
Gaby menatap sinis pemuda yang tengah menyantap roti isi buatannya. Ia bahkan sampai tak sadar jika garpu dan pisau yang tengah ia pegang begitu nyaring beradu dengan piring makanannya.
"Dasar cowok aneh, pagi-pagi buta udah minta makanan gratis ke rumah orang seenaknya. Emang koki di rumahnya lagi pada mogok masak apa?" celetuk Gaby dalam hati.
Mamanya yang merasa tak enak dengan segera memperingatkan Gaby untuk berhenti membuat kegaduhan di ruang makan.
Sambil tersenyum manis kepada pemuda itu, perlahan mama Gaby mendekatkan bibirnya ke telinga putri cantiknya.
"Berhenti membuat ulah! Jangan lupa, jaga sikapmu," bisik Merry setengah membentak dengan mata membulat seperti habis tersedak.
Gaby berdecak. Ingin diam saja tapi makan hati, ingin berontak ia tak punya kekuatan.
"Gimana makanannya, Wil? Ini semua sengaja Gaby siapkan khusus buat kamu lho. Dia bahkan rela bangun pagi-pagi sekali tadi," ujar Merry membuat Gaby berbalik melotot ke arahnya. Tapi wanita paruh baya itu malah melempar senyuman lebar. Memamerkan kulit kencang yang sangat diidamkan para wanita seusianya.
"Enak. Enak banget malah. Gaby ternyata pinter masak ya," puji Willy sambil tersenyum. Gaby dengan susah payah menarik ujung bibirnya keatas agar dapat terlihat bahagia meskipun sebenarnya hanya pura-pura.
"Pinter masak apanya? Itu kan cuma roti diisi selai kacang aja. Anak TK baru belajar nulis juga bisa kali bikin roti itu sendiri," sindir Gaby lagi-lagi dalam hati. Ia mana berani mengatakan itu di depan mamanya. Bisa-bisa ia diusir dari rumah.
"Oh, harus!" sahut Merry mulai mendominasi. "Sebagai calon pendamping yang baik, Gaby harus serba bisa. Terutama harus bisa menyenangkan kamu," ujar Merry melirik Gaby. Suasana pagi itu dipenuhi dengan aksi lirik-lirikan satu sama lain.
"Ga harus serba bisa juga kok, Tan. Gaby juga kan manusia biasa bukannya robot," sanggah Willy mematahkan pernyataan Merry.
"Robot sih bukan. Kalau boneka kalian berdua mungkin iya!" bisik Gaby dalam hati. Dia terus mengunyah meski sebenarnya sudah kenyang. Kenyang mendengar obrolan memuakkan antara mamanya dengan William.
"Ya, memang benar. Tapi selama Gaby mampu melakukannya, kenapa tidak?" kilah Merry membuat Gaby semakin penat. Dia kemudian menarik serbet dari pangkuannya kemudian melemparkannya ke atas meja.
"Aku udah selesai," ujarnya kemudian berlalu sambil membawa piring kotor miliknya kearah dapur. Merry geleng-geleng kepala melihat tingkah Gaby. Di detik berikutnya masih dengan senyum mengembang, Merry meminta maaf pada pemuda dihadapannya.
"Maafin Gaby ya, Wil. Mungkin hari ini mood nya kurang bagus."
"Ga apa-apa kok, Tan. Willy ngerti," sahut pemuda itu manis tapi membuat Gaby ingin mengeluarkan kembali sarapan yang baru ditelannya tadi.
"Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Willy lagi saat melihat Gaby berjalan ke arah pintu depan.
"Jalan-jalan," jawab Gaby ketus.
__ADS_1
"Marissa Gabriella!" bentak Merry geram. Willy yang melihat kilat kemarahan dari mata Merry segera menenangkannya.
"It's oke, Tan. Mood Gaby lagi swing kan?" ujar Willy yang dibalas anggukan oleh Merry. Merry menghela nafas panjang kemudian memutuskan untuk tidak meneruskan sarapannya.
Begitu pula dengan Willy. Dia sama-sama meninggalkan ruang makan dan malah nekat mendekati Gaby yang sedang sibuk mengikat tali sepatu di kursi teras.
"Kamu mau jalan kemana?" tanya Willy yang ikut duduk di kursi sebelah Gaby.
"Ke neraka. Kenapa? Mau ikut?" Gaby melirik Willy lalu menyeringai. Setelah selesai mengikat sebelah sepatunya, Gaby kemudian beralih ke pasangannya yang lain.
"Anak gadis, kalo pagi-pagi jangan keseringan ngomel. Nanti bisa cepet tua."
Gaby bergeming. Ia sedikitpun tak tertarik bercakap-cakap dengan pemuda yang tengah mengawasinya itu. Kalaupun mau, itu pasti dengan sangat terpaksa.
"Gab."
Tak ada sahutan.
"Gaby."
Gaby telah selesai mengikat kedua sepatunya dengan baik. Dia kemudian bangun dan menggeliat merenggangkan ototnya yang kaku setelah semalaman di ceramahi oleh mamanya.
Saat hendak melangkahkan kakinya, tangan Gaby yang terayun dengan cepat diraih oleh Willy.
