Get Back Love

Get Back Love
Terkunci


__ADS_3

"Heh!" panggil Reno. Gaby yang tengah duduk sambil menyortir buku mendongak.


"Gue punya nama," sahut Gaby cuek kemudian kembali melakukan pekerjaannya.


"Ya... Siapapun nama lo. Gue bener-bener lupa."


Gaby mendesis.


Padahal baru satu jam yang lalu lho gue nyebutin nama gue ke pak Tomo, eh.. dia udah lupa aja. Ingetannya parah banget nih orang.


"Gue pinjem handphone lo."


"Buat apa? Nyoba nyari bantuan biar bisa kabur?" tebak Gaby.


"Iya lah. Ngapain juga gue disini? Muka ganteng gue nanti bulukan lagi kelamaan kumpul sama buku," ujarnya percaya


diri.


Orang yang suka kumpul sama buku tuh bakalan jadi pinter. Bukannya bulukan!


"Ga bisa! Gue ga rela kalo harus ngerjain hukuman ini sendiri," Gaby pura-pura merajuk


"Yaelah, kalo lo mau ikutan kabur juga bisa kali,"


"Dan akhirnya gue akan dihukum lagi bareng sama lo? Ogah!"


"Yee.. siapa juga yang mau dihukum bareng cewe cupu ratu halu macem lo. Ngekhayal punya cowok lagi sana! Tapi yang cakep, jangan yang cupu juga. Tar kalian dimasukin musium lagi. Wisata pasangan cupu." Reno tertawa puas.


Nih orang kalo gue jodohin sama Leona cocok kali ya, sama-sama doyan ngatain orang cupu soalnya.


"Puas ketawanya? Tuh, bantuin sortir buku sana," ujar Gaby mendorong satu buah dus coklat kehadapan Reno.


"Pinjem handphone dulu," sahut Reno sambil menggerakkan jemarinya


"Emang lo ga punya handphone?"


"Ketinggalan di kelas,"


Gaby merogoh saku kemeja. Baru beberapa detik Gaby memegang handphonenya, tiba-tiba handphone itu sudah raib dan berpindah tempat ke tangan Reno.


"Balikin!" teriak Gaby berusaha meraih handphonenya kembali. "Ternyata lo punya bakat jadi copet juga ya," Reno tertawa lagi.


"Handphone lo ternyata mahal juga, bukannya lo orang miskin?" tanya Reno penasaran.


"Emang kalo pengen tahu seseorang itu kaya atau miskin dari harga handphonenya?"


"Bener juga" ujar Reno kemudian berusaha membuka handphone Gaby. Saat menyala dilihatnya sesosok gadis cantik berfose seperti tengah tersenyum kepadanya. Beberapa detik Reno terpana hingga akhirnya dikagetkan oleh Gaby.


"Ngapain lo bengong!"


"Ini bukan handphone lo ya? Ini handphone curian! Kok photo pemilik handphone ini beda sama lo," tuduh Reno kebingungan.

__ADS_1


"Iya, Itu handphone bekas anak majikan nyokap gue. Dan itu photo anak majikan nyokap gue. Udah sini balikin. Tar lo naksir ama anak majikan gue lagi. Dia udah ada yang punya. Mau dinikahin 3 tahun lagi," ujar Gaby asal tapi dalam hati dia berkali-kali mengatakan amit-amit.


Mana mungkin dia mau menikah dengan William. Membayangkannya saja sudah menyeramkan.


"Jadi lo anak pembantu?" Gaby mengangguk cepat agar semua beres dengan cepat juga.


"Eh, anak majikan lo itu baru mau dinikahin 3 tahun lagi kan? Berarti sekarang gue masih boleh deketin dia dong," ujar Reno kini duduk disamping Gaby. "Janur kuning belom melengkung. Bener ga?" tanyanya minta pembenaran.


Sekali buaya ya buaya. Ga bisa liat yang bening dikit langsung sosor.


"Ngobrolnya sambil bantuin sortir buku dong," ujar Gaby ambil kesempatan. Reno menurut meskipun buku yang dia sortir hanya dia pisah menjadi 2 bagian saja. Kanan dan Kiri. Tanpa pengelompokkan buku. Entah itu buku pelajaran, biografi, ensiklopedia, atau novel. yang penting dibagi dua saja. Atau dalam kata lain pekerjaan yang ia lakukan sia-sia!


"Yang bener dong sortirnya!" teriak Gaby.


"Iya... Iyaa." Gaby tersenyum senang. Ternyata Reno tak seburuk bayangannya.


"Siapa nama anak majikan nyokap lo? Dia masih sekolah apa udah kuliah?"


"Udah kuliah. Namanya Tania" bohong Gaby menumbalkan kakak tirinya.


