
"Hei, De." Panggil Brian pada Arumi yang tengah melamun, dengan tatapan kosongnya.
"De..." Lagi panggilan itu tersemat oleh Brian dengan tangan yang ia kibaskan-kibaskan tepat di wajah Arumi yang masih asyik dalam lamunannya.
"Eh." Lamunan Arumi pun ambyar ketika ia tersadar.
"Kenapa melamun?" Brian bertanya penuh ke khawatiran. "Apa yang kamu lamunkan barusan?" Penasaran Brian.
"Emh gak ada kok." Sahut nya bohong.
"Benar gak apa-apa?" Ucap Brian meyakinkan.
Arumi mengangguk. "Benar." Dengan senyum sebisa mungkin iya menutupinya.
"Kok wajah Abang di tekuk gitu pas dapat telpon dari orang tua? Harusnya senang dong bicara dengan seorang ibu." Mengalihkan perhatian dan melihat wajah Brian yang di tekuk setelah selesai menelpon.
__ADS_1
"Bukan gak senang di telpon nya, tapi Abang gak senang sama permintaan mama tadi." Terang nya.
"Permintaan apa memang?" Arumi jadi penasaran karena asyik nya melamun ia jadi tidak mendengar apa yang di bicarakan Brian.
"Mama minta besok ke rumah omah karena ia akan mengenalkan Abang dengan anak temannya. Abang males." Ujar nya dengan malas.
"Ya kenalan aja dulu sama Cantika itu, siapa tahu sudah kenal Abang bakal suka." Ceplos Arumi tidak sadar.
"Kok kamu bisa tahu nama perempuan yang bakal di kenalkan ke Abang namanya Cantika?" Todong Brian.
"Ya... Tadi aku gak sengaja dengar ada nama Cantika di sebut." Jawab Arumi gelagapan. "Pasti cantik seperti namanya." Sambung nya lagi.
"Gak nguping." Protes nya. "Gak cemburu juga." Bohong nya dengan melengos kan pandangan tak mau bertatapan dengan sang kekasih.
Brian mengulum senyum. "Di mata dan di hati Abang cuma satu wanita yang cantik, yaitu kamu." Jujurnya. "Dan tidak ada Cantika Cantika yang lebih cantik selain kamu." Sambung nya yang membuat Arumi menunduk.
__ADS_1
Melihat Arumi hanya diam menunduk Brian meraih dagu terbalut perban itu dengan pelan dan hati-hati agar Arumi bisa menatapnya, ia tahu Arumi nya itu sedang cemburu pada nya.
"Abang cinta dan sayang sama kamu De, Abang lagi berusaha mendapatkan restu mama untuk kita." Ucap nya.
Di tatap lekat wajah Arumi itu, ketika tatapan mereka bertemu.
"Perempuan cantik di dunia ini banyak, tapi tidak ada perempuan sebaik kamu di mata Abang." Aku nya, Brian mendekatkan wajahnya pada wajah Arumi, semakin dekat hingga hembusan nafas pun menyapu wajah Arumi ketika Brian berbicara.
Seketika jantung Arumi berdebar tak menentu saat wajah mereka begitu dekat, tatapan Brian lembut namun begitu dalam, Arumi menelan ludahnya kasar.
Semakin dekat tatapan itu semakin membuat jantung Arumi bergetar dan panas dingin.
Brian memajukan wajahnya itu ia ingin mencium bibir Arumi yang dari tadi selalu menggoda nya itu. Kepalanya sudah ia miringkan agar memudahkan ia untuk mencium bibir gadis yang ia cintai itu.
Namun saat sudah siap untuk mengecup Arumi langsung tersadar dan menghindar dengan gelagapan.
__ADS_1
"Aku ke dapur dulu, mau ambil pisau." Ucap Arumi cepat seraya melangkah kaki nya dengan terpincang-pincang menuju dapur.
"Ambil pisau? Untuk apa De?" Ngeri sedap kini yang Brian rasakan. Mungkinkah Arumi ingin menusuk nya dengan pisau karena baru saja ia sudah kurang ajar karena ingin menciumnya.