Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)

Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)
bab 42 posesif


__ADS_3

Pukul sebelas, Arumi dan Brian sampai ke rumah. Arumi bernafas lega melihat keadaan rumah sudah sepi, itu artinya ia malam ini tak akan melihat ekspresi judes sang mama mertua.


"Aku mandi dulu." Ujar Arumi ketika mereka sudah masuk ke dalam kamar, Brian mengangguk lalu ia meraih benda pipih untuk membalas pesan yang tadi belum sempat ia balas.


Tak berapa lama, Arumi keluar dari kamar mandi dengan baju tidur terusan yang pernah Brian belikan. Baju tidur itu cukup tertutup namun tipis membuat Brian tersenyum penuh arti saat melihatnya.


"Lagi cuti masih sibuk aja dengan pekerjaan." Gumam Arumi pelan, namun terdengar seperti sedang protes.


"Cuma balas pesan aja kok." Jelas Brian, menatap ke arah Arumi yang sibuk mengeringkan rambut basah nya dan sesekali melihat ke arah handphone nya. 


Arumi tak membalas ucapan Brian, ia fokus dengan kegiatannya.


Brian mematikan handphone nya, agar tak ada lagi yang mengganggu libur cuti nya, apalagi sang istri pun sudah protes.


Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri nya.


Tak lama Brian keluar dari kamar mandi, ia melihat istrinya yang sedang duduk di ranjang, lalu beralih pada pakaiannya yang tergeletak yang sudah istrinya siapkan. Ia pun memakai nya dengan buru-buru sesekali menatap ke arah Arumi.


"Pegel gak? Abang pijat ya." Tawar nya. Saat setelah memakai pakaiannya, Brian langsung duduk di atas ranjang di samping Arumi.


"Hemmm boleh." Arumi memang sangat pegal karena tadi mereka sempat jalan-jalan ke tempat dimana Brian membawanya.


Brian tersenyum, ia memulai memijat kaki mulus istrinya. "Bagaimana tadi jalan-jalannya, seru gak?" Tanya Brian, ia ingin tahu apa istrinya itu menikmati kencan mereka tadi.

__ADS_1


"Seru, aku suka." Jawab Arumi dengan antusias.


"Syukurlah, besok gimana kalau kita jalan-jalan lagi, selama libur, Abang mau ajak kamu jalan-jalan." Ucap Brian.


"Abang pengen kencan lagi sama kamu seperti tadi. Abang mau bawa kamu ke setiap tempat yang asyik untuk kita kunjungi di kota kelahiran Abang ini." Serunya.


"Tapi bukan ke tempat yang Abang kunjungi bareng mantan kan? Nanti malah jadi mengenang masa lalu." Komentar Arumi dengan mendelik lucu.


Brian mencubit hidung istrinya dengan gemas. "Gak lah, Abang akan bawa kamu ke tempat yang belum sempat di kunjungi. Lagi pula mantan itu bukan untuk di kenang tapi untuk di buang saja." Ungkap Brian, ia laki-laki setia satu perempuan sudah cukup baginya, apalagi cinta nya yang begitu besar pada Arumi, membuat ia tak memiliki alasan untuk berbagi atau pun mencari perempuan lain. Sosok Arumi di matanya begitu sempurna, semua kelebihan perempuan di luar sana tertutup oleh kesempurnaan perempuan yang sudah menjadi istrinya itu.


Arumi tak berkomentar apapun, semoga suaminya itu mengatakan hal yang sebenarnya. Ia sekarang lebih sensitif ketika gelarnya sudah menjadi seorang istri Brian, apalagi banyak perempuan yang memang terang-terangan menatap kagum pada suaminya itu.


"Aku mau rebahan gak apa-apa?" Ijin Arumi yang semakin nyaman di pijat oleh suaminya itu.


"Boleh." Jawab Brian dengan senyum simpul nya. "Pijatan abang enak ya?" Tanyanya Arumi mengangguk membenarkan. 


"Hemm ngelunjak nih." Usap Brian pada kepala istrinya. "Nanti Abang minta hadiahnya." Pintanya.


"Hadiah apa? Ih Abang yang nawarin kenapa aku jadi harus kasih hadiah." Protes Arumi.


"Biar sama-sama enak." Gumam Brian menggoda Arumi. Arumi tampak mengantuk ia tak melihat ekspresi wajah Brian yang menggodanya.


Arumi yang tubuhnya terlentang, sangat santai menikmati pijatan suaminya itu. Brian menyingkap baju terusan yang Arumi pakai sampai memperlihatkan paha putih nan mulus itu.

__ADS_1


"Ih Abang!" Arumi mengemplak lengan suaminya yang nakal itu.


"Hehe biar gampang pijat nya sayang." Kilah Brian.


"Udah ah cukup pijat nya, aku udah enakan, terima kasih ya abang." Arumi dengan polosnya menutup kembali terusan yang tersingkap itu. "Ngantuk." Ucapnya lagi seraya menguap.


"Hadiah Abang mana?" Tagih Brian memberenggut. "Sekarang gak ada yang gratis lho." Lanjut nya.


Cup. Tiba-tiba Arumi mengecup pipi Brian. "Ini hadiahnya, sekarang kita tidur, besok aku mau bangun pagi-pagi bang, aku mau jadi menantu idaman mama." Ucapnya dengan wajah serius.


"Hemmm kamu udah jadi menantu yang baik kok, tidak perlu menjadi menantu idaman mama." Ujar Brian, istrinya ini sudah melakukan yang terbaik hanya saja mamanya yang memang belum bisa melihat itu. 


"Kenapa? Apa aku gak pantas jadi menantu idaman mama?" Sorot mata Arumi menuntut, ia merasa kecewa dengan ucapan suaminya itu.


"Kamu pantas sayang, pantas!" Yakin Brian. 


"Lalu?" Tuntut Arumi yang tak puas dengan jawaban suaminya itu.


Tanpa berkata apa-apa, Brian menarik tengkuk istrinya yang terduduk karena menatap nya tadi. Brian mencium bibir Arumi, mengecup nya. Lalu menatap nya.


"Kamu pantas menjadi menantu idaman, tapi kamu tidak perlu repot-repot karena kamu sudah menjadi menantu mama. Tidak perlu lelah, kamu cukup menjadi istri yang baik untuk abang saja." Tekan nya. "Kamu paham kan maksud abang?" Di tatap nya dengan lembut wajah Arumi.


Arumi mengangguk paham. Brian tersenyum lalu ciuman itu berlanjut. Ciuman yang berawal lembut namun semakin lama semakin menuntut, membuat Brian memangut, dan Arumi menurut apa yang di lakukan suaminya itu. 

__ADS_1


"Sepertinya malam ini kita harus begadang." Bisik terengah-engah Brian saat ia melepaskan ciumannya.


Arumi mengangguk pelan, ia pun terengah-engah namun menikmatinya. Karena selain bibir suaminya yang terus tidak diam menari di mulutnya tangan suaminya pun ikut bergerilya kemana-mana. Dan pada akhirnya malam panjang mereka pun terjadi.


__ADS_2