"Gue bisa minta nomor handphonenya?"


"Ga bisa. Calon suaminya galak. Cemburuan lagi. Kalo dia liat calon istrinya dideketin orang, bakal babak belur tuh orang yang deketin digebukin sama calon suaminya," ujar Gaby menakut-nakuti.


"Gue sih ga takut. Gue kan bisa bela diri,"


"Serius? Bela diri apa?"


"Oh,"


"Oh doang? Lo mau coba?"


"Engga. Makasih,"


"Nanti lo balik bareng gue ya, gue pengen liat muka anak majikan nyokap lo secara langsung,"


"Ga bisa,"


"Kenapa?"


"Yaa, gue ga berani lah bawa sembarangan orang ke rumah majikan nyokap gue. Lagian gue ogah kalo harus pulang bareng lo,"


"Siapa bilang gue orang sembarangan? Coba lo kasih tau kalau gue anaknya Hendrawan Adiguna, pasti gue bakal langsung disuruh masuk bahkan bisa jadi diminta kenalan sama anak majikan nyokap lo," ujar Reno mulai over.


"Yaudah, kalo gitu kenapa ga lo dateng sendiri aja ke rumah majikan nyokap gue?"


"Mana alamatnya?"


Gaby tersenyum. Dia lalu menuliskan alamat rumah William di secarik kertas.


"Tuh! Majikan nyokap gue kaya raya. Apalagi calon suami anaknya,"

__ADS_1


"Jadi penasaran gue," Reno lantas memasukkan kertas itu kedalam dompetnya. tentu setelah mencium kertas itu seperti orang sedang jatuh cinta.


"Eh, lo pake minyak wangi apa? Kok baunya enak banget. Seger"


"Ga tau. Gue dapet dikasih dari anak majikan nyokap gue" ujar Gaby yang hari ini terus berbicara kebohongan. "Udah kelar belom? Mana sini balikin handphone gue,"


"Gue berubah pikiran deh. Gue bakal bantuin lo beresin perpustakaan ini."


Gaby sedikit kaget dengan perubahan Reno.


"Serius?" Reno mengangguk. Dia ternyata benar-benar dapat memilah buku dengan baik.


Tanpa terasa 5 jam sudah berlalu. Semua buku sudah selesai disortir dan tinggal menyisakan 14 dus coklat berisi buku tak layak baca.


Penampilan Reno dan Gaby sudah tak karuan. wajah mereka penuh debu, apalagi tangannya.


"Pak Tomo mana nih. Badan gue udah lengket bau keringet," ujar Reno menarik-narik kemejanya mencari angin.


"Iya. pak Tomo kemana ya? Kok belom bukain pintu perpus? Ini harusnya udah jam pulang sekolah kan?" ujar Gaby melihat jam tangan putih tulangnya.


"Jangan-jangan pak Tomo lupa sama kita. Dia pulang duluan dan kita terkunci berdua disini sampai besok," Gaby memutar bola matanya mendengar ucapan Reno.


Drama banget sih ini orang. Kalau cewek sih pantes, lha ini....


"Handphone gue." pinta Gaby. "Gue bisa minta tolong Mika buat hubungin penjaga sekolah,"


"Pinter!" puji Reno menjentikkan jari. Tapi tak berapa lama Reno celingukan. Dia benar-benar lupa menyimpan handphone milik Gaby dimana.


"Jangan becanda, Ren. Ini bener-bener ga lucu,"


"Serius. Perasaan tadi tuh handphone gue simpen disini," tunjuknya ke samping kanan.


"Jangan-jangan lo malah masukin handphone gue ke dalam dus itu lagi karena ngira itu buku kecil lagi," ujar Gaby khawatir


"Bisa jadi,"


"Kok bisa jadi? Ayo cari! Gue ga mau terkunci disini sampe besok,"


"Lha, emangnya gue mau?"


"Yaudah makanya cari," titah Gaby galak.


13 dus coklat telah dibuka, dan hasilnya nihil. Harapan satu-satunya tinggal satu dus coklat terakhir. Gaby berdoa semoga handphonenya terselip disana.


Reno membuka dus itu kemudian mengeluarkan bukunya satu persatu.


"Ketemu!" seru Reno girang.


"Mana sini" pinta Gaby tak kalah senang. Namun saat melihat penampakan layar handphonenya yang sudah retak seperti sarang laba-laba dia terduduk lemas.


"Kenapa?" tanya Reno heran. Gaby menunjukkan layar handphonenya yang sudah retak.

__ADS_1


"Yaaahhh, kok bisa?" ujar Reno merasa bersalah. Dia tersenyum kuda sambil menggaruk kepalanya berharap Gaby tak marah padanya.


__ADS_2