Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)

Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)
bab 43 tantangan mertua


__ADS_3

Rasa ngantuk dan lelah tak di rasa oleh Arumi, pagi ini ia harus bangun karena sadar saat ini tengah berada di rumah mertuanya. 


Jika di rumah orang tuanya mungkin ia akan kalah dengan rasa malas nya, ia akan tidur kembali sampai siang nanti, karena rasa kantuk yang sangat berat, setelah permainan nya bersama Brian sang suami tadi malam.


Pelukan Brian pada tubuh nya ia jauhkan dengan hati-hati, takut mengganggu tidur sang suami yang terlihat sangat lelap. Ah rasanya ia ingin ikut berbaring bersama suaminya kembali.


Tinggal beberapa hari bersama mertua yang kejam dan lidahnya yang tajam membuat Arumi merasa ia tinggal bertahun-tahun di sana.


Setelah selesai mandi dan berdandan Arumi terlihat sangat segar dan rasa kantuk pun hilang. Ia turun dari kamar menuju dapur.


"Pagi bi." Sapa Arumi ramah ketika ia melihat pembantu mertuanya itu sedang sibuk di dapur.


"Pagi non." Jawabnya menatap wajah Arumi. "Masih pagi sudah bangun sih non." Melihat sang istri tuan mudanya terlihat begitu segar dan cantik.


Arumi tersenyum. "Aku boleh bantuin bibi?" Ijin Arumi menawarkan bantuan.


"Ah gak usah non, ini pekerjaan bibi, biar bibi saja yang kerjakan. Non istirahat saja." Tolak bibi dengan lembut.


"Aku mau bantu bibi aja." Tanpa menghiraukan penolakan bibi Arumi langsung memegang pekerjaan bibi.


"Jangan non, nanti den Brian marah sama bibi." Bibi melarang dan mencegah Arumi untuk melakukan pekerjaannya.


"Aku aja yang masak ya bi." Arumi menawarkan bantuan untuk memasak.


"Duh non biar bibi aja ya masak, non istirahat aja, bibi takut kena omel." Ujarnya.


"Biar dia yang masak bi!" Suara ketus terdengar dari arah tangga membuat bibi menunduk takut, sang nyonya sudah berbicara.


Mertua kejam itu melangkahkan kakinya mendekati Arumi dan bibi yang ada di dapur.


"Jadi istri itu bukan hanya memanjakan batin suaminya saja, tapi juga harus memanjakan lidah suami juga." Ketus nya kembali terdengar.


"Ya mah." Arumi mengangguk. "Bang Brian suka dimasakin apa mah?" Tanya Arumi berbasa-basi, ia ingin mertuanya ikut andil dalam menyiapkan makanan, ya tidak apa-apa jika dirinya lah nantinya yang akan memasak.


"Putraku suka sekali dengan rendang. Kamu bisa kan buat rendang?!" Tatapan mama mertua begitu menantang meremehkan Arumi yang pasti tidak akan bisa memasak apa yang ia sebutkan barusan.


Arumi belum menjawab, namun mama mertua langsung menyela. "Bibi siapkan saja bahan mentah nya, biar dia yang buat sendiri." Titahnya kepada pembantunya itu. 


"Dan ingat jangan memberikan resep nya apalagi sampai membantu nya!" Larang nya dengan sangat tegas.


"Baik bu." Bibi menjawab seraya mengangguk patuh.

__ADS_1


"Bibi pergi saja kerjakan pekerjaan yang lain, jangan ganggu dia." Ucapnya kembali memerintah, setelah ia melihat semua bahan sudah tersedia.


"Baik bu." Bibi pasrah lalu pergi walaupun ia ingin sekali membantu nona mudanya.


Mama mertua nya pun beralih menatap Arumi setelah kepergian pembantu nya. "Ayo! Apalagi yang kamu tunggu! Brian bangun, makanan harus sudah siap." Titahnya seakan Arumi adalah pembantu barunya.


"Ya mah." Sahut Arumi paham.


"Bagus. Ingat ya harus enak dan juga empuk." Titahnya seraya pergi dari dapur meninggalkan Arumi sendirian.


Arumi menarik nafas dalam-dalam, melihat kepergian mertuanya yang kejam itu. 


Arumi mencuci semua bahan yang sudah di sediakan bibi sebelumnya. Membuat rendang tidak lah mudah apalagi di tuntut harus enak. Namun untungnya saja ibunya adalah wanita yang pintar memasak, apalagi ibunya membuka usaha masakan yang setiap harinya berkutat pada masakan.


"Terima kasih bu, gak sia-sia ibu menyuruh aku untuk membantu saat ibu menyiapkan masakan untuk jualan. Hikmah nya aku bisa masak makanan yang mama minta dan aku bisa masak buat suamiku." Gumam Arumi seraya sibuk dengan bahan-bahan di hadapannya.


"Semangat Arumi!" Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Beberapa saat kemudian. 


"Hemm sepertinya aku harus masak yang lain juga. Ini kan masih jam sarapan pagi. Bang Brian pasti mau makan-makanan yang cocok untuk sarapan pagi ini." Pikir Arumi, ia menyiapkan beberapa bahan lain yang ada di kulkas, ia sudah tahu kebiasaan sang suami semenjak pacaran. Suaminya itu sekarang sedang menjaga tubuhnya agar selalu sehat, kuat dan juga menjaga tubuhnya agar selalu memiliki tubuh professional nya.


