
'Willy calling'
Gaby menatap layar handphonenya. Ragu antara ingin menjawab atau tidak.
"Kenapa? Kok ga diangkat? Dari Willy apa Daniel?" Reno melirik Gaby lewat kaca spion depan. Gaby nampak memasukkan handphonenya kembali kedalam saku kemeja.
"Mereka berdua itu sebenernya siapa sih? Cowok yang lo taksir atau cowok yang naksir sama lo?" tanya Reno lagi penasaran. Dia mengusap dagunya sambil menerawang.
"Dua-duanya salah," jawab Gaby cepat.
"Terus?" Kali ini Reno menatap Gaby sambil mengerutkan keningnya.
"Ya ga ada terusannya.The End!" ujar Gaby menutup percakapan. Dia memalingkan wajahnya ke sisi kiri sambil memperhatikan jalanan. Berharap Reno tak lagi memberikan pertanyaan yang membuatnya harus bercerita panjang lebar.
Tetesan hujan gerimis kembali turun membuat kaca mobil Reno mulai sedikit berkabut.
"Kepala lo masih sakit?" tanya Gaby mencari topik pembicaraan lain.
"Udah lebih baik sih. Mungkin efek kehujanan tadi makanya jadi agak sedikit pusing," sahut Reno. "Kenapa?"
"Ga apa-apa. Tadinya kalo kepala lo masih pusing, gue mau mampir dulu ke toko obat."
"Ga perlu. Lagian gue juga ga bisa minum obat sembarangan."
"Kenapa?" tanya Gaby penasaran. Karena tradisi dirumahnya setiap ada yang sakit pasti langsung lari ke warung kecil di dekat rumah untuk membeli obat yang bebas dibeli tanpa mengharuskannya pergi ke dokter untuk meminta resep terlebih dahulu.
"Ya, lo gimana bisa kasih gue obat, sedangkan lo sendiri aja bukan dokter. Emang lo tau diagnosa penyakit gue apa?"
Oke Gaby, Lo lupa ya kalo orang kaya di depan lo ini bukan orang sembarangan. Penyakitnya itu cuma bisa disembuhin sama dokter. Meskipun sakitnya cuma bentol gara-gara digigit nyamuk.
"Ribet banget sih jadi lo. Sakit kepala dikit aja harus pake diagnosa segala," keluh Gaby
"Oh ya pasti. Buat anak aja ga boleh coba-coba. Apalagi buat orang ganteng yang stock nya terbatas macem gue," ujar Reno sombong.
"Huuu..." sorak Gaby sambil memutar bola matanya.
"Eh iya. Sorry masalah makan di restoran tadi. Perut lo ga terlalu keroncongan kan sekarang?" tanya Reno merasa bersalah.
Jelas keroncongan lah, udah seneng mau ditraktir makan eh ternyata cuma PHP aja.
Gaby menghela nafas panjang. Sebenarnya perutnya sejak tadi sudah ribut mengajaknya berdansa tapi Gaby pikir biar nanti ia makan dirumah saja. Tapi sayangnya jarak dari tempatnya berada masih mengharuskannya untuk menunggu 30 menit lagi jika ingin segera sampai ke rumah.
Sabar ya cing, harga diri itu diatas segalanya.
"Gab!" seru Reno.
"Ya?" jawab Gaby kaget. Cacing diperutnya apalagi.
__ADS_1
"Kita mampir makan dulu?"
"Ga usah. Tadi kan lo bilang kepala lo pusing. Mending sekarang kita langsung pulang aja, biar lo bisa langsung istirahat juga," jawab Gaby
"Beneran?"
"Iya, gue makan dirumah aja nanti. Lagian bentar lagi juga nyampe rumah kan? Asal jalan lo jangan lelet aja kayak kura-kura," ujar Gaby sambil tertawa menyembunyikan rasa lapar yang sejak siang ia tahan karena harus menjaga booth di acara bazaar amal tadi.
"Oke!" ujar Reno menaikkan sedikit kecepatan mobilnya.
Mereka berdua akhirnya diam. Bingung harus membahas apa lagi karena seharian tadi memang mereka terus berduaan.
Canggung.
Itulah kata yang tepat untuk memggambarkan situasi yang kini tengah terjadi antara Gaby dan Reno. Mereka seperti kehabisan kata-kata padahal di dalam hati ada banyak ribuan pertanyaan yang ingin diajukan.
Hingga tiba-tiba suara perut Gaby yang keroncongan membuat mereka berdua sama-sama tertawa.
"Lo beneran laper banget, Gab?" tanya Reno memastikan.
Udah tau nanya. Gak peka amat ini cowok jadi orang. Dari pas jaga booth sama dia tadi siang kan gue belom makan apa-apa. Perut gue udah meronta minta diisi. Cacing di perut gue aja udah pada ngajakin demo di depan istana.
