
"Nih, Gab." seru Mika sambil menyodorkan sebuah es krim coklat ke depan muka Gaby. Hawa di lapangan basket saat itu memang cukup membuat tubuh kekurangan cairan karena rasa panas yang begitu menyengat kulit.
"Kok coklat?" protes Gaby tak suka. Tapi ia tetap menerima es krim itu dengan wajah mengerucut.
"Es krim warna pink kesukaan lo udah abis di borong Leona and the gang," terang Mika yang kini nampak sudah sibuk dengan es krim coklat kesukaannya.
"Ya, tapi kan ga coklat juga kali. Vanilla juga gue doyan kok," sahut Gaby akhirnya tetap memakan es krim pemberian Mika.
"Kan yang jalan gue, yang beliin gue, duitnya juga dari gue. Jadi suka-suka gue dong!" balas Mika menyebalkan. Gaby mengepalkan tangannya pura-pura ingin menonjok Mika.
"Huuuu" sorak Gaby. "Kalo gue nyampe gendut kayak lo dan gue jadi jomblo seumur hidup. Gue bakal minta pertanggungjawaban lo ya."
"Pertanggungjawaban apa? Lo mau minta gue nikahin lo? Sorry-sorry to say ya, Gab. Gue masih normal," tolak Mika.
"Idih" cibir Gaby.
"Lagian kenapa sih kalo badan lo gendut? Emang dunia bakal tiba-tiba kiamat?" tanya Mika seperti tersinggung. Gaby hanya menarik ujung bibirnya tak berniat menyahut kucing yang baru selesai melahirkan.
"Lo tau ga Gab, menurut penelitian cewek yang badannya gendut itu menandakan kalo hidupnya lebih bahagia dibandingkan sama cewek yang badannya proporsional kayak lo. Kami itu, ga mikirin makanan apa yang masuk kedalam mulut kami. Kalo kami suka, tinggal makan. Ga pake pusing pikirin timbangan," ujar Mika enteng.
Saking ga mikirin makanan apa yang masuk ke mulut lo sampe bikin lo hampir tiap hari bawa kotak bekal yang isinya cuma buah apel doang 3 biji buat makan siang. Mika.. Mika.. Ucapan lo ga sesuai sama perbuatan lo.
Gaby geleng-geleng kepala.
"Yakin ga mikirin timbangan? Terus benda kotak warna putih yang ada angka sama jarum warna merah di pojokan kamar lo apa namanya kalo bukan timbangan?" bongkar Gaby membuat Mika kaget luar biasa.
"Astaga! Darimana lo tau? Barang itu kan udah gue umpetin dibelakang lemari,"
"Jalan sendiri mungkin dari belakang lemari," Gaby tertawa lepas melihat ekspresi wajah Mika. Sahabatnya yang pelupa itu bahkan lupa jika dirinya punya penyakit lupa.
Saat tengah asyik menunggu pertandingan basket antara tim basket sekolahnya dengan tim basket tamu dari sekolah lain di mulai, tiba-tiba Leona dan teman-temannya datang membuat kegaduhan.
"Minggir.. Minggir! Tuan putri mau duduk," usir salah satu anak buah Leona pada sebaris siswa yang tengah duduk. Tanpa melawan, mereka seperti dengan suka hati memberikan tempat duduk yang tadinya jadi incaran Mika dan Gaby karena posisinya yang teduh. Terlindungi pohon beringin besar.
__ADS_1
"Geng rusuh mulai datang," bisik Mika melirik sebal.
Peluit pertandingan berbunyi, menandakan pertandingan akan segera di mulai.
"Kipas, mana kipas? Gue kegerahan nih," seru Leona sambil mengibaskan tangannya di leher. Bak seorang dayang yang tengah menemani majikannya, Dena dengan sigap memberikan kipas angin portable kepada Leona.
"Pegangin! Gimana sih lo," bentaknya marah. Dena menuruti saja perintah Leona.
"Reno gimana sih, kok skornya ketinggalan jauh sama lawan?" protes Leona tak mendapat sahutan. Dan saat tiba-tiba tim basket tamu dengan mudah mendapat poin tambahan mereka, Leona kembali berkomentar.
"Ya ampun. Bisa kalah nih tim kita kalau kayak gini terus. Reno lupa pake jimat apa gimana sih ini?" keluhnya lagi membuat risih penonton yang lain. Wajah Leona nampak gelisah seperti tengah menunggu hasil pengumuman ujian.
Jimat? Emang di jaman milenial kayak gini masih bisa dipercaya ya hal-hal yang kayak begitu?
