
Deon membaringkan tubuhnya kembali di atas sofa. Seketika ia sadar jika saat ini ia tengah bertengkar dengan istrinya. Deon kembali bangun dan duduk. Ia mulai kepikiran kemana perginya Adell sekarang.
Pria itu berjalan beberapa langkah guna mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas samping tempat tidur. Mendial nomer istrinya dan menempelkan benda pipih tersebut ke daun telinga.
Panggilan pertama nyambung, tapi malah di tolak. Di panggilan berikutnya nomernya sudah berubah tidak aktif.
"Sebegitu marahnya Adell sama aku, sampai dia gak mau jawab telepon aku."
Deon menggenggam ponselnya erat-erat di tangan kanannya. Ia duduk di tepi ranjang.
"Apa dia harus semarah ini sama aku hanya karena aku menginginkan seorang anak yang menurut aku ini hal yang wajar. Setiap pasangan yang menikah, pastilah semuanya juga menginginkan keturunan. Menikahi perempuan yang kita cintai, selain menjadikannya sebagai istri, tentu saja menjadikannya sebagai ibu dari anak kita."
Deon merasa kemarahan Adell tidaklah wajar. Padahal ini bisa di bicarakan secara baik-baik. Lagipula ia juga tadi menyampaikan permintaannya dengan baik-baik. Jika memang dia belum mau dan bicara dengan baik-baik, maka ia pun akan berusaha memahami. Dan bahas ini lagi nanti setelah merasa siap.
Entahlah, kepalanya mulai pusing memikirkan hal itu. Di tambah semalam ia kurang tidur. Karena tadi tidurnya sempat keganggu oleh kedatangan Izza, maka sekarang ia akan melanjutkan tidurnya.
***
Baru jam tiga matahari sudah meredup. Langit sedikit gelap akibat awan mendung. Tanda jika hujan akan segera turun.
Izza dengan cepat menyapu bagian taman yang sedikit berserakan akibat bunga dan daun dari pohon bongsai berguguran.
Izza mendengar suara derap langkah terdengar mendekat ke arahnya. Ketika ia lihat ternyata itu majikan prianya.
__ADS_1
"Ngapain di luar? Mau hujan."
"Tanggung, pak," jawab wanita itu.
Deon berjalan beberapa langkah. Kemudian ia duduk di bangku besi putih tidak jauh dari saat ini Izza menyapu.
"Bu Adell belum pulang, pak?" tanya Izza basa-basi untuk mengusir kecanggungan.
"Gak tahu mau pulang atau enggak. Kamu nanti kasih aja makanan yang tadi ke tetangga atau orang jalanan."
"Makanannya sudah habis. Saya buang karena tadi sisa tinggal sedikit. Gak tahu kemana perginya makanan itu. Saya kira bu Adell sudah pulang. Makanya tadi saya tanya sama pak Deon. Tapi mungkin tadi ada kucing atau semacamnya. Meja makan tadi sempat berantakan soalnya begitu saya tinggal ke kamar."
Ternyata Izza tidak berpikir jika ia yang mengambil makanannya. Baguslah jika Izza tidak curiga padanya.
"Kalau begitu lain kali saya masukin aja makanannya ke kulkas. Sayang kalau misal masih banyak di makan kucing."
"Iya. Maaf tadi gak kasih tahu kamu."
Syukurlah jika Izza percaya dengan apa yang ia katakan. Tak apa ia di anggap kucing oleh wanita itu. Yang penting ia sudah kenyang.
Izza seketika menghentikan aktivitasnya.
"Oh ya, bu Adell sering nginap ya, pak? Misal kalau lagi bertengkar bu Adell suka gak pulang ke rumah?"
__ADS_1
"Kenapa memangnya?" Deon merasa aneh kenapa Izza bertanya sejauh itu padanya.
"Mm .." Izza bingung harus memberi tahu soal struk pembayaran hotel yang ia temukan di blazer majikan perempuannya pada pria itu atau tidak. Tapi menurutnya tidak ada salahnya juga.
"Kenapa?"
Pertanyaan Deon menarik paksa Izza dari segala pemikirannya saat ini.
"Jadi begini, pak. Tadi pagi saya menemukan uang dan struk pembayaran hotel di saku bu Adell yang saya kembalikan tadi dan bu Adell marah karena saya tidak sengaja mengganggu ketika sedang-"
"Struk pembayaran hotel?" pungkas Deon.
Izza mengangguk membenarkan.
Deon diam sejenak. Sebelum kemudian ia beranjak pergi dari sana untuk mencari struk pembayaran hotel yang di maksud oleh Izza.
Izza mematung di tempat dan melihat pria itu tiba-tiba begitu saja.
"Pak Deon kenapa, ya?" pikirnya.
Izza merasakan hawa dingin akibat angin yang menandakan hujan akan segera turun. Ia mempercepat aktivitas nya agar selesai sebelum hujan benar-benar turun.
_Bersambung_
__ADS_1