Get Back Love

Get Back Love
Tuan Putri Tania


__ADS_3

Tania beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan ke arah kamar Gaby sambil menyeret koper merah yang dibawanya dari luar negeri.


"Mau kemana kamu?"


"Istirahat dong, ma. Masa aku harus terus duduk di sofa sampai pagi," sahut Tania enteng.


"Kamar kamu bukan disitu tapi disana!" Cegah Merry kemudian menunjuk sebuah pintu putih disamping dapur.


Tania terperangah kemudian tersenyum mengejek, "Apa mama pikir aku ga tau kalo itu gudang? Tikus aja kayaknya belum tentu mau tuh tidur disana!" Tolaknya kemudian tetap ngotot berjalan ke kamar Gaby


Diketuknya kamar Gaby berulang kali namun tak mendapat jawaban, "Gaby, buka pintunya dong. Gue mau masuk!" teriak Tania.


"Engga!" teriak Gaby dari dalam, "Pergi sana! Yang jauh kalo bisa," teriaknya lagi.


"Ayolah, gue capek dan males berantem. Biar kita sama-sama enak mending cepetan lo bukain pintu kamar lo sekarang juga!" pinta Tania sedikit memaksa.


Lalu samar-samar terdengar suara lemparan sebuah benda ke arah pintu.


Braakk.


Tania berbalik kemudian menatap Merry sambil menengadahkan tangannya, "Mana kunci cadangan kamar ini?"


"Kamu!" teriak Merry geram. Merry lalu menghampiri Tania dengan segudang amarah di dada, "Saya sudah bilang kan kamar kamu bukan disini."


"Kunci cadangan atau..." ancam Tania menyeringai. Merry tak dapat berkutik. Segera dia berlari kedalam kamarnya karena Tania sudah mulai menghitung.


"Satu... duaa..." teriak Tania senang. Dia seperti mendapat mainan baru saat pulang ke tanah kelahirannya.


"Ini," ujar Merry terburu-buru sambil menyerahkan setumpuk kunci ketangan Tania, "Berhentilah mengancam saya!"


"Makanya, berhenti membantah juga dong Mama Merry Ad-ri-a-no," eja Tania dengan penuh penekanan. Membuat Merry melotot dan segera melirik pintu kamar Gaby.


"Diam kamu!"

__ADS_1


"Ups, maaf," ujar Tania sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Yang mana kunci kamar ini? Mama mau bikin aku begadang ya cuma untuk cari sebuah kunci?" tanyanya sambil melempar kumpulan kunci itu kembali ketangan Merry. Merry yang memang sengaja membuat kunci kamar Gaby berbeda dari kamar lain dapat dengan mudah menemukannya.


"Ini," ujar Merry kembali memberikan kunci kamar Gaby yang telah dipisahkan dari teman-temannya.


"Nah, gitu dong. Kan jadinya cepet. Tapi Ma, setelah aku pikir-pikir kayaknya lebih baik mama aja deh yang buka. Soalnya tangan aku udah mulai kerasa pegel-pegel nih sekarang," elak Tania sambil menekuk sikunya berulang-ulang.


Merry menarik nafas panjang menghadapi ulah putri sambungnya. 3 tahun sudah ia terbebas dari Tania, tapi hari ini tiba-tiba kiamat seakan muncul didepan matanya.


"Ayolah Ma, berbuat ikhlas itu jauh lebih baik. Aku udah dibuang sama papa selama ini. Rasanya ga adil kalo mama harus menarik nafas panjang cuma gara-gara aku minta bukain pintu kamarnya Gaby, iya kan?" tanya Tania minta pengakuan.


Tapi Merry tak menyahut. Dia hanya diam sambil memasang wajah masam. Lalu dengan terpaksa ia membuka pintu kamar Gaby. Dilihatnya sang putri tengah memeluk photo keluarga sambil tertunduk di tepi ranjang. Mata Gaby nampak terpejam seperti biasa. Dia memang mudah tidur dalam berbagai kondisi.


"Terima kasih Mama. Oh ya, nanti bikinin aku air hangat buat mandi ya. Jangan lupa, tolong tuang sabun khusus ini ke dalam bath up. Dan satu lagi, air hangatnya jangan terlalu panas juga karena kulit aku agak sedikit sensitif," ujar Tania manja sambil memamerkan kulit putih bersih miliknya.


"Sayangnya kamu ga bisa mandi di dalam bath up, Tania. Rumah ini sangat sederhana, hanya ada satu buah kamar mandi dengan satu buah bak mandi ukuran kecil yang tersedia. Kalau pun kamu mau berendam dibak itu... Terserah," sahut Merry mengangkat bahu kemudian kembali menatap wajah putrinya yang kini sedikit demi sedikit matanya mulai terbuka.


