
"Kita mau kemana bang?" Tanya Arumi, malam ini mereka kini tengah berada di dalam mobil.
"Abang mau ajak kamu jalan-jalan, biar gak suntuk di dalam rumah terus." Jawab Brian menatap sekilas istrinya yang duduk di sampingnya.
"Kemana?" Terlihat antusias di wajah Arumi, ya dia memang tidak begitu nyaman berada di rumah mertuanya, jika saja tak mengenal adab kesopanan, ia tak ingin menginjakkan kaki dan tak mau bertemu dengan mertuanya itu, namun ini demi hormat nya ia pada mertuanya yang kini sudah ia anggap sebagai orang tua nya juga.
"Ke suatu tempat, nanti kamu akan tahu." Senyum Brian menggoda Arumi agar istrinya itu penasaran.
"Tapi kita makan di tempat yang sering abang kunjungi dulu ya." Ujar Brian.
Arumi mengangguk.
"Gak apa-apa kan? Atau kamu sendiri yang mau cari tempat." Tawar Brian.
"Emh aku ikut Abang aja, aku kan gak tahu tempat-tempat bagus di sini." Arumi menolak, ini memang pertama kalinya bagi dia.
"Emh baiklah." Senyum Brian lembut, ia pun mengusap tangan Arumi yang ada di pangkuannya lalu menciumi nya.
"Nyetirnya yang benar bang." Omel Arumi karena ia sibuk dengan memainkan tangannya. Brian mencium gemas tangan Arumi.
"Ok sayang siap!" Serunya membuat Arumi geleng-geleng.
***
"Kita turun ya." Brian menghentikan mobilnya di sebuah parkiran, dimana di depannya terlihat banyak penjual makanan. Di sana tersedia tempat duduk yang begitu nyaman suasananya, penjualnya sederhana, namun suasananya membuat orang akan betah berlama-lama di sana.
"Ini tempat favorit abang." Ucapnya saat mereka sudah turun dari dalam mobil.
"Ayo." Ajak Brian seraya menggenggam tangan Arumi mengajak Arumi melangkahkan kakinya.
Mereka berjalan beriringan menuju tempat yang menjual beberapa makanan yang selalu Brian nikmati semasa ia masih muda dulu.
"Malam pak, apa kabar?" Sapa Brian pada seorang penjual berumur itu.
__ADS_1
Pak tua bernama ikhsan itu pun menoleh melihat siapa yang menyapa nya.
Dia mengerutkan keningnya menatap lekat-lekat pada wajah pemuda tampan dan gagah itu.
"Siapa ya?" Tanya nya, ia tak mengenal lebih tepatnya sedikit lupa.
Brian tersenyum. "Saya Brian pak, bapak lupa saya ya?"
Bapak tua itu mengingat-ingat. "Aaahh nak Brian, si kapten itu." Serunya seraya menepuk-nepuk pundak kekar pemuda itu. "Beda banget kamu nak." Puji nya. "Bapak pangling." Lanjut nya.
"Belum jadi kapten pak masih jauh proses nya." Kelakar Brian.
"Tapi pasti nih jadi kapten." Yakin pak ikhsan.
"Aamiin pak terima kasih." Ucap Brian dengan tersenyum.
"Sudah lama gak pernah kesini, sibuk ya?" Tanya pak ikhsan, rasanya memang sudah lama tak bertemu dengan pelanggan nya itu.
"Dan ngomong-ngomong perempuan cantik di samping kamu siapa nih?" Pak ikhsan melirik Arumi yang tadi diam dengan senyum hangatnya.
"Kenalkan pak ini istri saya, Harumi." Ucapnya memperkenalkan.
"Wah hebat kamu nak, sudah lama tidak pulang sekalinya pulang kampung bawa istri cantik." Goda nya seraya kembali menepuk bahu Brian.
"Bapak bisa saja, tahu kalau istri saya memang sangat cantik." Puji Brian, melirik Arumi, Arumi mencubit pinggang Brian karena malu di puji seperti itu. Brian menghindar dengan refleks.
"Hahaha." Pak ikhsan tertawa.
Arumi mengulurkan tangannya yang di terima oleh pak ikhsan. "Kenalkan saya Harumi." Ucap Arumi.
"Saya bapak ikhsan, nak Brian ini pelanggan setia saya." Ucap pak ikhsan. "Nak Brian ini laki-laki yang baik, semoga kalian selalu bahagia." Doa nya.
"Aamiin." Sahut Arumi dan Brian bersamaan dengan senyum bahagia mereka.
__ADS_1
"Mau makan sekarang?" Tanya pak ikhsan. Brian mengangguk. "Di sini atau mau di bungkus?" Tawarnya.
"Di sini saja pak, sekalian kencan." Kelakar Brian.
"Bapak setuju, ya sudah kalian pilih saja tempat duduknya, nanti bapak buatkan yang spesial untuk pelanggan terspesial." Pak ikhsan berseru dengan semangat.
Brian dan Arumi pun mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka duduki.
Mereka duduk dengan berhadap-hadapan.
"Abang sering kesini?" Tanya Arumi membuka obrolan.
"Ya, sering banget." Jawabnya. "Dari Abang masih sekolah dulu." Lanjutnya.
"Sama siapa?" Arumi menjadi penasaran.
"Teman-teman Abang." Jawabnya lagi.
"Laki-laki atau perempuan?" Selidik Arumi karena Brian terdengar pendek-pendek saat menjawab.
"Laki-laki." Jawabnya seraya membuka pesan di handphone nya, sebuah pesan ia terima.
"Yakin?" Arumi menatap Brian seraya merebut handphone di tangan suaminya itu karena ingin memastikan.
Brian malah tersenyum bukan nya marah atau kesal saat handphone nya di ambil paksa oleh Arumi.
"Mulai posesif nih ceritanya?" Goda Brian. "Kenapa cemburu?" Kembali ia menggoda istrinya yang jarang-jarang bersikap seperti itu.
"Memangnya gak boleh? Abang gak suka?" Todong Arumi dengan pertanyaan nya. "Wajar kan aku tanya seperti itu? Sekarang aku istri Abang, Abang suami aku dan udah jadi mantan pacar aku." Tegasnya.
"Hemmm suka. Suka banget malah." Ucap Brian menatap tegas pada istrinya itu, dia memang suka jika istrinya mengungkapkan rasa cemburunya.
"Abang gak punya teman perempuan, semua laki-laki." Terangnya. "Kalau gak percaya kamu bisa tanya sama pak ikhsan." Ujarnya.
__ADS_1
"Teman perempuan memang gak punya, tapi fans perempuan banyak kan?" Sebal Arumi dengan wajah nya yang cemberut.
"Hemmm gak apa-apa fans banyak yang penting kan istri hanya satu. Yaitu Harumi Jasmine, perempuan yang memenuhi relung hati abang." Tegas Brian menjawab dan menatap Arumi penuh cinta, membuat Arumi melengos tersipu malu.