GAIRAH PEMBANTUKU

GAIRAH PEMBANTUKU
GP 22


__ADS_3

Kelopak mata Izza perlahan mulai bergerak dan ia terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali ketika cahaya lampu menusuk kornea matanya. Mantanya baru terbuka setengah dan seketika ia ingat apa yang ia lakukan bersama majikan prianya.


Kedua mata wanita itu spontan terbuka sempurna dan ia sontak bangun duduk di atas tempat tidur. Ia menatap ke sekeliling ruangan, ternyata ia sudah ada di kamarnya. Lalu ia melirik jam dinding, waktu sudah menunjukkan jam empat pagi. Kebetulan listrik sudah nyala dan hujan yang di iringi petir juga sudah tidak terdengar.


Rupanya Deon memindahkan dirinya ketika ia sedang tidur pulas. Padahal seingat dirinya, ia tidur di lengan pria itu di atas ranjang berdua di kamar pria itu juga.


Izza memejamkan matanya sambil mengusap wajah di sertai dengan ulasan senyum. Kemudian ia meraba tubuhnya yang di sentuh oleh Deon. Rasanya bahagia sekali dan ia tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi. Ia tidak akan pernah melupakan kejadian tadi malam.


Cara Deon mencium dan setiap sentuhan pria itu membuatnya merinding geli nikmat. Kemudian ia melihat tangannya yang ia gunakan untuk memainkan burung pria itu sampai memuntahkan cairan kenikmatan.


Karena gelap, ia tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana bentuk milik pria itu. Tapi ia bisa merasakan begitu keras, besar, dan panjangnya aset berharga Deon.


Hanya dengan membayangkan ulangnya lagi saja sudah membuat Izza basah. Apalagi ketika ia melakukannya tadi malam, ia merasakan bagian intimnya basah sekali.


"Ah .. Pak Deon .. Andaaaii .."


Izza membayangkan sesuatu yang lebih daripada yang mereka lakukan. Namun itu saja sudah mampu membuatnya terbuai ke dalam hasrat keduanya.


Wanita itu bergegas bangun dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan bagian intimnya. Ia juga harus segera ke dapur untuk memulai aktivitas rutinitasnya. Selain itu, ia juga ingin cepat bertemu lagi dengan pria itu. Ia ingin tahu seperti apa reaksi Deon ketika nanti mereka bertemu setelah melewati malam panjang bersamanya.

__ADS_1


Izza membuat sarapan untuk pagi dengan penuh semangat dan pastinya spesial. Ini sudah hampir menunjukan pukul enam. Ia yakin sebentar lagi majikannya akan segera datang ke meja makan.


Dan benar saja, lima menit berikutnya Deon datang ke meja makan dengan pakaian yang sudah tampak rapi sekali dengan stelan jas kantornya.


"Selamat pagi, pak Deon," sapa Izza dengan senyum di bibirnya.


"Gak usah caper deh jadi orang," sahut seseorang yang datang dari belakang Deon.


Senyum Izza langsung memudar melihat majikan perempuannya pun ikut datang ke meja makan untuk sarapan. Seketika ia melihat ke arah Deon, ia kira pria itu akan menegur ucapan istrinya terhadap dirinya.


Namun, Deon terlihat cuek sekarang. Dia terlihat seolah tidak terjadi apa-apa semalam dengan dirinya.


Mereka berdua duduk, sementara Izza masih berdiri di tempat yang tidak jauh dari kursi makan mereka.


"Baby, kamu sarapan sandwich atau roti cokelat aja?" tawar Deon pada istrinya.


"Emm .. Roti cokelat saja," jawab Adell.


Deon mengambil sepotong roti yang sudah Izza oles dengan nuttela cokelat. Kemudian Deon menyuapi istrinya di hadapan Izza dan cokelatnya sedikit berantakan di bibir wanita itu. Deon mengusap cokelat di bibir Adell menggunakan ibu jarinya, kemudian mengecup cokelat di ibu jarinya tersebut.

__ADS_1


"Enak?" tanya pria itu.


"Enak. Mau lagi, sayang," pinta Adell dan Deon pun menyuapi lagi istrinya.


Izza masih mematung di tempat sambil menyaksikan kemesraan kedua majikannya. Jangankan mengajaknya untuk ikut gabung sarapan bersama, melirik dan menganggap keberadaannya pun tidak.


Cairan putih bening menggenang di pelupuk mata Izza. Entah kenapa rasanya sakit sekali melihat mereka semesra ini di hadapannya setelah apa yang terjadi tadi malam. Ia jadi berpikir sebenarnya kejadian itu nyata atau hanya mimpinya belaka.


"Hei, ngapain kamu masih berdiri disitu?" cetus Adell memasang wajah kurang suka.


Izza terbangun dari segala pemikirannya. Ia menahan diri supaya bulir air matanya tidak sampai jatuh menetes.


"Maaf, bu, pak. Kalau begitu, saya permisi," pamitnya kemudian.


Izza membalikan badan dan setitik air matanya luruh jatuh menetes ke lantai. Ia buru-buru pergi dari sana.


Deon memandang punggung kepergian Izza untuk seperkian detik. Sebelum kemudian ia fokus lagi pada makanan dan istrinya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2