
"Bang." Panggil Arumi dengan pelan. Brian menggelengkan kepalanya.
"Masih ada waktu." Ucap Brian mengingatkan ada dua Minggu lagi waktu yang tersisa.
"Tapi..." Ucap Arumi menggantung saat sebuah ciuman mendarat di bibir manisnya.
Arumi terdiam sesaat, ia terkejut akan apa yang tengah di lakukan Brian saat ini, hatinya berdebar-debar, tubuh nya mendadak panas dingin saat kecupan bibir kekasih nya itu menempel di bibir nya. Nafasnya mulai terasa sesak dengan serangan dadakan itu, ia tak bisa menghindar saat ini.
Ini salah tapi... Mungkin ini yang pertama dan yang terakhir untuk nya sebelum mereka berpisah nanti, biarkan saja hanya sebuah ciuman, ciuman pertama dan terakhir pikir Arumi batinnya.
Arumi memejamkan kedua matanya, ia sungguh malu menatap langsung dan dekat seperti ini ketika Brian sang kekasih tidak melepaskan tautan ciuman itu malah terasa semakin dalam.
Brian bersorak dalam hati nya, ketika Arumi memejamkan matanya dan tidak ada penolakan dari kekasihnya itu. Brian yang insting nya sebagai laki-laki dewasa merasa semakin bersemangat kala Arumi tidak menolaknya sama sekali, tidak seperti waktu-waktu sebelumnya, dimana kekasihnya itu selalu menghindar ketika ia ingin menciumnya.
Dengan lembut Brian mencium bibir Arumi, bibir manis semanis madu dan bibir kenyal sekenyal jeli itu membuat Brian menggila. Arumi yang tidak mahir hanya diam saja saat Brian menciumnya dengan lembut, menghisapnya, kadang juga sedikit rakus, seakan Brian baru menemukan sebuah permen manis ketika ia ****.
Kedua tangan Arumi menahan dada bidang Brian yang terus menekan belakang tubuhnya, sehingga jarak mereka semakin dekat malah menempel.
Arumi tersengal-sengal saat Brian tak melepaskan tautan ciumannya itu. Namun sedikit kemudian Brian tersadar jika Arumi kehabisan nafas karena ulah nakal nya itu.
"Maaf." Bisik Brian dengan tersengal.
Arumi tak menjawabnya ia menarik nafas banyak-banyak, berciuman dengan Brian yang seorang tentara bisa membuat ia mati karena kehabisan nafas.
Brian menempelkan kening nya pada kening Arumi yang menunduk.
"Abang bisa nekad De, kalau kamu terus meminta Abang untuk akhiri hubungan kita." Bisik Brian dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Untung saja akal pikiran Abang masih waras, dan Abang gak mau merusak apa yang selalu kamu jaga selama ini." Hembusan nafasnya begitu berat terasa pada wajah Arumi yang masih menempelkan kening mereka.
"Abang bisa bersabar seperti ini karena Abang juga menjaga nama baik Abang dan juga kamu." Tutur Brian menelan rasa yang ada di dadanya.
"Manis bibir kamu tadi bikin Abang nagih. Bersabarlah sedikit lagi, Abang akan pastikan kamu akan jadi milik Abang!" Tekan nya dengan deru nafas kembali terasa menyapu wajah Arumi.
Arumi hanya terdiam mendengarkan apa yang di ucapkan Brian padanya, ia sungguh malu rasanya, malu pada jilbab yang sering ia kenakan tapi malah berbuat hal yang tak sepantasnya ia lakukan. Terakhir gumam Arumi dalam hati nya, Maafkan aku Tuhan, mohon Arumi.
Brian mengangkat wajahnya, lalu ia mencium kening Arumi dengan begitu lama, ia sungguh sangat mencintai dan menyayangi kekasihnya ini.
"Kamu mau kan bersabar sebentar saja?" Mohon Brian, Arumi mengangguk pelan.
Brian mengangkat wajah Arumi yang dari tadi tak mau menatapnya, mungkin ia malu dengan kejadian tadi. Setelah Arumi mengangkat wajahnya, Brian mengecup kembali bibir manis Arumi, hanya mengecup saja tidak lebih. Arumi semakin salah tingkah oleh perlakuan Brian padanya. Apa Brian tidak malu pikir Arumi.
"Sepertinya Abang harus pergi." Ucap Brian seraya berdiri dari tempat duduk lalu meraih jaket hitam nya dan memakainya.
"Cuti hari ini Abang sepertinya harus pulang kampung." Ujar Brian dengan sibuk memakai jaketnya itu.
"Pulang kampung? Mendadak seperti ini?" Heran Arumi.
"Lebih cepat lebih baik, dua Minggu kan?" Seloroh Brian dengan senyuman.
"Kenapa mendadak?" Tak rela yang kini Arumi rasakan. "Abang yakin mau pulang kampung?" Sambung Arumi.
"Abang udah tahu bagaimana cara mendapatkan restu dari orang tua Abang." Ujar nya. "Doain Abang ya semoga lancar." Pinta Brian.
Arumi mengangguk pelan, namun sedikit heran juga.
__ADS_1
"Abang." Panggil Arumi ketika Brian sudah bersiap untuk pergi.
"Kenapa? Kamu masih kangen?" Goda Brian melihat kemurungan Arumi.
"Kemari!" Titah Brian dengan merentangkan kedua tangannya. "Boleh Abang pinta peluk lagi." Pinta nya.
Arumi cemberut dengan senyum kecilnya. Ia pun mengikuti apa yang di pinta Brian, memeluk tubuh kekar Brian sebelum hal sesuatu terjadi ke depannya, ntahlah... Yang terpenting sekarang Arumi bisa menyalurkan rasa di dada nya.
"Abang sayang kamu." Bisik Brian tepat di telinga Arumi yang tertutup hijab itu.
pemanis aja ya
ini hanya fiktif belaka
Brian
Arumi
__ADS_1