Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)

Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)
bab 28 muncul kembali


__ADS_3

Berkali-kali Arumi menghela nafasnya panjang, saat ini ia tengah membantu ibunya berjualan di asrama, tempat biasa ibu nya berjualan. Sengaja lebih sering kesana karena ia sekaligus ingin bertemu dengan Brian, walaupun ia sudah menganggap jika Brian sekarang bukanlah kekasihnya lagi, tapi... Setidaknya ia bisa bertemu walaupun tidak ada kata atau ucapan yang terungkap dari Brian setelah sekian lama ini mereka tidak berjumpa.


Bisa di bilang bodoh sikap Arumi yang seperti itu, masih mengharapkan untuk bisa bertemu padahal laki-laki yang sudah mengisi hati nya pergi tanpa kata sebuah keputusan yang jelas.


Ingin rasanya bertanya pada rekan Brian yaitu bang Martin namun rasa malu Arumi lebih besar di banding rasa penasarannya, ia berpikir karena dia dengan bang Martin itu tidak begitu dekat, walaupun Arumi yakin jika rekannya kekasihnya itu tahu keberadaan dan kabar Brian sekarang ini.


Rasa kantuk menyerang ketika jam makan siang sudah selesai, para anggota ataupun orang yang makan di tempat ibunya berjualan kembali pada kegiatannya masing-masing. Ibu dan bibinya berpamitan untuk sholat duhur terlebih dahulu membuat Arumi yang tidak melakukan apa-apa semakin bosan dan mengantuk, membuka handphone nya tidak ada pesan masuk sama sekali, dan rasa lelah setelah membantu ibunya hingga akhirnya Arumi memutuskan untuk memejamkan kedua matanya dengan menopang pipi kanannya nya oleh tangannya di meja tak jauh dari tempat ibunya berjualan.


Arumi tidak menyadari jika ada seseorang yang mendekati meja dimana ia tengah memejamkan matanya, Arumi memang mengantuk namun ia tidak benar-benar tertidur pulas, takut ada pembeli yang datang.


Terasa ada seseorang yang duduk di sampingnya namun Arumi diam saja, ia pikir mungkin penjual lain di sekitar sana atau bibinya yang baru datang setelah sholat duhur. Arumi hanya menggerakkan tangannya yang menopang pipi nya sebagai pertanda jika ia tidak benar-benar tertidur.


"Arum..." Panggil bibi. Namun ketika bibi nya Arumi ingin memberi tahukan Arumi, seseorang yang duduk di sana tepat duduk di depan meja yang Arumi duduki menempelkan telunjuknya di bibirnya agar sang bibi tidak memberi tahukan pada Arumi. Bibi Arumi mengangguk dengan senyuman.


"Hemm bi." Respon Arumi tanpa membuka kedua matanya. "Bibi gak barengan sama ibu?" Tanya Arumi masih menutupi matanya itu.


"Gak, ibumu mau pulang sebentar katanya, mumpung warung sepi." Balas bibi dengan senyum mengulum melihat kelakuan Arumi.


Arumi mengangguk. "Aku ngantuk bi, tidur sebentar gak apa-apa ya?" Ijin Arumi. "Titip dagangan ibu sebentar." Pintanya namun sang bibi tak menjawab karena ia bingung. Ah masa bodo Arumi tidak mendengar jawaban bibi nya itu ia benar-benar sangat mengantuk saat ini.

__ADS_1


Tiba-tiba saja aroma wangi parfum tak asing menguar di hidung nya membuat Arumi mendecak karena kenapa karena mengingatkan ia pada parfum yang selalu kekasihnya pakai.


Yang pakai parfum seperti ini pasti banyak bukan hanya dia, pikir Arumi bermonolog.


"Ekhem." Sebuah deheman suara laki-laki terdengar oleh Arumi, Arumi tak menggubris ia berpikir jika itu salah satu penjual di sana mang Juned namanya.


"Saya boleh minta makan?" Suara itu pun akhirnya keluar dari seseorang yang sejak tadi duduk di depan meja Arumi memperhatikan wajah Arumi dengan mata terpejamnya.


Deg... Jantung Arumi berdetak kencang tiba-tiba mendengar suara berat itu dengan begitu jelas.


Lalu dengan cepat ia membuka kedua matanya, dan pandangan yang langsung terlihat adalah wajah dimana seorang laki-laki tampan sedang tersenyum padanya dengan kedua tangan menopang dagunya memperhatikan wajah terkejutnya saat ini.


"Boleh minta makan?" Ucapnya lagi dengan menatap lembut ke arah Arumi yang masih terlihat syok.


"Mau sama apa?" Tanya Arumi terkejut karena lelaki yang sangat ia rindukan selama ini berada di sampingnya tanpa ia sadari tadi mungkin lelaki itu mengikuti nya, bahkan begitu dekatnya membuat wajah Arumi ketika menoleh tepat di dadanya yang wangi itu.


"Apa saja, yang penting empat sehat lima sempurna." Balasnya dengan berbisik, membuat Arumi salah tingkah.


"Ya." Sahut Arumi paham dan langsung menyiapkan apa yang di butuhkan oleh laki-laki yang berdiri tepat di sampingnya itu yang tak lain adalah Brian kekasihnya, atau mantan kekasihnya, ntahlah semenjak kepulangan Brian ke kota kelahirannya membuat Arumi sedikit kaku dan terkesan ada jarak.

__ADS_1


"Abang kangen." Bisik nya Brian di tengah Arumi yang sedang menyiapkan makanan pesanan Brian.


Deg. Selalu berdebar saat kekasihnya itu mengatakan kata rindu padanya. Ia juga sangat merindukan kekasihnya.


"Nanti malam Abang ke rumah kamu, kamu siapkan hati jangan sampai pingsan, Abang ada sesuatu buat kamu." Ujar Brian dengan tersenyum yang membuat Arumi langsung penasaran.


"Apa?" Arumi menatap Brian dengan wajah penasarannya.


"Nanti malam Abang kasih tahu." Goda Brian seraya meraih piring berisi nasi dan lauk yang ada di tangan Arumi. Lalu pergi untuk duduk di kursi.


Arumi menutup kembali tempat lauk pauk ibunya itu, lalu menghampiri dimana Brian duduk dengan menyantap makanan yang sudah di siapkannya tadi dengan membawa teh tawar panas untuk kekasihnya itu.


Pelan-pelan sekali Brian saat mengunyah makanannya itu ketika Arumi melihat bagaimana cara makan Brian saat ini, apa makanan nya tidak enak? Atau Brian sedang tidak enak makan? Tumben sekali pikir Arumi.


"Aku penasaran apa yang akan membuat aku pingsan nanti malam." Celetuk Arumi di tengah Brian yang sedang makan. Ia mendaratkan bokong nya di kursi tepat di depan Brian saat ini.


Brian tersenyum. "Penasaran banget? Nanti malam Abang kasih tahu." jawab nya. Arumi cemberut sebal.


"Kemana aja selama ini? Menghilang tanpa kabar, aku pikir Abang udah lupa sama aku karena ketemu mantan yang semakin cantik, saat pulang kampung." Cecar Arumi dengan sebal.

__ADS_1


Brian tergelak. "Lagi mood cemburu?" Goda Brian yang membuat Arumi mendengus.


"Nanti malam Abang ceritakan." Sambungnya.


__ADS_2