
Brian menatap kembali wajah Arumi, yang kini sedang menyisir rambutnya yang masih lembab, memakai bando tanpa mengikat rambutnya yang panjang.
Cantik, benar-benar cantik gumam Brian. Ia tak salah memilih wanita yang ia jadikan istrinya itu.
Brian meraih handphone nya yang tergeletak di meja rias istrinya itu, lalu ia membuka galeri foto yang ada di handphone nya, selain untuk mengurangi rasa berdebar nya ia pun memilih untuk melihat foto-foto di dalam galeri itu saja. Galeri foto nya hampir penuh dengan foto Arumi yang ia ambil secara diam-diam kala mereka masih berpacaran.
"Abang mau tidur sebelah mana?" Tanya Arumi yang sama gugup nya.
Brian menyahut. "Dimana aja yang penting sama kamu." Tanpa melihat ke arah dimana Arumi bertanya, karena ia sibuk melihat foto Arumi berbagai macam.
"Serius banget." Arumi sedikit sebal, seraya naik ke atas ranjang merangkak dengan pergerakan pelan, untung saja tidak harus melewati tubuh Brian.
"Aku di sini aja, aku mau di pojok." Gumam Arumi pelan.
"Iya." Sahut Brian yang masih sibuk dengan handphone nya, malah terlihat menyunggingkan senyuman di bibirnya.
Arumi mengintip sedikit pada handphone yang Brian pegang karena rasa penasarannya.
"Ih Abang itu kan aku!" Dengan gerakan cepat Arumi merebut handphone Brian sampai ia mendapatkan nya dengan begitu mudah.
"Eh sini!" Brian mencoba merebut balik handphone itu namun Arumi tak memberikan nya.
__ADS_1
"Ini foto Abang dapat dari mana?" Melihat berbagai foto dirinya yang sedang tidak memakai jilbab. "Perasaan aku gak pernah kirim ke abang." Gumam Arumi terus melihat foto-foto itu. "Hemm Abang ambil dari handphone aku tanpa sepengetahuan aku ya?!" Tuduh nya dengan tatapan tajam pada Brian yang tersenyum kikuk.
"Sedikit." Kilah nya memalingkan wajahnya karena ketahuan mengambil gambar yang ada di galeri foto Arumi.
"Emh kapan?" Tanya Arumi.
"Waktu itu." Jawabnya.
Arumi memicingkan matanya. "Kok aku gak tahu!" Sesal nya. "Aku hapus!"
"Jangan!" Cegah Brian. "Ini buat kenang-kenangan." Ujar nya dengan merebut handphone nya itu dan dengan mudah karena Arumi sedikit oleng. "Apa lagi foto yang ini." Godanya memperlihatkan sebuah foto Arumi yang wajahnya begitu sembab terlihat sehabis menangis dengan rambut yang tergerai indah, menatap ke arah luar jendela kamarnya yang Brian yakini itu.
"Nangisi siapa sih? Kayaknya sedih banget." Goda Brian dengan senyum terkulum.
"Gak nangis! Cuma kelilipan." Elak Arumi dengan wajah bersemu.
"Abang pintar melihat ekspresi wajah orang, kamu gak tahu kan abang punya ke ahlian itu." Gumam Brian Arumi terlihat melirik.
"Ayo ngaku! Nangisi siapa? sampai sembab gitu. Matanya juga ampe bengkak." Goda Brian masih.
"Gak tahu ah." Kilah Arumi membaringkan tubuhnya dan menarik selimut lalu ia tutup semua tubuh nya dengan selimut karena ia malu.
__ADS_1
"Ayo ngaku!" Brian menarik selimut yang menutupi tubuh Arumi itu, dengan satu tarikan pun selimut itu terlepas. "Pasti nangisi cowok, siapa sih cowoknya?" Goda Brian menatap lekat wajah Arumi yang sedang berbaring itu.
"Gak ih." Arumi belum mengakui.
"Ayo ngaku." Brian menggelitiki pinggang Arumi agar mengaku namun Arumi terus mengelak, dengan tawanya karena ia kegelian.
"Aku geli bang!" Ucapnya pelan takut terdengar oleh kedua orang tuanya, Arumi malu namun tak kuat dengan gelitikan Brian pada pinggang nya.
"Haha abang udah cukup." Mohon Arumi. dengan tawa. Arumi tetap tak mau mengakui, sehingga membuat Brian terus menggodanya dengan terus menggelitiki bagian tubuh Arumi membuat mereka tanpa sadar tubuh mereka begitu menempel bahkan Brian kini menghimpit tubuh Arumi yang ada di bawah nya.
Pelan namun pasti Brian mendekatkan wajahnya pada wajah Arumi yang begitu dekat itu dan cup, bibir Brian menyambar bibir Arumi dengan cepat, tak ada penolakan dari Arumi, membuat Brian semakin bebas untuk memper-dalam ciumannya, ******* dan ******** walaupun Arumi belum bisa membalas ciuman nya, tapi membuat gelora panas di dalam tubuh Brian semakin meningkat dan menginginkan sesuatu yang lebih dari ini.
Arumi terengah-engah ketika dengan buas nya Brian saat menciumnya, Brian melepaskan tautan itu lalu menatap lekat wajah istri yang baru saja sah tadi pagi itu dengan mata yang berkabut.
"Aku mencintaimu Arumi, sangat mencintaimu." Bisik nya dengan tatapan tak lepas. Arumi hanya bisa membalas menatap suaminya itu dengan senyum kecil di bibirnya.
"Malam ini kita buat malam kita indah, apa kamu siap?" Bisik Brian terus menatap wajah istrinya yang ada di bawah nya itu.
Arumi tampak mengangguk pelan, walaupun ia sebenarnya tidak tahu malam indah seperti apa, yang jelas ini malam pertama bagi mereka berdua, tidur dalam satu kamar dan satu ranjang.
Dan pada akhirnya Brian yang sudah tidak sabar kembali menyambar bibir manis Arumi untuk memanaskan kembali tubuh mereka.
__ADS_1