
Pagi harinya Arumi sudah lebih dulu terbangun dari Brian, ini karena kali pertama nya berkunjung ke rumah mertua dengan mertua yang belum begitu 100% merestui pernikahan nya, membuat Arumi harus bisa menarik perhatian mertuanya dengan kebaikannya, dan heran nya kenapa mertuanya kemarin membiarkan Brian menikahinya sedangkan restu terlihat tak ia berikan kepadanya, batin Arumi.
Sudah mandi dan berpakaian sangat pas cocok di tubuh nya dengan kerudung yang juga ia kenakan.
Berdiri di depan cermin memantulkan tubuh nya di sana, ia menatap getir jika mengingat bagaimana sikap mertuanya itu. Sampai kapan akan terus seperti ini, jika tahu mertuanya memang belum merestui nya mungkin dari awal ia tak pernah menerima lamaran Brian, bukan karena ia tak cinta pada Brian, namun dia tak ingin merasakan sakit jika harus kehilangan Brian saat sudah menjadi sepasang suami istri seperti saat ini.
Arumi bercermin dengan tatapan mata yang kosong, ia menerawang bagaimana kehidupannya nanti.
Saat Arumi tengah tenggelam dalam lamunannya, sepasang tangan merayap memeluk perutnya membuat Arumi terhenyak kaget.
"Sudah baikan?" Bisik nya dengan pelukan semakin erat mengendus aroma tubuh Arumi.
"Ih Abang bikin aku kaget aja." Arumi menepuk tangan kuat yang memeluk nya itu.
"Hemm pagi-pagi sudah melamun, apa yang kamu lamunkan?" Bisik nya lagi.
"Gak ada, Abang cepat mandi, aku mau keluar bareng Abang." Ujar Arumi.
"Keluar bareng? Hemm pemanasannya saja belum, bagaimana bisa keluar." Gumam Brian dengan kedua mata tertutup namun mengecup-ngecup leher Arumi yang terbalut jilbab itu.
"Ih gak nyambung." Desis Arumi.
"Kamu sudah baikan?" Kembali Brian bertanya untuk memastikan.
__ADS_1
"Ya... sudah lebih baik. Makanya ayo turun, aku mau coba siapkan makan untuk Abang." Urai Arumi.
"Syukurlah, bagaimana kalau kita coba kasur saja, coba masak nya nanti saja." Ucap Brian mendelik kasur dengan mata genit nya.
"Udah aku coba, semalam kita tidur di atas kasur, dan kasurnya empuk kok." Jelas Arumi yang tak mengerti maksud suaminya itu.
"Bagaimana jika kita coba kekuatan ranjang kasur ini, kuat atau tidaknya." bisik Brian seraya dengan cepat Brian menggendong tubuh Arumi dan membawanya ke atas kasur.
"Aaaa Abang, kenapa aku di bawa kesini." Teriak Arumi sebal, karena Brian membaringkan tubuh Arumi pada ranjang, lalu Brian membuka kaos yang ia pakai semalam, sehingga menampilkan setengah badannya yang berotot itu.
"Eh kenapa buka baju?" Panik Arumi.
Brian menyeringai genit. "Mau coba kekuatan kasur." Jawab nya dengan merangkak naik ke tubuh Arumi yang sedang setengah terbaring.
"Eh mau kemana?" Tarik Brian menggoda Arumi yang akan melarikan diri.
Hap Brian pun langsung menangkap tubuh Arumi kembali lalu menindih tubuh Arumi dengan cepat ketika Arumi yang tidak bisa diam itu.
"Aku udah mandi bang, lagian gak enak sama mama dan papa." Rayu Arumi yang ada di bawah tubuh sang suami.
"Abang tahu kamu udah mandi, nanti kita mandi lagi." Kekeh Brian yang memang pagi itu sangat menginginkan sesuatu yang harus di cairkan. Brian perlahan membuka kancing baju istrinya.
Arumi mencegah tangan Brian yang lihai membuka kancing bajunya. "Ini udah mau siang, malu sama matahari." Mencoba kembali agar acara kangen-kangenan nya di tunda. Mau di taruh dimana wajah nya ketika bertemu dengan mertuanya nanti jika ia bangun terlambat.
__ADS_1
"Sebentar saja, kita main cepat." Rayu Brian dengan mata menggodanya. Sungguh laki-laki yang sekarang menjadi suaminya itu ternyata bisa genit juga padanya.
"Tapi... Mmmmm." Arumi sudah tak di berikan untuk bicara oleh Brian, karena dia sudah menyumpal bibir istrinya itu dengan bibirnya.
Brian begitu rakus saat mencium istrinya, ia sudah menahan diri dari semalam karena tak tega melihat istrinya yang kelelahan karena perjalanan mereka. Namun mendengar jika istrinya itu sudah sehat dan terlihat wajahnya sudah segar membuat Brian tak bisa menahan lagi gelora nya.
"Emmmh." Arumi terengah-engah karena kehabisan nafas.
"I love you Arumi." Tatap Brian dengan tatapan sayu ke arah wajah istrinya.
Ketika Brian mengatakan kata-kata cinta, tangannya tak tinggal diam, ia membuka semua pakaian yang istrinya pakai pagi ini, tapi tidak dengan jilbab yang Arumi pakai, ia membiarkan jilbabnya masih ada di kepala Arumi.
"Abang mau lihat kamu pakai jilbab." Bisik nya, Arumi mengerut. Brian tersenyum menggoda. Ia penasaran dengan ekspresi Arumi yang sedang bergelora dengan jilbab yang ia kenakan.
Satu titik, dua titik Brian mengabsen titik-titik sensitif dari tubuh istrinya yang sudah tidak mengenakan sehelai benangpun, hanya jilbab yang masih menempel menutupi rambut indahnya.
Akh.... Desah Arumi saat suaminya berada di titik sensitif nya, membuat Brian menatap sejenak wajah istrinya yang sedang menikmati jamuan nya.
Brian menyeringai karena akhirnya istrinya juga menikmati sentuhan nya. Dengan sentuhan lembut, Brian membawa terbang istrinya ke awan, Brian yang memimpin karena ia sudah terbiasa menjadi pemimpin.
Saat Arumi akan berteriak, Brian langsung menyumpal bibir Arumi dengan bibirnya, jangan sampai ada yang mendengar teriakan Arumi. Karena mereka sedang tidak berada di hotel atau rumah nya yang kedap suara.
Dengan ekspresi Arumi yang sayu dengan jilbab dan dengan tubuh polosnya, Brian pun semakin melihat betapa **** nya tubuh istrinya itu. Aaah beruntung sekali dirinya mendapatkan istri seperti Arumi.
__ADS_1