Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)

Gelora Cinta ABRI (Arumi Dan Brian)
bab 16 kepemilikan


__ADS_3

"Ekhem." Suara deheman keras terdengar kembali.


Arumi menghentikan gerakan mengambil buku di tangan Amar, Amar pun sama. 


Menoleh ke belakang karena mendengar sebuah deheman. Ia melihat sesosok laki-laki berdiri tegak dengan kedua tangan di lipat di dadanya, dengan tubuh yang sama tinggi seperti Amar, dengan seragam loreng dan jaket hitam nya sedang menatap tajam kearah dimana Arumi dan Amar berdiri saling berhadapan. Tatapan itu menghunus bagai pedang.


Dan tatapan itu menatap Amar yang sama-sama terdiam.


"Bang Brian." Gumam Arumi dengan pelan. Terkejut yang sedang Arumi rasakan saat ini. Kekasihnya yang baru saja ia pikirkan datang menemuinya.


"Abang kamu?" Amar yang tidak pernah tahu sosok Brian pun menganggap Brian adalah kakak Arumi.


Arumi belum menjawab pertanyaan Amar karena Brian perlahan berjalan menuju ke arah nya, dengan tatapan Brian pada Amar dengan raut tak bersahabat nya.


Brian dengan cepat meraih buku tebal itu dari tangan Amar dengan mudah mungkin karena sama-sama tinggi, atau karena Amar yang diam saja seakan terhipnotis dengan tatapan Brian padanya, tatapan menusuk.


Brian menatap lembut pada Arumi. Ia mengulurkan tangan kanannya pada Arumi untuk menarik tangan kiri Arumi dengan buku masih di pegang oleh nya.


"Ayo, kita pulang." Ucap lembut Brian seraya menggenggam tangan Arumi, membawa Arumi untuk mendekat ke arah motornya yang terparkir. Arumi menurut. 

__ADS_1


Setelah berada di motor nya, Brian seperti biasa memakaikan helm pada gadis yang sangat ia rindukan itu dengan gerakan lambat karena ingin memperlihatkan pada Amar yang masih memperhatikan mereka.


"Ayo naik." Ucap Brian. 


Dengan gerakan cepat Brian menarik tangan kiri dan kanan Arumi saat Arumi sudah duduk di belakang untuk memeluk tubuh nya, lalu tangan itu ia buru-buru masukan ke dalam saku jaket hitam yang sedang di kenakannya.


"Sudah siap?" Memastikan jika Arumi sudah duduk dengan nyaman. 


"Sudah." Dengan suara pelan Arumi menjawab.


"Tetap seperti ini." Saat di rasa Arumi ingin menarik tangan yang memeluknya itu. Lalu Arumi diam, ia juga sebenarnya rindu sekali pada kekasih nya itu. Ingin memeluk nya, namun ada aturan dan rasa malu yang ada di hati nya apalagi ia menyadari jika Amar sedang memperhatikan gerak gerik mereka saat ini.


Brian menyalakan mesin motor nya, laju motor mulai melaju dengan pelan meninggalkan semua pikiran Amar yang masih setia memperhatikan. Arumi tak nyaman ada rasa tak enak ketika melihat tatapan Amar ketika ia sekilas melihat wajah Amar.


"Langsung pulang?" tengok ke sebelah kanan untuk bertanya pada kekasihnya itu.


"Gak, aku mau ke kedai ibu." Sahut Arumi sedikit berteriak.


Brian mengangguk paham. "Tapi mampir dulu ke toko teman ya sebentar, ada yang harus Abang ambil." teriak Brian meminta ijin.

__ADS_1


"Ya." Sahut Arumi dengan cepat walaupun penasaran barang apa itu.


Brian memarkirkan motor itu di salah satu toko tak jauh dari asrama tempat ibu Arumi berjualan.


Tanpa turun dari motor, Brian yang tidak ingin beranjak karena tangan Arumi yang masih ada di kedua saku nya itu berteriak pada penjaga toko. Jarang-jarang Brian mendapatkan pelukan dari Arumi.


"Pesanan saya ya." Ucap nya pada penjaga toko yang langsung mengangguk.


"Gak turun dulu." Arumi yang terasa pegal karena tangan kiri dan kanan nya masih berada di saku kanan kiri Brian.


"Gak perlu cuma ambil aja." sahut Brian dengan datar nya sedangkan Arumi memanyunkan bibirnya. Brian melihat itu dari kaca spion lalu mengulum senyum melihat ekspresi Arumi.


Tangan kanan Brian meremas gemas tangan kanan Arumi yang terhalang oleh kain saku nya itu, Arumi membalas dengan tangan kirinya yang keluar dari saku itu untuk mencubit pinggang Brian.


Brian reflek menghindari cubitan itu dengan menggoyangkan pinggulnya namun tangan kanan masih meremas gemas tangan Arumi di dalam nya.


"Itu nyubit atau klitikan sih, saya geli." Ucap nya dengan senyum terkulum.


"Masa geli, sakit dong!" Protes Arumi karena ia mencubit nya dengan tenaga.

__ADS_1


"Tapi kok geli ya." Goda Brian seraya menarik tangan kiri Arumi untuk memeluk nya lagi.


"Malu tahu!" Arumi menyadari jika mereka jadi pusat perhatian orang di sana. Namun Brian hanya tersenyum saja tanpa melepaskan tautan tangan mereka.


__ADS_2