"Aku belom selesai bicara, Gab!" tegas Willy dengan mata mengintimidasi. Tapi tatapan itu sama sekali tak membuat Gaby takut. Dia dengan berani menepis tangan Willy hingga melayang di udara. Dan saat Gaby ingin kembali melangkahkan kakinya, Willy akhirnya mengalah.
"Oke, aku pergi. Kamu tetap di rumah dan jangan kemana-mana. Besok pagi aku datang lagi untuk antar kamu ke sekolah, oke!" ujar Willy membuat Gaby mematung.
Willy kemudian kembali masuk kedalam rumah untuk berpamitan kepada Merry. Sedangkan Gaby lebih memilih masuk kedalam kamar sambil membanting pintu.
"Hari ini Tante benar-benar minta maaf ya, Wil. Sepertinya Tante harus jauh lebih tegas mendidik Gaby," ujar Merry putus asa.
"Jangan terlalu keras juga sama Gaby, Tante. anak seumuran dia memang sedang masa-masanya memberontak. Dulu, Willy juga sama kasusnya seperti Gaby. Selalu merasa paling benar dan tidak ingin di remehkan," sahut Willy bijaksana membuat Merry kagum hingga mulai memujinya.
"Tante memang tidak salah memilih kamu untuk jadi pendamping Gaby, Wil. Tante yakin, kalau kalian menikah hidup kalian pasti akan sangat bahagia," ujar Merry sambil mengusap punggung Willy perlahan. Willy tertawa kecil mendengar pujian dari Merry.
__ADS_1
"Tante terlalu berlebihan. Willy ga sesempurna itu pastinya," sahut Willy merendah. Membuat Merry semakin yakin telah menentukan pilihan yang tepat untuk anaknya kelak.
Baik, tampan, penyayang, sabar, dan tentunya kaya raya.
"Oh ya, kemarin Willy sudah mengirimkan uang bulanan Gaby ke rekening Tante. Berikut uang sekolah dan kebutuhan lainnya. Kalau Tante merasa masih kurang tolong kabari Willy ya. Biar nanti Willy bisa mengirimkan kekurangannya," ujar Willy membuat mata Merry langsung berbinar. Senyum yang berkembang dibibirnya kini 2 kali lipat lebih lebar dari sebelumnya. Bahkan senyuman para pemenang ajang kontes kecantikan sepertinya kalah oleh senyuman yang dimiliki Merry saat ini.
"Oh, ya.. pasti nanti akan Tante check. Terima kasih ya Willy. Semoga rejeki yang dimiliki oleh keluargamu tidak pernah putus selamanya," ujar Merry sambil mengerjap senang.
"Aamiiin Tante. Rejeki Willy kan milik Gaby juga. Jadi tolong jaga Gaby untuk Willy ya," pesan Willy yang kini sudah berada disamping pintu mobilnya.
"Tentu.. Tentu.. Kamu ga perlu khawatir Willy. Semuanya akan Tante handle dengan sebaik mungkin. Jadi kamu tenang aja ya."
Kembali senyuman super lebar tak lepas dari bibir Merry saat berbicara dengan Willy, calon menantu kesayangannya.
"Kalau gitu, Willy pamit pulang dulu ya, Tante."
"Oh iya. Hati-hati di jalan ya Wil. Tolong sampaikan salam Tante untuk papa dan mamamu di rumah."
"Nanti pasti akan Willy sampaikan," ujar Willy yang kemudian segera masuk kedalam mobil.
Dari kaca depan nampak Willy menganggukkan kepalanya kemudian menyalakan klakson beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan kediaman Gaby.
Setelah memastikan Willy sudah pergi meninggalkan rumahnya. Merry bergegas masuk kembali kedalam rumah dan mulai mengetuk pintu kamar Gaby beberapa kali. Namun Gaby tak memberikan tanggapan. Dia lebih memilih menutup telinganya dengan kedua tangan sambil terus bersembunyi dibalik selimut tebal berwarna merah muda.
"Gaby, buka! Mama mau bicara sama kamu. Marissa Gabriella! Mama bilang buka. Apa kamu tuli, hah?" teriak Merry membuat Gaby sedih.
Ibu kandung yang sangat ia sayangi dengan tega menyebutnya tuli hanya karena ingin membela lelaki bernama William Eka.
Tiba-tiba pintu kamar Gaby yang terkunci terbuka lebar. Merry sambil berkacak pinggang mulai memarahi Gaby seperti biasa.
"Mama ingatkan sekali lagi sama kamu ya, ini adalah terakhir kalinya kamu memperlakukan William dengan buruk seperti tadi. Karena kalau sampai kamu mengulanginya lagi, Mama pastikan kamu akan menyesal karena tidak mendengarkan ucapan Mama," teriak Merry kesal.
Hening.
Sudah tak ada lagi suara Merry yang begitu memekakkan telinga. Perlahan Gaby membuka selimut merah mudanya kemudian menatap pigura photo yang berisikan dirinya, Merry beserta sang papa yang tengah tersenyum bahagia.
__ADS_1
Dari situlah airmata Gaby mulai mengalir lagi.