Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)

Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)
bab 14 si playboy karet


__ADS_3

Dua minggu kemudian, Arumi maupun Brian sama-sama sibuk dengan kegiatannya dalam seminggu ini. 


Brian sibuk dengan melatih tembak menembak anggota baru nya, sedangkan Arumi sibuk sebagai mahasiswi dan membantu ibunya sepulang dari kampus.


"Aku mesti cepat ke kedai ibu." Gumam Arumi dengan langkah terburu-buru. "Hari ini pasti ramai banget, dan banyak yang beli juga." Lanjut nya.


Langkah terburu-buru, dengan membawa buku tebal di dekap di dadanya. Hari ini ia akan membantu ibunya di asrama tempat ibunya berjualan, di sana sedang ada acara. Ibu bilang acara di sana sampai malam dan ibu meminta bantuan nya.


Langkah terburu-buru itu terlihat oleh seseorang yang memperhatikan gerak gerik Arumi selama ini. Ia pun mengikuti nya di belakang Arumi untuk mensejajarkan tubuhnya dengan gadis itu.


"Arumi...!" Teriaknya.


Arumi yang mendengar sebuah panggilan padanya pun menoleh. Arumi menatap malas ketika ia tahu siapa yang memanggilnya itu. Tanpa menghentikan langkah Arumi menghiraukan panggilan itu dan melanjutkan langkahnya lagi.


Pemuda tampan bernama Amar itu mendengus sebal karena merasa di hiraukan dan merasa di cueki oleh Arumi teman sekelasnya itu, padahal para gadis di kampus nya selalu mencari perhatian bahkan banyak diantara mereka dengan terang-terangan memuji dan menyukainya.


"Hei Arumi... Tunggu!" Teriaknya tak menyerah. 


Tapi lagi-lagi Arumi tak menggubrisnya ia terus melangkahkan kakinya menuju gerbang kampus agar segera sampai di kedai ibunya.


Amar yang masih penasaran kenapa gadis cantik berjilbab itu begitu terburu-buru dan menghiraukan panggilannya cepat berlari untuk mengejar langkah Arumi.


"Si playboy karet itu mau ngapain lagi manggil-manggil." Sungut Arumi mendumel.


Hap... Amar berhasil menghentikan langkah Arumi karena ia merebut buku tebal yang Arumi bawa dengan mudah dan sekarang sudah ada di tangannya.

__ADS_1


"Amar!" Kesal Arumi saat buku yang ia bawa kini berpindah tangan.


"Emh buku tebal gini. Anak rajin banget sih kamu." Goda nya dengan membolak-balik buku tebal itu.


"Balikin Amar! Aku lagi buru-buru." Sebal Arumi pada Amar.


Amar tak mengindahkan permintaan Arumi. "Balikin sini buku nya Amar!" Arumi mencoba untuk merebut buku itu dari tangan Amar, namun Amar dengan cepat menarik jauh buku itu.


"Amar balikin gak!" Arumi mulai kesal. Ia menghentikan gerakan merebut buku itu dari tangan Amar. Merasa percuma.


"Kamu mau buku ini?" Tanya nya. "Tapi dengan satu syarat." Ujarnya menawarkan.


"Jalan yuk." Ajak nya. "Kalau kamu mau aku balikin buku ini." Lanjut nya dengan senyum termanis Amar.


"Ya, mau ya..." Rayu nya dengan tatapan mata mengiba.


"Gak!" Tolak Arumi dengan cepat.


"Ya..." Sesalnya. "Kalau gitu kita pergi makan atau nonton." Tawar nya lagi tanpa pantang menyerah.


Arumi menghiraukan ajakan Amar.


"Sini buku nya, aku harus cepat pulang." Aku Arumi merebut kembali buku tebal itu dari tangan Amar, namun Amar dengan cepat melihat gerakan Arumi itu sehingga buku tak bisa Arumi ambil.


"Kenapa sih kamu selalu menolak ajakan aku Arumi?" Sebal Amar menatap ke arah wajah Arumi yang terlihat sangat kesal malah selalu kesal jika dekat dengannya. "Kamu tahu gak, kamu perempuan yang beruntung karena aku mengajak kamu, kamu satu-satunya perempuan yang aku ajak jalan begini." Terang nya agar Arumi luluh.

__ADS_1


Namun bukan luluh Arumi malah semakin kesal. "Balikin gak Amar!" Kesal Arumi semakin kesal karena membuang waktu nya dengan sia-sia. "Aku bakal teriak ya kalau kamu masih begitu!" Ancam Arumi.


"Teriak saja." Tantang Amar dengan seringai senyum di wajahnya.


"Amar! Kalau kamu mau jalan-jalan dan nonton, ajak saja perempuan yang tergila-gila padamu itu. Kenapa harus aku!" Kesal Arumi pada pemuda yang di cap sebagai playboy itu. Sudah di kenal cap playboy tapi anehnya para gadis hampir semua gadis di kampus nya mengejarnya dan memuji nya, ntah apa yang membuat mereka tergila-gila pada Amar.


"Oh sepertinya aku menangkap sebuah kecemburuan di sini." Ujar Amar semakin menjadi menggoda Arumi. Ia senang dan salah tafsir.


Arumi menarik nafas dalam-dalam membuang rasa kesalnya, tapi masih saja terasa kesal.


"Siapa yang cemburu!" Telak Arumi dengan ketus.


"Hahaha, aku tahu aku tahu." Seru Amar. Ia merasa bahagia melihat wajah kesal Arumi. Bahagia karena bisa sedekat ini.


"Kamu gak takut apa jika Bu Mega tahu anaknya begini? Aku bisa teriak ni!" Ancam Arumi.


"Teriak saja, paling ibu Mega dosen kita sekaligus mamaku itu akan menikahkan kita berdua." Goda nya tak takut.


Arumi menganga kesal tak habis pikir dengan jalan pikiran Amar. "Kamu tahu gak mamaku Bu Mega itu menyuruh ku agar mencari seorang perempuan yang akan di jadikan istri itu harus yang cantik, pintar, baik, Sholehah dan berhijab." Terang Amar menatap lembut pada Arumi.


Arumi mendelik tidak suka. "Terus hubungan nya sama aku apa coba! Kenapa kamu ganggu aku terus!" Kesal Arumi.


"Adalah Arumi cantik..." Pujinya. "Semua kriteria mama ku ibu Mega itu ada dalam diri kamu semua." Ujarnya jujur membuat Arumi melengoskan pandangan, sebagai perempuan ia sangat malu dan jadi salah tingkah jika di puji seperti itu, namun itu Amar si playboy karet yang sedang mencoba mencari mangsa.


"Laga-lagaan mau cari istri. Kuliah saja dulu yang benar." Balas Arumi kesal bisa-bisanya Amar berkata seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2