
Ketika malam tiba, deru suara motor terdengar di depan rumah, membuat Arumi yang tahu jika kekasihnya yang akan datang malam ini langsung membuka pintu rumahnya dengan sangat tergesa-gesa.
Brian tersenyum saat Arumi membuka pintu ketika ia baru saja mematikan mesin motornya.
"Assalamualaikum." Sapa Brian dengan menampilkan sebuah senyuman.
"Waalaikum salam." Jawab Arumi juga dengan senyuman.
"Nungguin ya?" Goda Brian seraya turun dari motornya dan menghampiri Arumi dengan senyuman lembut yang membuat Arumi meleleh.
"Gak, biasa aja." Kilah Arumi berbohong padahal dirinya memang menunggu dengan tidak sabar.
Brian tersenyum kembali mendengar penuturan Arumi itu. " Masa sih?" Canda nya dengan mengelus sayang kepala Arumi.
"Ya, aku cuma gak mau aja bikin Abang nunggu." Lagi Arumi pun berbohong dengan isi hatinya padahal ia sungguh sangat merindukan kekasihnya dan penasaran juga dengan apa yang akan di katakan oleh Brian tadi siang. "Ayo masuk." Ajak Arumi mengalihkan pembicaraan, ketika Brian memandangnya dengan senyum terkulum.
Brian masuk saja mengikuti gerak langkah kaki Arumi.
"De. Ibu sama ayah ada?" Langsung Brian menanyakan kedua orang tua Arumi.
"Ada, memang mau apa?" Arumi pun bertanya, tumben sekali Brian menanyakan ibu dan ayahnya dengan cepat.
__ADS_1
"Panggil kan sebentar ya." Pinta Brian seraya mendaratkan bokong nya di kursi ruang tamu rumah Arumi.
"Ada apa bang?" Arumi penasaran jadinya mungkin sesuatu terjadi atau apa.
Brian tersenyum melihat rasa penasaran Arumi. "Panggilkan sebentar ya, bilang Abang mau bicara." Jelas nya tanpa menjawab penasaran Arumi.
Arumi cemberut sebal membuat Brian terkekeh melihat nya. "Ya udah tunggu sebentar." Balas Arumi dengan pergi masuk mencari ibu dan ayahnya.
Tak lama ibu dan ayah Arumi datang ke ruang tamu dimana Brian tengah menunggunya, sedangkan Arumi membuat teh hangat untuk kekasihnya.
"Selamat malam Bu, ayah." Sapa Brian yang sudah memanggil mereka dengan sebutan seperti Arumi. Tak lupa juga dengan cium tangan pada mereka dengan hormat.
"Ya malam juga nak." Balas ibu dan juga ayah. "Arumi bilang tadi ada sesuatu yang ingin di bicarakan, apa itu nak Brian?" Bukan hanya Arumi yang penasaran ibu dan ayahnya pun juga penasaran.
"Tidak apa-apa, ini juga masih siang ibu dan ayah belum tidur juga." Balas ibu merasa tak terganggu.
Brian tersenyum gugup ia mengangguk. "Saya ingin melamar Arumi untuk menjadi istri saya, saya meminta ijin kepada ibu dan juga ayah." Jelas nya yang membuat ibu dan ayah saling menatap dan terkejut.
Deg. Arumi yang baru saja meletakkan teh di meja yang ia buat sampai terkejut mendengarnya. Lalu ia mendudukkan dirinya di samping ibu dan ayahnya.
"Kamu serius dengan ucapan tadi?" Ibu pun ingin memastikan.
__ADS_1
Brian mengangguk penuh. "Ya saya sangat serius." Jawab nya mantap.
Ibu dan ayah saling pandang, ayah yang memang sedang sakit stroke tak bisa berbicara banyak hanya mengangguk saja sebagai tanda jika ia menyetujui niat baik pemuda di depannya itu.
Ibu menarik nafas nya. "Ibu dan juga ayah setuju saja dengan niat baik nak Brian, toh cepat atau lambat Arumi pasti harus menikah. Kalian juga memang sudah lama menjalin hubungan, tidak enak rasanya berlama-lama pacaran apalagi dengan ucapan tetangga yang gak enak untuk di dengar, walaupun kita tidak melakukan apa-apa tapi jika tetangga yang tidak suka pasti omongan nya berbeda." Mengingat beberapa tetangga di sekitar rumah sering berbisik membicarakan tentang Arumi, ntah karena iri atau bagaimana.
"Ibu dan ayah menyerahkan keputusan ini pada Arumi yang akan menjalaninya, ibu dan ayah hanya merestui hubungan kalian berdua." Sambung ibu terdengar dengan suara bergetar.
Brian tersenyum sebagai respon, dengan melirik ke arah Arumi yang hanya diam saja tanpa berkomentar.
"Bagaimana Harum, kamu menerima lamaran nak Brian?" Tanya ibu menatap serius pada Arumi yang ada di sampingnya.
Arumi tidak langsung menjawab, bukan ragu hidup bersama dengan Brian kekasihnya itu, namun ada sedikit rasa heran dengan semua ini, sudah lama ingin mendapatkan restu namun hanya dengan waktu singkat Brian pulang kampung, menghilang tanpa kabar ketika waktu perjanjian mereka usai, lalu ia datang sekarang untuk melamarnya, sungguh ini membuat Arumi heran dan bertanya-tanya, apa ini tidak terasa terburu-buru.
"Bagaimana Harum? Kamu mau menikah dengan nak Brian? Menjalani hidup rumah tangga nantinya." Ibu pun kembali bertanya karena belum dapat jawaban dari Arumi anaknya itu.
Arumi masih menunduk, namun cinta nya yang besar pada Brian, ia memantapkan hati nya itu untuk menjawab apa yang harus ia jawab.
Dengan membaca bismillah, Arumi pun menatap wajah lembut ibunya lalu ayahnya. Ia mengangguk. "Iya Bu aku mau menikah dengan bang Brian." Jawabnya pelan.
Brian yang dari tadi merasa tegang melihat bagaimana sikap Arumi dan takut jika kekasihnya itu tiba-tiba menolaknya bernafas lega ketika mendengar jawaban dari Arumi yang menerimanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah." Gumam Brian.