
"Wah kode nih ceritanya." Amar menaik turunkan kedua alisnya menggoda Arumi.
Deg kata-kata itu mengingatkan Arumi pada sang kekasih si Hitam manis berlesung pipinya itu, yang sudah dua pekan ini tak pernah bertemu. Jangankan untuk bertemu membalas pesan nya saja lama terbalas, bahkan tengah malam baru di balas olehnya sedangkan Arumi sudah bermimpi dalam tidurnya.
Ah sesibuk itu kah? Sampai kekasih nya itu tak bisa membalas pesan dari nya. Atau dia sedang membalas dendam karena dulu ia pernah mengabaikan nya bahkan berniat menjauhinya.
Serindu inikah rasanya ketika merindukan seseorang yang ada di hati nya.
Tapi posisinya saat itu berbeda!
Arumi menatap lekat namun kosong pada wajah Amar saat ini. Lelaki di hadapannya ini adalah lelaki yang sering mengejar nya dan bahkan sudah sering ia tolak.
Dengan lelaki ini mungkin saja kisah cinta nya akan berjalan dengan mulus lancar dan tak akan ada kendala, karena sang ibu dari Amar adalah ibu dosen yang membimbingnya nya, dosen yang banyak di kagumi dan di hormati karena kebaikannya, dan ia cukup dekat dengan beliau. Bahkan terkadang Arumi sering membantu dosennya itu dalam merekap nilai teman sekelasnya.
Lalu kenapa ia masih bertahan dengan cinta yang sulit, cinta yang penuh drama dan cinta yang berbelit-belit, ah jawaban pertama nya adalah cinta ABRI (Arumi dan Brian) judulnya saja seperti itu.
"Hei... Jangan menatap ku seperti itu." Amar menjadi salah tingkah di buat nya karena tatapan Arumi pada nya.
"Aku memang ganteng Arumi. Tapi aku juga malu di tatap oleh kamu seperti itu." Seru Amar karena Arumi masih dalam lamunannya.
"Hei!" Amar menyadarkan lamunan Arumi. Baru saja dia berbunga-bunga karena tatapan Arumi itu, eh ternyata gadis itu tengah melamun.
__ADS_1
"Ih Amar! Jangan pegang-pegang." Kesal Arumi saat tangan Amar itu berada di pundaknya.
"Eh maaf. Tadi kamu bengong, mikirin apa sih? Kamu gak usah mikirin aku, aku akan ada selalu untuk kamu." Goda Amar masih gencar.
Plak... Tamparan pelan pada lengan berbalut kemeja itu mendarat.
"Siapa juga yang mikirin kamu." Sebal Arumi. "Dengar ya Amar aku gak akan termakan sama ucapan playboy seperti kamu." Ucap Arumi.
"Eits enak saja playboy!" Sarkas nya tak terima. "Playboy itu sering gonta-ganti pacar, atau pasangan. Nah aku playboy dari mana nya pacar saja gak punya." Urai nya.
"Lalu itu cewek-cewek!" Sarkas Arumi tak mau kalah.
"Mereka itu pengagum bukan pacar." Jawab nya jujur.
"Mereka hanya mengagumi ku, tapi aku hanya mengagumi mu." Gombal Amar membuat Arumi bereaksi seperti ingin muntah.
"Balikin buku aku Amar! Jangan bikin aku kesal!" Ucap Arumi mengingat buku tebal masih di tangan Amar. Gombalan Amar bagai angin lalu di telinga nya. Tapi bagi Amar dia sedang mengutarakan isi hatinya lagi.
"Ambil saja." Amar mengacungkan buku itu ke udara dengan berlari ke arah gerbang. Arumi pun mau tidak mau harus mengejarnya dengan rasa kesalnya.
"Balikin Amar!" Teriak Arumi seraya mengejarnya.
__ADS_1
"Terima dulu ajakan aku, setidaknya kamu tidak menolak saat aku ajak jalan." Balas Amar sama berteriak dengan tawa riang karena Arumi mengejar nya. Bagai adegan dalam film India.
Arumi malu karena di kampus masih ada anak-anak. Ia terus mengejar Amar yang berlari ke arah luar gerbang dengan buku tebal miliknya.
"Amar! Balikin!" Kesal dan marah jadi satu sekarang di hati Arumi. Amar tertangkap oleh Arumi kemeja yang ia kenakan Arumi tarik membuat Amar berhenti. Arumi menghadang langkah Amar yang akan berlari lagi itu.
"Balikin Amar!"
Buku tebal itu di acungkan oleh Amar. Tubuh tinggi itu tak bisa Arumi gapai karena tinggi tubuhnya jauh di bawah Amar.
Arumi berjinjit untuk meraih dan merebut buku itu dari tangan Amar, namun masih saja tidak sampai.
"Balikin Amar!" Geram Arumi seraya mencoba meraih buku itu dengan tubuh begitu dekat berhadapan dengan tubuh jangkung Amar.
"Terima dulu ajakan aku, atau terima perasaan cinta aku." Tawar nya dengan wajah penuh canda. Amar malu karena sering di tolak namun jiwanya tak akan gencar.
"Jangan bercanda Amar! Aku lagi buru-buru."
"Aku gak bercanda Arumi." Jujur nya tatapan mereka begitu dekat, tangannya masih mengacung ke udara dengan buku di atasnya.
Arumi berjinjit kembali untuk meraih nya, namun ketika Arumi berjinjit dan Amar masih kekeh mereka sibuk dengan saling berebut, tak menyadari seseorang yang sedang menahan kekesalannya melihat adegan manis itu.
__ADS_1
"Ekhem!" Deheman keras terdengar di belakang tubuh Arumi.