan juga menjauh dari pria itu. Selain itu, ia juga akan mengambil keputusan mengenai tawaran ibu panti.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2