
Gaby dan Tania turun dari taxi online yang mereka pesan. Hari ini Gaby benar-benar bolos dan mendapat ijin sepenuhnya dari Merry. Rasanya seperti bermain salju di musim semi. Sungguh sangat tidak dapat dibayangkan. Dan ini semua buah dari ancaman yang biasa Tania katakan pada mama tirinya itu.
Mereka berdua memandang sebuah rumah dua setengah lantai bergaya minimalis di hadapan mereka. Tak ada pagar penghalang diantara mereka berdua dengan rumah itu. Hanya sebuah taman kecil yang sejuk menyambut kedatangan kakak beradik sedarah itu.
"Persis seperti Daniel. Ternyata keluarganya juga typical orang yang simple dan ga mau ribet," ujar Tania saat melihat penampakan rumah mantan kekasihnya itu.
"Mereka juga bersih banget. Kalo liat barang kotor, udah kayak liat virus. Langsung dibersihin," kenang Gaby saat pertama kali datang ke rumah Daniel. Wajahnya yang bau matahari di semprot desinfektan oleh asisten rumah tangga Daniel hingga matanya iritasi.
"Kalau William gimana?"
"Willy sih ga separah Daniel. Masih bisa diajakin kotor-kotoran. Makan makanan streetfood aja dijabanin."
"Wah..." Tania mulai kagum lagi.
"Tapi kalo urusan barang, dia seneng yang mewah. Rumahnya aja gaya mediterania. Interiornya, hmmm..." ujar Gaby menghirup udara.
"By the way ngomong-ngomong soal William. Lo serius ga suka sama dia kan?" Tania memandang Gaby mencari jawaban. Tapi Gaby malah kaget mendengar pertanyaan Tania
"Huh?"
"Maksud gue, lo ga punya sedikit pun perasaan sama Willy kan? Jadi kalo gue suka sama dia, berarti gue ga disebut ngerebut pacar lo lagi kan?" Tania memastikan.
"Pacar? Kata darimana itu? Gue sama Willy ga punya hubungan apa-apa kok. Lo ga usah khawatir," ujar Gaby. "Kalo lo suka sama Willy, lo ambil aja. Gue rela banget" Gaby meyakinkan Tania.
Iya, rela. Rela nya ampe panjaaaaaaaang banget kayak badan ular phyton.
"Bener ya. Jangan sampe nanti kita berantem lagi kayak dulu."
"Gue jamin, ga bakalan."
"Serius?"
"Serius."
"Janji?" Tania menyodorkan kelingkingnya.
"Apaan sih, kayak anak kecil aja." Gaby menolak. Di dorongnya tangan Tania menjauh.
Mereka berdua kemudian berjalan dan mulai mengetuk pintu. Setelah 2 kali ketukan barulah muncul seorang wanita paruh baya berwajah ramah.
"Permisi, apakah benar ini rumah Daniel Aditya?" tanya Tania tak kalah ramah.
"Maaf, kalian siapa ya?" Wanita itu memandang Tania dari atas sampai bawah kemudian keatas lagi. Begitu pula pada Gaby. Namun bedanya, wanita itu tidak memandang Gaby ke atas. Cukup memandang dari atas kebawah saja satu kali. Tidak lebih.
"Oh ya, kenalkan saya temannya Daniel," sahut Tania lagi. "Nama saya Tania dan ini saudara saya namanya Gaby"
__ADS_1
"Saya nenek Melia," balas wanita itu juga memperkenalkan diri.
"Ada perlu apa ya kalian datang kesini?"
"Saya mau ketemu sama Daniel. Apa nenek bisa tolong panggilkan Danielnya? Please..." pinta Tania sambil menyatukan kedua telapak tangannya.
"Daniel itu siapa?" tanya wanita itu mulai membuat Gaby dan Tania bingung.
"Daniel itu pemilik rumah ini nek. Masa nenek ga tau?"
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepala.
"Lha, terus nenek sendiri siapa? Ini rumah Daniel kan?"
"Saya siapa?" tanya balik nenek itu kepada Tania. Tania menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Gaby tak mau ikut bicara. Tebakannya si nenek mungkin pikun hingga bicara tidak nyambung seperti itu.
"Saya ga tau nenek siapa. Saya bahkan ga kenal sama nenek."
"Saya juga tidak kenal sama kamu. Kamu mau apa kesini?"
"Saya cari Daniel nek! Saya mau ketemu sama dia."
"Daniel siapa?"
"Daniel? Sejak kapan orang itu pindah ke rumah ini?"
"Dia ga pindah nek, ini memang rumahnya dia." Susah payah Tania menjelaskan namun si nenek masih tak mengerti juga.
"Ini rumah anak saya. Bukan rumah Daniel!" sanggah nenek itu ikutan kesal.