Arumi sibuk di dapur, sedangkan Brian masih sibuk di dalam mimpi, ia bergumam saat mimpi nya merasa terganggu dengan silau nya matahari pagi yang masuk di celah gordennya.


"Sayang." Panggil nya, namun kamar begitu hening, kamar mandi pun terbuka dan tidak ada orang di dalamnya.


Brian memutuskan untuk segera mandi, dan mencari istrinya itu.


Sedangkan Arumi sudah menyelesaikan masakannya, lalu ia membawa nya ke meja makan dan menata nya dengan rapi.


"Daging rendang spesial sudah siap, telur ceplok mata sapi sudah siap, dan sayuran sehat nya juga sudah siap." Gumam Arumi, ia menyiapkan beberapa makanan di sana, agar penghuni di rumah itu bisa memilih sarapannya sesuai selera. Tidak hanya menu yang tadi ia sebutkan, namun ada makanan lain yang ia siapkan juga, seperti roti bakar, karena ia kemarin melihat papa mertuanya asyik menikmati roti bakar dengan kopi susu nya.


"Masak rendang harus sabar, semoga mama suka juga dengan rendang buatan ku." Batin Arumi berharap, ia berharap jika bukan hanya suaminya yang di manjakan lidah nya tapi juga mertuanya, ia akan menarik perhatian mertuanya dengan masakan yang enak-enak buatan nya, seperti masakan ibunya selama ini. Beruntung sekali Arumi memiliki ibu yang pintar masak ia tak harus mengeluarkan biaya untuk bersekolah di tata boga.


Semua orang turun menghampiri meja makan untuk sarapan, tak terkecuali Brian ia sudah segar karena selesai mandi.


"Sayang kamu di sini? Abang tadi cari kamu." Ujar Brian memeluk pinggang sang istri saat sudah berada di dekatnya.


"Abang mau sarapan sekarang?" Arumi tersenyum menatap suaminya ia menghiraukan pertanyaan Brian.


"Ya, ayo kita sarapan." Ajak nya.

__ADS_1


Mereka pun duduk, Arumi, Brian, mama mertua dan papa mertua nya. 


"Wah ini siapa yang masak rendang pagi-pagi gini?" Tanya papa mertua, melihat menu di atas meja.


"Aku pah." Aku Arumi. 


"Papa mau coba." Ucapnya terlihat antusias seraya mengambil rendang itu tanpa memakai nasi.


"Pagi tadi dia nawarin buat bantu bibi di dapur, ya sudah mama suruh saja dia masak." Ucap mama. 


Brian mengambil telur mata sapi nya dan sayur sehat buatan Arumi.


"Aku udah lama gak makan rendang mah, sekarang makanan aku seperti ini." Tunjuk nya pada piring yang sudah terisi makanan. "Tapi karena ini istri ku yang buat jadi aku akan makan." Brian mencoba untuk mengambil rendang itu. Namun tangannya tertahan.


"Abang lagi jaga pola makan, jangan di makan dulu, nanti aja ya." Tahan Arumi. Ia tak mau jika mengganggu pola makan sehat suaminya.


"Sedikit gak apa-apa sayang, ini juga masakan kamu Abang mau coba." Kekeh Brian. 


"Jangan! Nanti saja." Cegah Arumi dengan tegasnya.


"Baiklah." Pasrah Brian. Ia mulai menyantap makanan yang ia ambil.


Mama mertua melihat bagaimana putranya yang menurut sekali pada Arumi menjadi kesal, ia ibunya tapi kenapa ia jauh sekali mengetahui kebiasaan Brian saat ini, sebagai ibu harus nya lebih di utamakan, ia merasa jika Brian lebih menyayangi istrinya di bandingkan ibunya sendiri.


Mama mertua pun beranjak dari kursinya, ia kesal dan marah, membuat nafsu makan di pagi ini menghilang begitu saja.


"Mah, mama mau kemana? Gak makan dulu? Ini rendang nya enak lho mah." Tanya papa. Mama tak menjawab. "Papa habiskan rendang ya mah." Teriak papa. Mama masih melangkahkan kakinya dengan kesal. 


"Padahal mama mu paling suka dengan rendang, ini enak sama persis buatan orang Padang." Puji papa. "Kamu hebat, jago masak." Menatap Arumi dengan kagum.


"Istri siapa dulu yang masak." Goda Brian tersenyum melihat ke arah Arumi.


"Makasih pah, ibu yang suka ajarin aku masak." Terangnya merasa bangga pada ibunya.


Tiba-tiba mama mertua datang kembali lalu merebut rendang itu  membawanya untuk menyimpan rendang itu ke dalam lemari.


"Papa jangan banyak-banyak makan daging." Ketus nya.


"Daging nya enak, mama harus coba. Rendang buatan Arumi sama mirip seperti khas nya. Mama saja belum tentu bisa buat rendang seperti ini." Ucap papa yang menyulut api di kepala istrinya semakin berkobar.


"Kalau papa kolesterol nya naik, mama gak akan peduli! Mama gak akan obati papa." Ancamnya seraya pergi membuat suaminya itu menghela nafasnya dengan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Jangan sampai mah." Gumam papa pelan. Kenapa istrinya marah-marah seperti itu, padahal tadi sebelum turun untuk sarapan istrinya terlihat sangat ceria.


__ADS_2