Gaby memamerkan seluruh giginya karena malu dengan suara alam yang baru saja ia keluarkan.
Reno kemudian menepikan mobilnya disebuah warung tenda yang menjual berbagai macam menu seafood.
"Lo pesen apa?" tanya Reno.
Sudah lama sekali ia tak makan di warung tenda seperti ini. Apalagi ada menu kesukaannya yang bisa ia santap. Terakhir kali ia makan seafood mungkin satu tahun yang lalu saat penyakit magh Willy kumat.
"Lo suka gurame asam manis juga?" seru Reno tak menyangka. "Gue baru kali ini nemuin temen yang makanan favoritnya sama kayak gue. Biasanya mereka lebih milih makan makanan Jepang, kalo engga Chinese, kalo engga...."
"Bisa ga ngocehnya nanti aja sambil makan? Tenaga gue sisa sedikit lagi soalnya," ujar Gaby memotong ucapan Reno.
Beruntung Reno mengerti dan langsung diam tak bersuara. Ia takut jika melihat orang yang tengah lapar. Karena biasanya orang yang sedang kelaparan pasti berlaku ajaib dan tingkahnya membuat geleng-geleng kepala.
"Oke."
Pesanan mereka sudah tiba. Reno yang memang penyuka seafood memesan semua menu yang ada di warung tenda tersebut. Mulai dari udang, cumi, segala jenis ikan, sampai cah kangkung. Gaby yang keheranan otomatis melakukan protes karena secara tidak langsung Reno sedang melakukan pemborosan.
"Yakin makanan sebanyak ini bisa habis?" tanya Gaby dengan kening berkerut. Reno otomatis mengendikkan bahu.
"Apa ini namanya bukan pemborosan?"
"Udah makan aja!" titah Reno tak suka di protes. Gaby menurut saja, toh makanan yang ada di depan matanya gratis tak usah bayar. Mereka berdua pun akhirnya makan.
Kali ini gantian handphone Reno yang berdering. Reno dengan cepat mengangkat panggilan tersebut. Reno segera menyapa orang yang menghubunginya dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Ya, honey ...."
"Sorry kayaknya kita batalin aja acara malam ini ya. Kepala gue tiba-tiba sakit nih."
Gaby memandang Reno dengan tatapan sinis. Sedangkan Reno sibuk memegangi kepalanya pura-pura kesakitan padahal wanita yang ada di sambungan telepon itu sama sekali tidak bisa melihat gaya Reno saat itu.
Raja bohong! Sakit kepalanya kan daritadi.
"Iya, ga tau kenapa. Mungkin karena kehujanan pas di kampus tadi. Lo ga usah khawatir sama gue ya."
"Udah, gue udah minum obat psstinya."
Kampus? Obat? Ish, bener-bener nih Reno tukang bohong.
Gaby melanjutkan memakan makanannya. Sedangkan Reno nampak hanya memutar-mutar cah kangkung dihadapannya menggunakan garpu.
"Kenapa? Iya, gue janji malem minggu depan pasti ga akan batal lagi."
"Apa? Oh, kalung yang kemaren lo liat? Yasa, mungkin masih ada. Kenapa? Lo mau?"
Ternyata dia pacaran sama cewek matre!
"Oke, nanti gue bilang sama pemilik tokonya ya buat keep kalung itu. Lo tenang aja, oke?"
"I love you more. Bye darling."
Reno menatap Gaby.
"Dia temen gue," terang Reno menjelaskan seperti tengah laporan kepada pacarnya.
"Gue ga peduli. Lo kan bukan siapa-siapanya gue," sahut Gaby tak peduli. Dia melanjutkan makan.
"Bener juga ya. Ngapain gue bilang sama lo? Kayak lo pacar gue aja. Jangan ngarep ya!" goda Reno sambil tertawa. Reno kemudian melanjutkan makan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Gaby yang mulai gelisah takut dimarahi mamanya mengajak Reno untuk segera pulang.
"Ren, balik yuk. Udah malem nih," ajak Gaby.
"Baru juga jam 8. Bentar lagi lah, gue males balik ke rumah."
"Kenapa?"
"Males aja."
"Tapi gue mesti buru-buru balik. Gue takut nyokap gue nyariin."
"Anak mami amat lo."
__ADS_1
"Terserah deh lo mau ngatain gue apa. Yang penting lo anterin gue balik, Sekarang!" Gaby bangkit dari tempat duduknya sambil menyelempangkan tas.
"Yaudah, gue bayar bill nya dulu ya. Lo tunggu aja di mobil," titah Reno. Gaby pun dengan terburu-buru masuk ke dalam mobil berharap mamanya tidak akan berkacak pinggang saat menyambut kepulangannya nanti.