
"Kedua orang tua saya akan datang kesini Minggu depan, untuk melamar Arumi secara resmi." Ucap Brian penuh semangat hatinya benar-benar sangat bahagia.
"Baik, kami tunggu." Balas ibu.
"Ya sudah kalau begitu kalian ngobrol saja dulu ya, ayah seperti nya harus segera istirahat." Melihat bagaimana ayah yang seperti kelelahan.
Melihat kepergian ibu dan ayahnya masuk kedalam membuat Arumi menatap Brian meminta sebuah penjelasan padanya, Brian hanya tersenyum melihatnya, namun ia pun menggeser posisi duduknya tepat duduk di samping Arumi yang menuntut jawaban nya.
"Boleh lihat tangan kirinya." Pinta Brian tiba-tiba membuat Arumi heran.
"Untuk apa?" Penasaran Arumi.
"Sebentar saja." Pintanya dengan lembut.
Arumi mengulurkan tangan kirinya pada Brian, Brian langsung menangkap tangan lembut itu untuk ia genggam sejenak.
Tangan Arumi masih di genggaman, ia merogoh saku di jaket berwarna army nya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Ia membuka kotak merah itu dan terlihatlah sebuah cincin yang indah di sana. Arumi terkejut melihatnya.
Brian mengeluarkan cincin indah itu lalu memasangkan cincin itu pada jari lentik Arumi.
"Pas dan cantik." Puji Brian ketika cincin itu melingkar di jari manis kekasihnya.
"Bang." Panggil Arumi pelan.
"Sebagai pengikat sementara, nanti di ganti dengan yang baru ketika kedua orang tua Abang datang kesini." Jelas Brian dengan keterkejutan Arumi.
"Abang udah siapkan." Sambung Brian.
__ADS_1
Arumi tak bisa berkata apa-apa lagi hatinya kini sedang bahagia walaupun terkejut karena Brian tidak mengatakan apapun sebelumnya.
"Kok bisa?" Gumam Arumi.
"Apanya?" Brian mengerutkan keningnya.
"Kenapa bisa orang tua Abang bisa merestui hubungan kita." Tuntut Arumi dengan rasa tak percaya nya.
Brian tersenyum menampilkan lesung pipi tanpa langsung menjawabnya.
Flash back
Brug. Brian tiba-tiba pingsan ketika ia akan membicarakan soal kepulangan hari itu pada keluarganya, membuat orang di sana terkejut dan khawatir melihatnya.
"Badannya panas pah, kita harus bawa anak kita ke rumah sakit." Ucap sang mama Brian khawatir dengan keadaan sang anak yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.
"Ya sudah kita siap-siap, papa yang bawa mobil." Sahut papa Brian juga sama khawatir nya.
"Ayo pah cepat bawa mobilnya, putra mu ini panas sekali tubuh nya." Panik bercampur khawatir ketika mama Brian yang duduk di belakang kemudi untuk menjaga Brian.
"Bangun Brian! Jangan buat mama sama papa khawatir." Mama Brian mencoba untuk menyadarkan Brian yang masih tidak sadarkan diri itu. Ia jarang sekali mendengar Brian sakit, namun dulu ketika Brian masih belum menjadi TNI masih tinggal bersamanya, ia memang jarang sakit tapi sekali nya sakit Brian memang selalu saja harus di bawa ke rumah sakit, membuat mama Brian semakin khawatir mengingat kejadian Brian ketika ia masih remaja.
Sesampainya di rumah sakit Brian langsung di tangani oleh para petugas rumah sakit dan dokter di sana. Sedangkan kedua orang tua nya menunggu di luar ruangan tak jauh dimana UGD berada.
Singkat cerita, Brian sudah sadarkan diri dengan infus di tangannya berbaring di sebuah kamar inap VIP.
"Mah aku ini kenapa?" Tanya Brian saat ia melihat mama nya yang sedang menunggunya. Ketika ia tersadar sudah berada di ruang inap dengan tangan terinfus.
__ADS_1
"Kamu pingsan semalam, bikin khawatir aja." Jawab mama.
"Pingsan?" Ia tidak mengingat ketika dirinya pingsan tadi malam, namun memang tubuhnya sudah merasa tidak nyaman saat perjalanan pulang itu. Mama Brian mengangguk.
"Lalu dokter bilang apa?" Lagi Brian bertanya.
"Dokter bilang kamu kena DBD, dan kamu butuh istirahat." Jelas mama. "Kamu jarang pulang sekalinya pulang bawa penyakit." Imbuh mama. "Mama heran kok bisa seorang tentara di gigit nyamuk bisa sampai demam begitu." Dengus mama meledek anak pertama nya itu.
"Aku manusia juga mah, bukan robot atau pun makhluk halus." Sahut Brian dengan suara lemah dan ekspresi sebalnya. Mama hanya menggelengkan kepalanya dengan jawaban Brian itu tanpa mau menimpali.
"Cepat sembuh, cepat sehat juga. Penyakit kamu itu berbahaya." Ujar mama mendoakan.
Brian mengangguk lemah lalu menengok kanan kiri mencari sesuatu. "Handphone aku mana mah?" Tanya Brian berniat mengabarkan Arumi dengan keadaan saat ini.
"Handphone kamu ada di rumah, mama gak sempet bawa handphone kamu karena panik." Jawabnya.
Brian berdecak pelan. "Aku mau nelpon Arumi." Jelas nya.
"Kamu masih berhubungan dengan gadis itu?!" Mama menjadi kesal saat ia tahu putranya itu akan menelpon Arumi.
"Mah." Protes Brian.
"Sampai kapanpun mama gak akan merestui hubungan kamu dengan gadis bernama Arumi itu!" Tegas mama.
"Mah, aku lagi sakit. Bagaimana jika ini permintaan terakhir aku sama mama, untuk merestui hubungan kami." Lirih Brian. "Jika mama memang gak mau merestui, lebih baik Brian sakit dan gak sembuh lalu..."
"Stop Brian, jangan bicara seperti itu!" Sela mama dengan marah.
__ADS_1
"Kamu harus sembuh dan sehat, jangan cari kesempatan dalam kesempitan, mentang-mentang kamu sekarang lagi sakit, hidup dan mati itu Tuhan yang mengatur." Kesal mama kembali.
"Pokoknya mama tetap dengan pendirian mama!" Tegasnya.