
"Za .. Bangun, Za. Kita sarapan dulu sama anak-anak," ucap seseorang sambil menepuk pundak wanita yang tengah tidur.
Kelopak mata Izza langsung terbuka lebar, ia melihat seseorang yang berdiri di depannya, lalu bangun duduk dan menatap ke sekeliling kamar. Tidak berapa lama, terdengar hembusan napas di sertai dengan mengusap wajahnya.
"Ternyata semua hanya mimpi," ucapnya merasa lega.
"Mimpi apa?" tanya wanita yang barusan membangunkannya.
Izza menoleh ke wanita tersebut kemudian menggelengkan kepala diringi senyum kecil.
"Enggak, bukan apa-apa," jawab Izza.
"Oh ya sudah, kalau begitu kamu bersih-berdih dulu. Setelah itu kamu gabung untuk sarapan bersama."
"Iya, bu. Terima kasih," ucap Izza.
Wanita itupun kemudian pergi dari sana. Izza termenung sejenak. Mimpi semalam terasa sangat nyata. Ia sangat lega ketika ia terbangun dan semua yang ia alami hanya mimpi belaka.
Usai memutuskan untuk menerima tawaran pemilik panti untuk menjadi salah satu pengurus panti di tempat dimana ia di besarkan, Izza langsung menemui pemilik panti tersebut. Baik pemilik panti maupun pengurus panti yang lain dengan senang hati dan menyambut hangat dirinya.
__ADS_1
Ia sudah izin pada Deon. Pria itu berat untuk memberinya izin pergi dan keluar dari rumahnya. Tapi Deon tidak bisa memaksakan kehendak. Apapun keputusannya, pria itu terima.
Sudah hampir satu minggu ia tinggal di panti dan menjadi salah satu pengurus di sana. Ia juga menceritakan yang sebenarnya tentang Deon pada mereka. Jika pria itu bukanlah suaminya, melainkan majikan tempat ia bekerja. Beberapa dari mereka tidak menyangka kalau seorang majikan bisa mengatakan hal itu untuk asisten rumahnya. Ada yang bilang jika mereka cocok jika benar suami istri. Tapi Izza tidak cerita jika majikannya sudah mempunyai istri dan ia telah menjadi bagian yang sudah merusak rumah tangga mereka. Biarlah, itu menjadi privasi dirinya. Tidak perlu di ceritakan yang nantinya akan mengundang ujaran kebencian.
Baginya, ini jalan terbaik yang sudah ia pilih dan pikir matang-matang. Sebagai seseorang yang pernah di besarkan di tempat tersebut, sudah seharusnya ia berbalas budi kepada mereka yang berjasa. Bukan berarti ia tidak berhak mendapatkan kebahagiaan di luar sana. Tapi ini sudah menjadi keputusan pribadi. Setelah keluar dari rumah Deon, ia tidak pernah lagi bertemu ataupun berhubungan melalui telepon atau via apapun. Ia benar-benar akan melupakan pria itu meskipun berat.
***
Satu bulan berlalu.
Izza mendapat informasi tentang Deon. Pria itu mengalami kecelakaan. Entah kenapa ia ingin pergi ke rumah sakit tempat dimana pria itu di larikan.
Seketika Izza teringat kebahagiaan singkat yang pernah ia lalui bersama pria itu. Senyum dan tawa pria itu masih terukir jelas di dalam ingatannya. Tanpa ia sadari, perasaan yang ia buang jauh-jauh itu ternyata masih ada.
"Kamu siapa?"
Izza refleks menyeka air matanya saat seorang wanita tiba-tiba berdiri di sisinya.
"Bukan siapa-siapa," jawab Izza sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Terus kenapa kamu memperhatikan mas Deon?" tanya wanita itu lagi.
"Maaf .."
Hanya itu yang keluar dari mulut Izza. Ia berpikir wanita yang baru saja memanggil pria itu dengan sebutan 'mas' adalah istri barunya. Dan seharusnya ia tidak datang apalagi sampai menangis untuk pria itu.
"Permisi .." pamit Izza memutuskan untuk pergi dari sana, ia tidak ingin menjadi penghancur rumah tangga seseorang untuk yang kesekian kali.
"Tunggu!"
Wanita itu menarik lengannya, menghentikan langkahnya seketika.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Kamu siapa? Kenapa kamu memperhatikan mas Deon?" ulang wanita itu dengan tegas.
Izza menundukkan wajahnya. "Saya kira saya salah jenguk pasien. Permisi."
"Apakah kamu orangnya?" seru wanita itu.
Izza tidak mengindahkan seruan wanita itu, ia tidak ingin lagi di tuduh sebagai wanita penghancur rumah tangga orang. Lebih baik ia fokus untuk kehidupan barunya.
__ADS_1
_Bersambung_