Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)

Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)
bab 40 sarapan mertua


__ADS_3

Pagi untuk sarapan bersama hampir selesai, karena jam pagi tadi yang Arumi rencanakan gagal total gegara tingkah suaminya yang meminta hak nya di pagi hari, membuat Arumi malu dan semakin merasa tidak enak hati. Bayangkan saja hari pertama nya berada di rumah mertuanya ia terkesan seperti menantu pemalas.


Brian yang pagi ini wajah nya terlihat sangat cerah karena mendapatkan apa yang ia inginkan, tanpa peduli dengan ekspresi ibunya saat ini. 


"Pagi mah, pah." Sapa Brian dengan riang, seraya menggenggam tangan Arumi, membawanya ke arah meja makan tanpa beban. Ayahnya mengangguk dengan menyeruput kopi nya sedangkan ibunya hanya diam saja.


Brian menarik kursi untuk istrinya. "Ayo duduk sayang." Mempersilahkan Arumi untuk menduduki kursi itu.


Arumi tampak ragu, namun Brian tersenyum lembut menatap nya, membuat Arumi pun segera mendaratkan bokong nya pada kursi.


"Terima kasih bang." Ucap pelan Arumi. Brian hanya membalas dengan mengelus kepala Arumi yang terbalut jilbab itu dengan lembut.


"Maaf kami terlambat." Ujar Brian setelah ia pun duduk di kursi sebelah Arumi. Brian mengambil makanan yang ada di atas meja lalu menaruhnya di atas piring Arumi.


"Makan yang banyak, biar kuat." Bisik Brian dengan senyum penuh arti.


Arumi yang memang tak akan berani mengambil makanan yang tersedia di meja pun melirik malu pada Brian, ia senang suaminya itu peka jika dirinya belum terbiasa dan tidak nyaman dengan keadaan di sana.


"Sudah cukup." Cegah Arumi ketika suaminya itu menambahkan makanan nya hampir penuh di piringnya.


"Ini terlalu sedikit, kamu harus banyak makan." Brian tak puas melihat isi di piring Arumi yang menurutnya sedikit.

__ADS_1


"Sudah cukup, nanti kalau mau lagi aku nambah." Ujar Arumi.


"Baiklah, jangan sungkan ya." Ucap Brian, ia pun mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Arumi mengangguk, ia mulai memakan makanannya ketika Brian sudah memulai makan makanannya juga. Brian makan dengan tenang, rapi dan tak banyak bicara. 


"Jadi istri seorang ABRI itu harus bangun pagi-pagi, sebelum suami bangun kita sebagai istri sudah lebih dulu bangun." Tiba-tiba mama mertua berbicara dengan nada santai namun menusuk.


"Jangan malas dan harus mandiri juga." Lanjut nya. "Mual dan muntah itu jangan di jadikan alasan untuk kita bermalas-malasan dalam menyiapkan kebutuhan suami." Lagi mama mertua berucap dengan raut judesnya.


"Iya mah." Jawab Arumi sangat pelan. Ia sadar jika ucapan mertuanya itu di tujukan padanya.


Arumi melirik sekilas pada wajah Brian lalu menatap ragu pada mertuanya. "Maaf mah." Sahut nya. 


"Arumi lagi sakit mah, apa salahnya juga jika aku melayani Arumi, aku senang kok melakukan nya." Bela Brian dengan lembut tanpa mau menyakiti perasaan ibunya ataupun Arumi nantinya, dua wanita itu adalah orang-orang yang sangat ia cintai.


"Kamu jangan lemah jika jadi laki-laki, jangan takut sama istri!" Ketus mama.


"Ini bukan masalah takut mah, tapi aku menyayangi Arumi dengan mencoba melakukan hal yang bisa aku lakukan. Tidak salah kan?" Brian berucap dengan penuh kehati-hatian, ia harus menjaga perasaan ibunya yang memang belum menerima kehadiran Arumi sebagai menantu nya.


"Sudahlah mah, biarkan mereka menghabiskan sarapannya terlebih dahulu." Sela papa mertua yang sejak tadi memperhatikan obrolan istri dan juga putra nya.

__ADS_1


Mama mertua mendelik tidak suka pada suaminya itu.


***


"Jangan di ambil hati ucapan mama ya." Brian menatap lembut wajah istrinya setelah sarapan mereka selesai. 


Arumi mengangguk. "Iya." Balas Arumi cepat.


"Kamu yang kuat ya, Abang akan selalu ada buat kamu." Ucap yakin Brian, ia tak ingin jika istrinya akan merasa sakit hati dan memilih pergi meninggalkannya karena ucapan pedas ibunya.


Arumi tersenyum kecil, ia akui jika hatinya sakit dengan ucapan mertuanya itu, dari dulu memang ibu dari suaminya itu selalu pedas saat berbicara padanya.


"Aku akan kuat demi abang." Jawab Arumi dengan tatapan serius, ya Brian lah yang membuat ia harus kuat memiliki mertua kejam seperti mertuanya itu.


"Terima kasih sayang, abang akan berusaha membuat mama bisa melihat kebaikan dan ketulusan kamu." Brian meraih tubuh Arumi dalam pelukan dan mengecup kening istrinya itu berkali-kali.


Arumi mengangguk pelan di pelukan Brian, laki-laki ini lah yang menjadi penyebab dirinya masuk ke dalam keluarga ABRI yang penuh dengan hormat.


Brian merenggangkan pelukannya. "Cup cup cup. Abang sayang kamu." Brian mengecupi wajah Arumi dengan gemas. 


"Aku juga sayang Abang." Arumi memeluk dengan pelukan mengerat pada tubuh Brian. Ia memang mencintai laki-laki itu dengan sepenuh hati nya.

__ADS_1


__ADS_2