Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)

Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)
bab 24 enam bulan


__ADS_3

Enam bulan kurang dua Minggu kemudian.


"De..." Panggil Brian, kini mereka sedang berada di rumah Arumi, hari ini Arumi sedang libur dan Brian pun sama tugas hari ini sedang kosong, ia pun menyempatkan diri untuk bertemu dengan kekasih nya itu.


"Hemm." Sahut Arumi yang tengah sibuk dengan laptop di atas mejanya, ia mengerjakan tugas seperti biasanya. 


Brian yang merasa di cueki merasa sebal sendiri, sengaja datang untuk bertemu Arumi malah terlihat sibuk padahal ini sudah waktunya libur kuliah. 


"Abang haus." Ucap nya.


"Ya minum kalau haus." Sahut Arumi sekenanya. Air minum sudah tersedia kok di sana tinggal minum beres kan.


"Tamu itu raja, mesti di layani dengan baik." Ujar Brian.


Arumi melirik sekilas pada Brian yang duduk di belakangnya. Lalu ia pun meraih air minum itu.


"Ini tuan..." Arumi menyodorkan minuman yang tersedia itu pada Brian berakting sebagai pelayan.


"Hemm makasih." Ucap Brian dengan mengulum sebuah senyuman.


"Dua Minggu lagi mungkin kita gak akan kayak gini lagi." Ucap Arumi dengan tenang. Duduk di samping Brian.

__ADS_1


"Ya, mungkin saja status kita akan berubah, dari sepasang kekasih menjadi sepasang suami istri." Kata Brian penuh makna.


"Kayaknya sebaliknya." Celetuk Arumi.


"Maksudnya?" Tak paham yang Arumi katakan tadi.


"Yang asalnya sepasang kekasih jadi mantan kekasih." Jelas Arumi dengan tercekat, sebenarnya ia tadi menyibukkan diri agar tidak ada adegan sedih seperti ini, karena dua Minggu lagi waktu enam bulan dalam perjanjian mereka akan usai sedangkan restu itu sepertinya belum Brian dapatkan, ingin bertanya namun seakan ia menekan atau memaksa keadaan, itu yang Arumi debatkan dalam hati nya.


"Suami istri." Tekan Brian dengan jelas.


Arumi melengoskan wajah nya. Tak mau berdebat panjang lagi.


"Aku ikhlas kok bang kalau memang kita tidak berjodoh." Pelan Arumi berucap seraya menunduk untuk menutupi rasa sedihnya.


"Aku bicara dari sekarang sama Abang agar aku bisa lebih siap ke depannya." Lanjut nya. "Mumpung ibu dan ayah tidak ada di rumah, karena mereka tidak pernah tahu masalah ini." 


Brian hanya diam saja, ia memang belum bisa mendapatkan restu itu, keras hati ibunya itu membuat ia kesulitan untuk meyakinkan kepada ibunya tentang Arumi yang pantas untuk dirinya nanti.


Arumi tidak pernah tahu bagaimana perasaan nya selama ini, ia tak bisa berpikir bagaimana caranya agar restu itu ia dapat. Melawan orang tua rasanya tidak baik untuk di lakukan nya sebagai seorang anak.


Lelah hati dengan segala tugas yang menumpuk membuat fisik nya pun mulai lemah, lalu sekarang ia harus mendengar ucapan Arumi yang seakan ia siap untuk mundur dan melepaskan diri untuk menjauhi nya.

__ADS_1


"Kamu mau mundur begitu saja?" Tatap Brian pada Arumi dengan penuh kekecewaan.


"Sesuai perjanjian kita dulu." Jawab Arumi begitu berat.


"Masih ada waktu dua Minggu, kenapa kamu sudah mundur?" Kecewa rasanya Brian pada Arumi.


"Karena percuma saja, kita tidak perlu menunggu sampai enam bulan." Jelas Arumi membuat Brian semakin kecewa.


Tubuhnya kini mulai tak nyaman, apakah karena mendengar ucapan Arumi barusan atau memang tubuh nya sedang tidak fit saat ini.


Tubuh nya tiba-tiba panas dan dingin, namun Brian tahan karena ia tak ingin melewatkan waktu bersama Arumi yang mungkin sebentar lagi.


"Apa kamu tidak memiliki ide, agar kita bisa menikah dengan cepat." Tatap sendu seorang Brian pada Arumi.


"Aku gak bisa kaya mendadak dalam satu malam bang. Aku gak bisa memposisikan diri aku sejajar dengan keluarga Abang secepat yang kita inginkan." Imbuh Arumi menatap pada Brian dengan tatapan tidak mungkin.


"Mungkin suatu saat nanti aku bisa, tapi tidak untuk sekarang." Lanjut nya dengan bersungguh-sungguh.


"Bukan itu yang Abang maksud De." 


"Lalu apa?" Bingung Arumi dengan ucapan Brian itu.

__ADS_1


"Jalan yang mudah dan cepat tentunya." Jawab Brian ambigu.


__ADS_2