GAIRAH PEMBANTUKU

GAIRAH PEMBANTUKU
GP 18


__ADS_3

Usai mengeringkan tubuhnya Izza berniat untuk pergi ke kamar mandi. Namun ketika hendak melangkah, dia terpeleset akibat air yang dari tubuhnya yang berceceran ke lantai.


"Aaa .."


Beruntung dengan sigap Deon menangkap tubuh Izza sehingga wanita itu tidak sampai terjatuh. Jantung Izza berpacu di atas normal karena ia masih kaget. Di tambah lagi kini sepasang mata mereka saling temu dan bertatapan.


Bola mata Deon tiba-tiba turun ke bawah dan gunung kembar Izza semakin jelas terlihat dalam jarak yang cukup dekat. Lagi-lagi ia harus meneguk ludah sendiri.


Izza melihat jakun di leher pria itu naik turun, ia tidak tahu apa yang sedang pria itu pikirkan tentang dirinya. Dengan cepat Izza menegakan dirinya. Perlahan Deon melepaskan tangannya dan kini mereka berdua terlihat canggung.


"Terima kasih sudah menolong saya, pak," ucap Izza kemudian.


Deon mengangguk tanpa berani melihat ke arah wanita itu lagi. "Iya. Hati-hati."


"Baik, pak. Kalau begitu saya permisi ke kamar mandi dulu," pamit Izza di angguki oleh Deon.


"Ya. Silahkan."


Izza pun melipir pergi dengan membawa handuk yang tadi. Setelah Izza pergi, Deon merasa ada yang aneh dari dirinya.


"Apa yang kamu pikirkan, Deon?"


Pria itu berusaha menyadarkan dirinya. Ia berusaha menepis pemikirannya saat ini.


Kemudian dia merasa bajunya ikut basah akibat menangkap tubuh Izza barusan yang hampir terjatuh. Akhirnya ia pun pergi dari sana untuk mengganti pakaiannya.


Usai mengganti pakaiannya, Izza berinisiatif membuatkan kopi untuk Deon dan teh manis hangat untuk dirinya. Ia berjalan mencari sosok pria itu dan ia mendapati Deon tengah duduk di sofa ruang televisi dan tengah menonton siaran drama sambil makan kacang di toples.


Deon sedikit terkejut dengan kedatangan wanita yang membawa dua cangkir di tangannya karena rambutnya di gerai dan mungkin karena basah. Biasanya Izza akan mengikat rambutnya kuncir bawah.

__ADS_1


"Ini kopi untuk pak Deon."


Izza meletakkan cangkir kopi di tangan kanannya ke atas meja hadapan pria itu.


"Iya, terima kasih," ucap Deon masih terkesima memandang wajah Izza dengan penampilan rambut saat ini.


Izza hanya menganggukan kepalanya. Lalu dia berniat untuk pergi ke kamarnya.


"Eh, kamu mau kemana?" cegah Deon.


Izza membalikan badan. "Mau ke kamar."


"Sini, duduk. Biar ada teman nonton," pinta pria itu.


Izza tidak akan pernah menolak permintaan majikan prianya. Dengan senang hati ia duduk di sofa dengan jarak muat untuk satu orang duduk di tengah-tengah mereka.


"Pak Deon suka drakor?"


"Hm."


"Agak aneh, ya."


"Apanya yang aneh? Justru menurutku drakor itu the best drama. Apalagi kalau genrenya thriller," jawab pria itu.


"Tapi ini genrenya romance, pak."


"Iya, kebanyakan yang tayang di televisi genrenya romance. Kamu suka drakor juga?"


"Gak terlalu. Saya lebih suka baca komik."

__ADS_1


Jawaban Izza menarik perhatian Deon, pria itu memandang wajah Izza untuk beberapa saat. Ia tidak menyangka jika Izza lebih suka komik di banding drakor. Biasanya wanita tergila-gila akan drakor.


Keduanya kembali fokus pada layar televisi. Sesekali Izza menyeruput teh manisnya. Sementara Deon tak henti-hentinya nyemil kacang.


Sampai akhirnya, ada sebuah adegan yang membuat suasana terasa hening. Padahal suara deras hujan dan petir yang berulang kali menyambar terdengar begitu keras.


Drama tersebut menampilkan adegan ciuman sepasang kekasih. Dimana ceritanya si pria adalah seorang psikopat yang begitu terobsesi terhadap pacarnya.


Deon dan Izza mulai larut dalam adengan tersebut karena tidak tahu harus apa di situasi seperti saat ini. Tidak bisa di pungkiri, melihat adegan tersebut membuat keduanya ikut tenggeleng ke dalam hasrat.


"Aku hanya ingin kau menjadi miliki, Park Seol. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu dariku," bisik si pria itu lalu tanpa aba-aba menancapkan pisau di perut di wanitanya.


Adegan itu berlangsung berbarengan dengan suara petir yang menyambar dan Izza refleks memeluk Deon saking kagetnya.


"Aaaa .." teriak Izza.


Wanita itu berteriak karena tidak kuat melihat adegan tersebut sekaligus kaget karena ada suara petir yang cukup keras.


Lebih kaget lagi Deon. Saat itu miliknya sedang bereaksi akibat melihat adegan ciuman pasangan tersebut, Izza tiba-tiba malah menghambur memeluknya.


"Mmp .." Deon mengatupkan bibirnya dan menahan sesuatu dalam dirinya.


"Aaa kenapa harus ada adegan pembunuhan yang sadis sekali .."


Izza semakin mempererat pelukannya. Ia tidak bisa melihat adegan kekerasan. Wanita itu tidak mau diam, semakin lama tangannya semakin erat memeluk tubuh majikannya. Hingga tidak sadar jika tangannya menyenggol aset tertinggi Deon.


"Mhh .." Lagi-lagi Deon menahan diri karena Izza menyenggol asetnya yang sudah mengeras sejak adegan ciuman itu.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2