"Iya, ini rumah anak nenek yang merupakan orangtuanya Daniel kan?"
"Bukan! Bukan! Nama saya namanya bukan Daniel. Tapi Adit."
"Iya memang, nama panjang Daniel kan memang Daniel Aditya."
"Salah! Nama anak saya Adit Saragih."
Tania melirik Gaby.
"Sejak kapan Daniel punya darah Batak?"
Gaby mengendikkan bahu. Mana ia tahu Daniel punya keturunan batak atau tidak. Dia pacaran saja cuma sebentar. belum sempat interview macam-macam dulu.
__ADS_1
Tania mulai emosi. Suaranya yang tadi lembut sedikit naik. "Ibu, Nenek atau siapapun. Saya minta tolong panggilkan Daniel sekarang juga! Karena saya ada urusan yang harus di selesaikan dengan segera alias PENTING!" ujar Tania penuh penekanan.
Nenek itu akhirnya menurut kemudian masuk kedalam rumah. Tak berapa lama nenek itu keluar bersama anak berusia 3 tahun.
"Kok Daniel jadi ciut begini sih?" Tania heran. Dia kembali melirik Gaby. "Jangan-jangan ini anaknya Daniel lagi. Dan dia putusin gue gara-gara mau nikahin mamanya ini bocah. Ternyata dia selingkuh?" mata Tania mulai berkaca-kaca.
"Jangan nangis disini. Malu tau diliat orang."
"Biarin. Biar semua orang tahu kalau anak ibu ini udah selingkuhin gue!" teriak Tania membuat beberapa orang pejalan kaki yang kebetulan melintas disana otomatis melirik mereka.
"Shuuutt! Tania. Lo jangan bikin malu."
Tiba-tiba dari dalam seorang wanita dengan perut yang tengah membuncit keluar menghampiri mereka.
"Siapa kalian? Mau apa datang kesini?" tanyanya dibalas tangisan oleh Tania.
"Tania hey. Tania! lo apa-apaan sih." Gaby tersenyum pada ibu dan anaknya yang tengah mengandung. "Mendingan kita pulang sekarang. Ayoo!" paksa Gaby menarik tangan Tania.
"Engga!" Tania menhempaskan tangan Gaby. "Gue pengen ketemu sama suami lo dulu," ujar Tania sambil menunjuk wanita yang tengah hamil itu penuh emosi.
"Buat apa? Kamu siapanya suami saya?"
"Saya mantan pacarnya!"
Mulailah terjadi keributan.
"Oh, jadi kamu mantan pacar suami saya yang terus-terusan menelpon suami saya kalau tengah malam?" wanita itu menaikkan lengan kemejanya seperti ingin mengajak berkelahi. "Bu, bawa Adit masuk. Mereka biar saya yang urus." Nenek tua itu mengangguk kemudian membawa balita yang ada digendongannya masuk kembali kedalam rumah.
"Justru saya sudah tidak pernah berkomunikasi lagi dengan suami anda sejak setahun yang lalu. Dia memutuskan hubungannya dengan saya karena anda kan? Anda yang meminta dia memutuskan hubungannya dengan saya kan?" runtut Tania tak mau kalah. Dia melempar Tasnya ke tangan Gaby kemudian mulai pasang kuda-kuda
"Lo yakin mau berantem sama ibu hamil, Tan?" tanya Gaby khawatir.
"Dia yang mulai duluan. Gue paling anti menghindar," sahut Tania.
Dan ketika mereka berdua baru ingin memulai aksi cakar-cakaran dan jambak-jambakan. Tiba-tiba suami dari wanita itu datang melerai mereka.
"Ada apa ini? Siapa kamu?" tanyanya pada Tania.
"Dia mantan pacar papa yang setiap malam menelpon itu kan? Ayo, ngaku saja. Dia sudah berani datang kesini untuk menemui papa. Papa sebentar lagi mau minta ijin untuk menikah lagi kan?" wanita itu mulai histeris
"Kamu itu bicara apa sih?" ujarnya memeluk sang istri. "Kalian siapa?" tanyanya beralih pada Tania dan Gaby yang nampak ketakutan.
"Kami temannya Daniel."
"Daniel sudah pindah sejak lama. Dan rumah ini sekarang jadi milik saya," terangnya masih memeluk sang istri yang masih histeris.
__ADS_1
"Apa? Terus Daniel pindah kemana?" Tania menatap lelaki itu penuh harap.
"Saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Lebih baik sekarang kalian pergi dari rumah ini secepatnya sebelum saya lapor polisi karena kalian sudah mengganggu kenyamanan lingkungan rumah saya," ancamnya membuat Gaby dan Tania ketakutan. Setelah meminta maaf mereka berdua berlari tunggang langgang meninggalkan rumah itu sebelum terlambat.