
"Mah, jika hidup dan mati Tuhan yang mengatur lalu jodoh pun pasti Tuhan yang mengatur." Balas Brian membuat mama nya terdiam.
"Tapi kan restu orang tua itu restu Tuhan, kamu sebagai anak harus nurut apa yang orang tua katakan." Ucap mama membalas ucapan Brian.
Brian menghela nafas dalam-dalam. "Mah aku harus bertanggung jawab atas Arumi." Ucapnya nya sedikit ragu dan takut.
"Tanggung jawab apa maksud kamu?" Bingung mama dengan perkataan Brian.
"Aku sudah menghamili Arumi mah." Jawab Brian pelan.
"Apa?!" Kejut mama sangat terkejut.
"Aku sebagai laki-laki harus bertanggung jawab. Mama mengerti kan?" Tuntut Brian. 'maaf De.' batin nya merasa bersalah pada Arumi.
"Kamu benar-benar ya Brian!" Kesal dan marah mama. "Atau memang gadis itu yang sengaja menggoda kamu agar kamu nikahi dia!" Tuduh nya.
"Gak mah, aku yang salah, aku yang sengaja melakukan hal itu bersama Arumi agar Arumi tidak berhubungan dengan laki-laki lain." Jelas Brian dengan cepat ia merasa bersalah karena membuat mama nya menuduh yang tidak-tidak pada Arumi.
"Karena mama juga aku memilih jalan ini agar Arumi tidak lepas dan memutuskan hubungan dengan aku." Sambung nya.
__ADS_1
Mama menahan emosinya merasa jika anaknya menyalahkan dirinya. "Kamu menyalahkan mama! Kamu sendiri yang salah karena jatuh cinta pada gadis seperti itu!" Geram mama.
"Arumi gadis yang baik, cerdas dan taat. Mama gak suka pada Arumi karena dia tidak selevel hidup dengan mama." Ucapan Brian tidak membentak malah lembut dan tegas namun membuat sang mama menyulut.
"Kita ini keluarga ABRI, kamu keturunan keluarga ABRI dari buyut, kakek sampai ayahmu saja seorang ABRI, lalu kamu sekarang juga seorang ABRI, setidaknya kamu nikahi gadis yang orang tuanya juga ABRI jika kamu tidak bisa mendapatkan gadis seorang ABRI, bukan gadis yang hanya seorang anak tukang nasi!" Marah mama semakin emosi.
"Justru karena kita keluarga ABRI aku sebagai laki-laki harus bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan, mama gak mau kan nama mama tercoreng karena aku sebagai keturunan ABRI menghamili seorang gadis." Ujar Brian membuat mama langsung terdiam.
"Kamu!" Geram mama tak terima.
"Jalan satu-satunya, memang aku harus bertanggung jawab, jika tidak bagaimana kalau Arumi lapor pada pihak kantor dan mengadu kalau aku menghamili nya, karier aku akan hancur dan nama baik kita bakal tercoreng." Brian mencoba menakuti mama nya yang gila hormat itu.
"Mah, jadi mama merestui hubungan aku dengan Arumi kan?" Tuntut Brian memastikan.
Mama menoleh dengan wajah yang masih kesal dan masam. "Apa boleh buat!" Ketus mama dengan keluar ruangan.
"Makasih mah." Ucap Brian dengan lemah karena tak ada tenaga, walaupun hatinya ia akui sungguh sangat bahagia.
"Yes! Akhirnya." Gumam Brian dengan lega.
__ADS_1
Brian menghela nafasnya panjang dengan melihat ibunya yang hilang di balik pintu, lalu ia mengingat bagaimana hubungan antara dia dan kekasihnya itu.
"Gimana bisa hamil, jangankan buat celup-celup, colek-colek dikit aja gak pernah." Sambung Brian mengingat bagaimana Arumi kekasihnya itu pantang untuk di sentuh.
"Arumi pasti senang mendengar berita ini." Ucapnya dengan senyum kecil di bibir nya.
"Maaf De... Abang cari jalan seperti ini, semoga saja tidak akan membuat masalah nantinya." Pilu Brian mengingat jika caranya itu memang agak ekstrim.
"Maafkan Abang De." Ucapnya lagi merasa tidak enak hati pada Arumi.
***
Kembali lagi pada Arumi dan Brian.
"Kamu gak perlu tahu bagaimana cara Abang dapatkan restu itu, yang terpenting kedua orang tua Abang merestui hubungan kita." Jawab Brian tak memberi tahukan cara ia dapatkan restu dari kedua orang tuanya.
Brian mengusap lembut kepala Arumi dengan senyum hangat nya.
"Maaf De." Batin Brian menatap lembut wajah sang kekasih untuk menutupi rahasianya.
__ADS_1