"Kita pindah aja, yuk. Ga enak duduk disini, udah panas. Berisik pula," keluh Mika mulai mencari tempat duduk lain yang kosong. Tapi sayangnya semua sudah terisi penuh. Pertandingan persahabatan kali ini nampaknya memiliki banyak sekali peminat.
"Udah, kita disini aja. Kalaupun pindah gue males kalo harus lewat depan Leona. Nanti kena Bully lagi kayak biasa," bisik Gaby pelan
"Ya ampun, kan ada gue Gab. Lo ga usah takut kali. Kalaupun nanti dia macem-macem, biar gue yang lawan. Lo lupa kalau nyokapnya dia anggota geng arisan nyokap gue? Bisa di blacklist keanggotaan nyokapnya kalo berani macem-macem sama gue,"
"So pasti," Mereka berdua tertawa hingga memancing perhatian Leona.
"Rupanya ada si cupu sama si gendut yang nonton pertandingan kali ini. Pantesan tim kita ga se-energic biasanya. Ternyata mantranya dipatahin sama kalian berdua?"
Tadi jimat, sekarang mantra. Kayaknya Leona tertarik masuk sekolah sihir Hogwarts deh kalau lulus nanti.
Gaby terkekeh geli.
"Heh! Kenapa lo ketawa? Lo lagi ngetawain gue ya?" tuduh Leona marah. Dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah tempat duduk Mika dan Gaby.
Sejujurnya sih iya. Tapi bilang engga aja deh biar ga panjang.
"Engga kok,"
__ADS_1
"Terus barusan kenapa lo ketawa?"
"Ya emangnya ga boleh ya? Disini ada larangan buat ketawa?" Kepala Gaby bergerak mencari papan pengumuman. "Ada juga ga boleh buang sampah sembarangan. Tuh papan pengumumannya." Tunjuk Gaby pada sebuah baliho besar berwarna hijau bergambarkan wajah kepala sekolah tengah memegang sapu dan tempat sampah.
"Ga boleh! Orang cupu ga boleh ngapa-ngapain di sekolah ini!" bentak Leona seperti anak kecil.
"Nafas juga ga boleh?"
"Engga!"
"Emangnya lo itu Tuhan apa sampe bisa ngelarang orang buat bernafas?"
"Eh, berani ngelawan lo ya!" Leona bergerak maju mendekati Gaby. Saat tangannya sudah melayang di udara, tiba-tiba tangan gempal Mika menahannya.
"Berani main kasar sama temen gue, gue aduin lo ke nyokap gue!" ancam Mika marah. Leona melepaskan tangannya dari cengkraman Mika.
"Lo pikir gue takut? Kalo lo mau bilang sama nyokap lo, sana bilang. Toh, nyokap gue udah punya temen sosialita lain yang koneksinya lebih bagus daripada grup tukang pamer macem nyokap lo sama temen-temennya. Nyokap gue udah ga butuhin nyokap lo sekarang," ujar Leona jumawa. Mika tersenyum mendengar penuturan Leona. Sebuah handphone sengaja ia sembunyikan di belakang tubuhnya.
"Oke. kita liat aja nanti," mereka berdua saling tatap kemudian sama-sama memalingkan wajahnya ke sisi yang lain.
"Mending kita duduk lagi aja, Mik. pertandingan basketnya udah hampir selesai tuh kayaknya" Mika mengangguk. Tapi Leona memilih melanjutkan menonton pertandingan dengan berdiri tepat di depan mereka sambil melipat tangannya didada.
Peluit panjang pertandingan sudah ditiup. skor terakhir tetap milik tim basket tamu yang jauh meninggalkan tim basket tuan rumah. Reno yang baru saja bersalaman dengan lawannya nampak melambaikan tangan.
"Reno melambai sama siapa tuh?" seru Mika penasaran.
"Ya jelas sama gue lah. Lo pikir mentang-mentang Reno ada jauh di tengah lapangan jadi dia melambai ke si cupu? Ngarep!" semprot Leona sombong.
"Hai, yang gue lupa namanya. Bisa kita ngomong sebentar?" tanya Reno membuat semua orang tercengang. Termasuk Gaby dan Mika sahabatnya.
"Hello" Reno menggerakkan kedua tangannya di depan wajah Gaby.
"Gue ga bisa. Gue bentar lagi mau ada ula..." Belum sempat Gaby melanjutkan ucapannya, Reno sudah keburu menarik tangan Gaby keluar.
__ADS_1
"Cupuuuuuuu! Bener-bener berani ya itu anak!" teriak Leona geram, sedangkan Mika malah senyum-senyum sendiri.