Melihat Tania sudah berdiri diambang pintu membuat Gaby seketika berdiri dan mulai berdebat dengan Tania.


"Kenapa? Coba aja tanya sama nyokap lo. Mungkin dia udah ga mampu buat biayain hidup gue disana," ujar Tania yang kini duduk di tepi ranjang sebelahnya sambil merenggangkan otot lehernya yang terasa kaku. Dia lantas tersenyum saat melihat ada photo Willy diatas meja.


Ternyata dia, tambang emasnya mama Merry? Kalau dilihat-lihat Willy ganteng juga, kaya raya pula. Lumayan banget buat dijadiin gandengan. Syukur-syukur kalo dia mau gue jadiin suami.


Setelah puas menikmati wajah Willy, Tania kemudian bergeser pada photo disebelahnya. Photo laki-laki paruh baya yang tega mengasingkannya ke negara lain seorang diri. Tanpa satu pun keluarga yang menemani.


Tania mendengus kemudian memalingkan wajahnya. Tiba-tiba ada rasa panas menyeruak di dadanya. Matanya berkilat dipenuhi api kebencian.


"Ma... " rengek Gaby minta penjelasan.


"Mulai hari ini Tania akan tidur disini bersama kamu. Jadi kamu harus berbagi tempat tidur dengan Tania," terang Merry


"Apa? Tapi ma... " ujar Gaby menggantung menahan kecewa. Dia menghentak-hentakkan kakinya beberapa kali ke lantai karena kesal.

__ADS_1


"Ga ada tapi-tapi. Bagaimanapun Tania adalah saudara kamu. Kalian harus rukun dan tidak boleh bertengkar. Mengerti?" tegas Merry lagi


"Mengerti" teriak Tania senang. Sedangkan Gaby mengerucutkan bibirnya tanda tak terima.


"Kalau gitu kalian semua lebih baik istirahat. Ini sudah hampir larut malam," ujar Merry kemudian meninggalkan kamar Gaby menuju kamarnya sendiri.


"Ma, jangan lupa masak air panasnya yaa! Badan aku udah pada gatel nih," teriak Tania saat melihat Merry pergi meninggalkannya bersama Gaby.


"Kenapa ga lo masak aja sendiri? Dasar manja!" ujar Gaby sebal. Dia lalu kembali duduk ditempat semula.


"Biarin dong! Toh, nyokap lo juga ga keberatan kan?" ujar Tania yang kini mulai penasaran dengan barang-barang yang ada dikamar milik adik tirinya itu.


Perlahan ia mengecek satu persatu perlengkapan make up apa saja yang dimiliki Gaby. Namun kekecewaan yang didapatnya. Karena hanya ada bedak tabur dan sebuah lip ice saja yang tergeletak tak tersentuh di atas meja rias Gaby.


Pantesan aja dia cupu begitu. Makeup nya aja cuma 2 macem. Udah kayak nenek-nenek. Keliatan ga pernah dipake pula.


"Tapi gue yang keberatan."


"Kenapa lo keberatan? Gue kan nyuruh nyokap lo, bukan elo," ujar Tania kini bergeser ke lemari pakaian.


Dibukanya pintu lemari berwarna putih itu dengan hati-hati berharap ada banyak baju terbaru yang dapat dipinjamnya sebelum dia shopping nanti. Karena baju didalam kopernya kebanyakan baju musim dingin yang tebal dan penuh bulu. Yang tentunya tidak akan cocok dengan iklim tropis yang dimiliki oleh negara berpenduduk terbanyak ke 4 di dunia ini.


Namun sayangnya Tania harus kembali menelan pil kekecewaan karena lagi-lagi harapan yang ia gantungkan tinggi diatas langit harus segera ia hempaskan ke bumi.


Ekpektasi memang kadang tak sesuai dengan realita


"Jelas gue keberatan. Gue aja seumur hidup ga pernah nyuruh-nyuruh nyokap gue kayak begitu."


"Kalo lo mau, yaudah. Suruh-suruh aja nyokap lo kayak gue. Simple kan!" ujar Tania menutup kembali pintu lemari Gaby.


"Lebih simple lagi kalo lo keluar dari kamar gue sekarang. Sadar ga sih lo itu bikin sempit!" celetuk Gaby sambil mendorong koper milik Tania keluar dari kamarnya.


"Eh, koper gue mau dikemanain tuh?" tanya Tania kemudian berlari mengejar Gaby.

__ADS_1


"Mau gue jual ke tukang loak!" teriak Gaby tak perduli.


__ADS_2