
Keberangkatan dari rumah Arumi ke kampung halaman Brian membutuhkan waktu 4 jam dengan menggunakan pesawat. Arumi yang baru pertama kalinya menaiki pesawat sedikit takut membuat Brian tersenyum melihatnya. Namun dengan perhatian Brian mencoba menenangkan Arumi.
Menempuh perjalanan yang cukup membuat hati berdebar, kini Brian dan Arumi sampai tepat di rumah kedua orang tua Brian.
Rumah yang ada di hadapannya, walaupun tak semewah istana, namun bagi Arumi yang terbiasa hidup sederhana itu terlihat sangat mewah di matanya.
Brian dan Arumi turun dari taksi yang mereka pesan untuk mengantarkan mereka. Brian tak lepas menautkan tangan pada tangan Arumi.
Mereka kini berdiri di depan gerbang rumah orang tua Brian tempat dimana Brian tumbuh besar.
"Ini rumah orang tua Abang." Ucap Brian memberi tahu. "Ayo kita masuk." Ajaknya.
Arumi menarik tangannya yang di genggam oleh Brian, membuat ia menghentikan langkah Brian yang menarik tangan itu.
"Kenapa?" Brian menatap lekat wajah Arumi yang terlihat tegang.
"Aku takut." Jawab Arumi merasa takut bertemu dengan mertuanya itu.
"Kenapa takut? Orang tua Abang sudah merestui hubungan kita." Brian menenangkan. "Jadi ayo!" Ajaknya.
__ADS_1
Arumi masih terdiam, ia selalu ingat dengan kata-kata ibu suaminya itu. "Aku..."
"Ayo, gak apa-apa, ada Abang." Brian meyakinkan Arumi.
Arumi menatap wajah Brian, lalu menarik nafas dalam-dalam mengangguk pelan. Brian tersenyum.
"Ayo!" Brian pun menarik tangan Arumi untuk berjalan beriringan.
***
Masuk ke dalam rumah, seorang pembantu yang tadi membukakan pintu tersenyum ramah pada Brian dan juga Arumi. Namun tak tampak kedua orang tua Brian di sana, rumah terlihat sepi.
"Sepertinya mama sama papa ada di atas, kita tunggu di sini saja." Ujar Brian, yang tadi sudah menyuruh pembantunya untuk memberi tahukan kedua orang tuanya tentang kedatangan nya saat ini.
"Kalian sudah datang?" Suara papa nya Brian terdengar dari arah tangga, membuat Arumi dan Brian menengok lalu berdiri karena tak hanya papa yang sedang berjalan ke arah mereka namun mamanya Brian pun menghampiri mereka dengan tatapan yang sulit di tebak, membuat Arumi menatap sungkan.
"Ya pah, baru saja sampai." Sahut Brian.
Arumi yang tahu kesopanan pun menyalami papa dan mama mertua nya. "Pah, mah apa kabar?" Tanya Arumi pelan.
__ADS_1
"Kami sehat. Papa juga mama berharap kalian juga sehat." Jawab papa dengan raut wajah ramah nya sedangkan mama diam saja.
"Kalian sudah makan?" Papa yang bertanya bukan mamanya Brian, ia hanya mendengarkan apa yang di bicarakan suami dan putra nya itu tanpa mau menyapa Arumi yang berdiri di samping Brian.
"Sudah tadi di jalan." Jawab Brian.
Papa mengangguk. "Ya sudah kalian istirahat saja dulu, nanti kalau lapar kalian tinggal bilang saja sama bibi." Ucapnya.
"Ya pah." Sahut Brian. "Kami ke kamar dulu." Pamit Brian yang melihat mamanya hanya diam saja membuat ia merasa kasihan pada Arumi yang pasti merasa kecil hati. Papa mengangguk.
"Hemm." Sahut mama dengan ekspresi wajah tak suka nya, namun terlihat hanya oleh suaminya saja, karena Arumi dan Brian sudah naik ke tangga menuju kamar nya.
"Mama sepertinya belum merestui sepenuhnya hubungan Brian dan Arumi?" Melihat bagaimana sikap istrinya tadi.
"Sampai kapanpun mama gak akan pernah merestui hubungan mereka." Dingin mama berucap.
"Sudahlah mah, Brian sangat mencintai Arumi, dan sekarang Arumi sedang hamil calon cucu kita, jadi berbesar hatilah untuk kebahagiaan pernikahan mereka." Papa yang memang sudah benar-benar merestui dan tak ambil pusing dengan bagaimana Arumi yang ada di kalangan orang sederhana menurut istrinya.
"Pokoknya mama tetap tidak akan bisa menerima perempuan itu menjadi menantu mama!" Tegas mama dalam berucap.
__ADS_1
"Terserah mama saja." Balas papa seraya meninggalkan istrinya sendirian di sana.
"Kelebihan apa yang dia miliki untuk aku banggakan." Gumam kesal mama Brian melihat ke arah tangga dimana sudah tak terlihat Brian dan Arumi. Ia mencela sosok Arumi. "Sampai kapan pun aku tidak akan mengakui pernikahan ini terjadi." Kekeh mama tak akan terima begitu saja.