
Sifat dan perlakuan Brian yang seperti inilah yang membuat Arumi merasa nyaman dan mampu bertahan sampai sejauh ini.
Makan siang yang sedikit terlambat pun berjalan dengan lancar dan Brian begitu menikmati.
"Aaaa." Brian menyodorkan sebuah suapan terakhir nya tepat di depan mulut Arumi. Arumi menerima suapan Brian dengan malu-malu. Brian tersenyum.
"Aku malu bang." Protes Arumi. Brian hanya tersenyum jahil.
Arumi menoleh ke kiri dan ke kanan, mendengar heboh nya pelanggan wanita yang ada di belakang lesehan tempat Arumi dan Brian duduk. Arumi yang membelakangi mereka sedangkan Brian duduk menghadap ke arah dimana tiga perempuan itu duduk.
Brian memasang wajah datar saja tak terganggu dengan kehebohan tiga perempuan yang berpakaian terbuka itu, sedikit pun tak berniat untuk melihat atau pun melirik, padahal tiga perempuan itu membuat sebagian pengunjung di sana menoleh termasuk Arumi.
Ketiga perempuan itu sedang asyik bercanda, mengobrol dan berfoto bersama, ketika Arumi menoleh ke belakang. Arumi hanya mampu menghela nafasnya, lalu melihat ke arah Brian yang memasang ekspresi biasa saja dan cuek masa bodo. Bahkan ia asyik saja mengemut permen mintz di mulut nya.
"Abang cuci tangan dulu ya." Ijin Brian pada Arumi.
"Memang makan nya sudah selesai?" Tanya Arumi memastikan.
"Sudah." Sahut nya seraya beranjak untuk pergi ke wastafel. Arumi mengangguk pelan. Dua perempuan mengikuti langkah Brian. Arumi maupun Brian tidak menyadarinya.
__ADS_1
Brian mencuci tangan nya, di belakang terdengar seperti suara perempuan tengah berbisik-bisik. Brian tak memperdulikannya, ia berpikir orang itu juga akan mencuci tangan nya seperti dirinya.
"Aku tahu kamu menyukai nya kan?" Bisikan itu pelan pada seorang perempuan yang ketahuan menyukai laki-laki berseragam loreng yang ada di hadapannya.
"Apa sih kamu!" Pura-pura tak terima padahal hati berbunga-bunga.
"Aku bisa tahu dari semua ekspresi dan tingkah laku mu." Bisik nya lagi.
Perempuan yang mendapatkan bisikan itu pun memegang kedua pipinya yang memerah. "Masa sih." Ujar nya malu-malu.
"Gunakan kesempatan ini dengan baik." Bisik nya tanpa ada pemberitahuan teman nya itu mendorong tubuh perempuan seksi itu pada Brian yang masih ada di depan nya.
Brian yang terdorong dari belakang pun dengan cepat membalikkan tubuhnya dan dengan sigap ia menangkap tubuh perempuan yang akan terjatuh itu.
Dan hap! Tubuh yang tadi terhuyung pun tertangkap oleh Brian membuat mereka saling berdekatan bahkan saling menatap karena jarak mereka yang begitu dekat.
Hembusan nafas yang tercium bau mint itu menyeruak pada hidung perempuan seksi itu, dan wangi tubuh di balut seragam loreng nya tercium aroma maskulin, seakan terbuai dengan nyaman nya, perempuan bernama Renata itu sampai memejamkan kedua matanya.
Brian yang melihat tingkah laku perempuan di depan nya langsung menarik tubuh langsing itu agar berdiri. Renata terkejut karena tarikan lengan lelaki itu pada pinggang nya yang cukup cepat dan kuat.
__ADS_1
"Hati-hati." Ucap Brian dengan ekspresi wajah datar nya.
Renata menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya dengan anggun. "Maaf, tadi ada seseorang yang mendorong ku." Jelas nya dengan salah tingkah.
"Emh tidak apa-apa." Sahut Brian cuek.
Brian melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana, namun Renata mencekal lengan nya. Brian menatap tidak suka seseorang memegang tangan nya, hanya Arumi lah yang boleh menyentuhnya. Renata mengikuti arah Brian menatap, ia melepaskan nya.
"Maaf." Ucap nya. "Emh terima kasih sudah menolong ku tadi, jika tadi tidak ada kamu, aku akan jatuh dan malu." Ujar nya dengan anggun.
"Ya sama-sama." Balas Brian dengan masih ekspresi wajah datar saja.
"Eh tunggu!" Cegah Renata dengan mencekal tangan Brian kembali ketika ia akan pergi dari sana. "Eh maaf." Ucap Renata lagi karena ekspresi tidak suka Brian saat ia sentuh.
"Namaku Renata, kamu?" Menyodorkan tangan nya untuk meminta berkenalan dengan Brian.
Brian menatap ke arah Renata, perempuan ini adalah pengunjung wanita yang bersama kedua teman nya, yang tadi duduk tepat di belakang lesehan dimana Arumi duduk. Yang membuat kehebohan.
"Bisa minta nomor telepon kamu?" Pinta nya tak tahu malu dengan memasang wajah sok cantik nya. Tangan yang tadi terulur pun masih Brian anggurkan, Brian tidak membalas atau menerima uluran tangan Renata.
__ADS_1
"Sorry." Ucap Brian dengan dingin dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan Renata di sana yang sedang menganga karena di cueki.