
Keesokan paginya Deon melewatkan sarapan untuk kali ini. Dia ada meeting pagi dengan kliennya. Izza sedikit kecewa karena sarapan yang sudah ia buatkan tidak tersentuh oleh Deon. Padahal ia sudah bangun pagi buta dan semalam ia baru bisa tidur jam dua dini hari. Akhirnya dia sendiri yang sarapan.
Setelah selesai membereskan sarapan bekas dirinya. Izza memutuskan untuk mencuci pakaian. Setiap dua kali sehari ia akan mencuci pakaian majikannya. Namun, baru kali ini ia menemukan ada uang di pakaian majikan perempuannya. Tidak hanya ada uang cash, ia juga menemukan struk pembayaran hotel di saku blazer itu.
"Struk pembayaran hotel?" pikir wanita itu.
Izza memberanikan diri untuk membaca tulisan di struk tersebut. Matanya tertuju pada waktu tanggal di struk itu.
"Ini struk pembayaran hotel tiga minggu lalu, sebelum aku kerja di sini berarti."
Izza mengantongi uang yang ia temukan di saku blazer itu untuk ia kembalikan nanti ketika majikannya sudah pulang. Kemudian ia berjalan ke tong sampah untuk membuang struk tersebut.
Namun, setelah sampai di depan tong sampah yang tidak jauh dari keberadaan mesin cuci, tiba-tiba saja dia berubah pikiran dan tidak jadi membuangnya.
"Apa aku kembalikan uangnya sama struk ini saja, ya. Siapa tahu ini penting," pikir Izza lekas mengantongi struk itu.
__ADS_1
Izza tidak berpikir apapun lagi, dia langsung mulai mencuci pakaian majikannya.
Sambil menunggu mesin cuci nya berhenti sampai selesai. Ia menggunakan waktunya untuk membersihkan rumah dan yang lainnya. Tidak terasa, ketika semua tugas rumahnya selesai ia kerjakan, mesin cuci pun berhenti dan pakaian siap di jemur.
Karena ia semalam hanya tidur beberapa jam, paginya ia masih mengantuk. Oleh karena itu, setelah ia selesai menjemur pakaian, ia memilih untuk tidur.
Sementara itu, seseorang masuk ke dalam dengan pakaian yang sedikit berantakan. Begitu dia pulang ke rumah, ia sama sekali tidak melihat siapapun di rumahnya.
"Baguslah jika bi Izza tidak melihat aku pulang," ujar orang itu sebelum kemudian dia bergegas masuk ke kamarnya.
"Ahh .. Menyenangkan sekali .." ucap wanita itu di iringi dengan senyum penuh bahagia.
Di tempat lain, Deon baru saja mengakhiri pertemuannya dengan klien. Berikutnya ia meminta sekretarisnya untuk menghandle pekerjaan tersebut.
"Jangan pernah membuat klien kecewa meskipun dia bukan klien besar!"
__ADS_1
"Baik, pak," jawab sekretarisnya mengerti.
Deon selalu memperingati sekretarisnya untuk tidak mengecewakan kliennya. Sebab ia ingin bekerja secara maksimal untuk siapapun kliennya. Ia tidak pernah membeda-bedakan atau pilih-pilih. Selama kliennya percaya untuk kerja sama dengan perusahaannya, makan ia akan berusaha memberi yang terbaik untuk mereka.
Seketika ia teringat akan istrinya. Pria itu merogoh benda pipih dibalik saku jas nya. Mendial nomer seseorang di sana.
Tidak lama kemudian, sambungan telepon sudah terhubung.
"Halo, sayang. Kamu sekarang dimana?"
Deon diam sesaat untuk mendengar suara Adell dari sebrang telepon.
"Oh sudah di rumah. Aku pikir kamu masih di tempat kamu nginap semalam. Ya sudah, kalau begitu aku pulang juga, ya."
Deon pun mengakhiri panggilan teleponnya. Ia bergegas untuk pulang menemui istrinya yang semalam meninggalkan dirinya hanya untuk urusan bisnis skincare nya.
__ADS_1
_Bersambung_