Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)

Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)
Bab 23 mode serius


__ADS_3

Dengan sedikit heran dan sedikit tegang di buatnya, Brian menunggu Arumi yang masih ada di dapur. Apa pikiran Brian itu terlalu berlebihan, mana mungkin seorang Arumi membawa pisau untuk menusuk nya, Brian yang seorang tentara selalu siap siaga dengan pikiran jauhnya.


Mendengar deru langkah dari belakang nya membuat Brian membalikkan tubuhnya melihat ke arah dimana Arumi tengah membawa pisau dengan sebuah wadah kecil di tangan nya.


"Kita makan buahnya ya." Kikuk Arumi melihat wajah Brian ia jadi mengingat adegan tadi sebelumnya.


"Jadi kamu bawa pisau buat kupas buahnya De?" Pertanyaan konyol terlontar dari mulut Brian.


Arumi mengangguk. "Iya, memang untuk apa lagi?" Heran Arumi.


Mengambil satu buah apel untuk ia kupas kulitnya, namun Brian dengan cepat merebut buah dan pisau itu dari tangan Arumi.


"Biar Abang aja yang kupas kulitnya, kamu kan lagi sakit." Ujar Brian seraya memulai mengupas buah itu. "Biar Abang yang rawat kamu sekarang."


Arumi memandang teduh samping wajah kekasihnya itu, perhatian kecilnya ini yang membuat Arumi sulit untuk melepaskan Brian.

__ADS_1


"Emh bang." Panggil Arumi ragu.


"Ya ada apa Ade sayang." Sahut Brian tanpa menatap Arumi yang memanggilnya itu ia tengah asyik memotong buah apel itu agar mudah di makan oleh kekasih hati nya yang sedang sakit.


Arumi mengulum senyum di bibirnya. Senang di panggil sayang oleh sang pujaan hati. "Kalau seandainya enam bulan terakhir Abang belum bisa membuat orang tua Abang menerima aku, apa yang akan Abang lakukan?" Tanya Arumi dengan raut serius.


Brian memberikan buah yang siap di makan itu ke mulut Arumi sebelum ia menjawab pertanyaan Arumi.


"Aaaa. Buka mulut kamu." Titahnya lembut Arumi membuka mulutnya manut dan Brian memasukkan buah itu ke dalam mulut Arumi. Arumi mengunyahnya secara perlahan karena dagu nya yang terasa sakit saat ia gerakkan. "Enak?" Tanyanya. "Manis gak?" Tambah nya lagi membuat Arumi hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Manisan Abang atau buah ini?" Lanjut nya menggoda Arumi yang tengah serius itu.


"Masa sih." Goda Brian lagi.


"Jangan mengalihkan pembicaraan." Ucap Arumi sebal.

__ADS_1


Menarik nafas panjang yang kini Brian lakukan, ini mode serius.


"Emh... bawa kamu kawin lari kali ya." Seru Brian dengan santai.


"Cape." Sahut Arumi sebal karena Brian tidak menjawab dengan serius. Ia hanya ingin tahu apa dia akan berjuang atau mundur secara perlahan. Namun jawabannya tak membuat Arumi puas.


"Kamu gak usah memikirkan hal itu, jika kita berjodoh pasti ada jalan Tuhan yang di tunjukkan oleh Nya dengan mudah." Ucap Brian dengan serius. "Kita tunggu saja enam bulan kemudian." Ucap nya lagi.


Arumi mengangguk membenarkan ucapan Brian, jika memang mereka berjodoh semua yang sulit akan mudah. Dan yang mudah akan terasa sulit.


Brian tersenyum lalu mengusap lembut kepala Arumi berbalut jilbab itu. "Abang sayang kamu, mama Abang hanya belum membuka mata hati nya, mama hanya memikirkan dirinya sendiri padahal anaknya yang mau nikah." Ucap Brian sedikit kesal pada ibunya itu.


"Wajar kok, seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya." Gumam Arumi sok tegar padahal hatinya ikut sakit, tidak di restui karena berbeda tahta.


"Kamu gak marah kan?" Memastikan jika perlakuan ibunya itu tidak menyakiti perasaan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Gak." Jawab Arumi cepat dengan senyum nya.


"Tapi merasa terhina." Lanjut nya dalam hati.


__ADS_2