GAIRAH PEMBANTUKU

GAIRAH PEMBANTUKU
GP 17


__ADS_3

Deon mencari surat struk pembayaran hotel yang Izza maksud di lemari pakaian sebab ia tidak melihat ketika istrinya menaruh uang yang Izza temukan di blazer nya.


Berulang kali Deon mencarinya di bawah lipatan baju, namun ia tidak menemukan apa yang saat ini ia cari. Ia lekas beralih ke tempat tidur. Membuka bantal dan menggibaskan selimut. Siapa tahu Adell melemparnya ke atas tempat tidur. Namun di sana tidak ada juga.


Setelah itu dia beralih pada nakas dan mulai membuka laci paling atas. Ia menemukan ada uang dan ia berhenti sejenak.


Perlahan Deon ambil uang itu dan secarik kertas jatuh ke lantai. Dengan cepat Deon memungut kertas tersebut. Dan ternyata itu kertas yang ia sedang cari.


Deon meletakan uang nya ke atas kasur. Fokus matanya kini hanya pada secarik kertas di tangan kirinya.


"Struk pembayaran hotel tiga minggu yang lalu?"


Pria itu tertegun sejenak. Mengingat tiga minggu lalu Adell pergi kemana. Deon melihat lagi tanggal dan hari di struk itu. Dan ternyata di tangga dan hari itu ia yang pergi keluar kota untuk bertemu klien.


"Jadi waktu aku keluar kota, Adell nginap di hotel?" pikir pria itu.


"Adell sama sekali gak bilang kalau dia nginap di hotel. Apa ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku?"


Deon mulai ada sedikit curiga. Tapi ia berusaha untuk tetap berpikir jernih. Ia tidak boleh berpikir macam-macam dulu sebelum ia tanyakan langsung pada istrinya. Takutnya apa yang ia pikirkan jatuhnya fitnah. Curiga boleh, menuduh jangan.

__ADS_1


Deon mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi istrinya kembali. Tiba-tiba suara petir yang menyambar membuat jaringan hp nya hilang.


"Argh .. Siall .." umpat pria itu.


Hujan turun mengguyur ibu kota dengan sangat deras. Di luar rumah bahkan gelap gulita. Cuaca memang sulit sekali untuk di tebak. Tadi siang masih panas, sekarang hujan turun di sertai dengan angin petir.


Seketika Deon teringat akan Izza yang masih di taman belakang. Apa wanita itu sudah masuk ke dalam rumah atau masih di taman. Ia pun bergegas memastikan wanita itu setelah menyimpan struk bukti pembayaran hotel di lemari pakaiannya.


Deon melihat Izza baru saja memasuki pintu dengan pakaian basah kuyup. Dia terlihat menahan kedinginan.


Perhatian Deon teralih pada dada Izza yang terlihat sangat jelas. Akibat bajunya basah, jadi bajunya mengetat, memperlihatkan tonjolan buah kembar yang cukup besar dan juga gundukan daging kenyal di area bagian bawah perut.


"Ah ya ampun Izza. Aku kan sudah bilang cepat masuk rumah sebelum hujan turun," seru pria itu kemudian.


Izza tidak mungkin masuk ke dalam rumah dalam keadaan basah kuyup. Yang ada lantai basah dan licin.


"Sebentar, aku ambilkan handuk dulu."


Deon menahan langkah Izza untuk diam di tempat. Wanita itu masih berdiri di ambang pintu menunggu majikan prianya. Tidak lama Deon kembali dan membawa handuk.

__ADS_1


"Ini, keringkan dulu tubuh kamu."


Deon memberikan handuk putih besar pada Izza. Wanita itu tidak segera mengambilnya.


"Itu bukan handuk saya, pak."


"Gak apa-apa. Pakai dulu punyaku. Handuk kamu aku gak tahu kamu simpan dimana."


Deon mengulurkan handuknya pada Izza. Wanita itu sebenarnya merasa segan karena harus memakai handuk pria itu. Tapi dalam hati ia juga tidak bisa menahan rasa senangnya.


"Terima kasih," ucap wanita itu.


Izza menerima handuk tersebut dan mulai mengeringkan tubuhnya mulai dari rambut.


Deon masih berdiri di sana. Entah kenapa, ujung ekor matanya sesekali melihat ke area gundukan gunung kembar dan gundukan daging kenyal yang satunya lagi.


Tidak bisa di pungkiri melihat tubuh Izza bisa membuatnya sebagai pria normal merasakan hal lain. Tanpa ia sadari, jika adik kecilnya yang tengah tertidur di balik celana perlahan mulai bangun dan berdiri.


Gluk!

__ADS_1


Deon sampai menelan salivanya sendiri, jakunnya terlihat naik turun menahan sesuatu.


_Bersambung_


__ADS_2