
Acara Bazaar telah usai. Matahari nampak sudah tergelincir menyembunyikan tubuhnya dari bumi untuk mempersiapkan diri bersinar kembali esok hari.
Diruang OSIS semua pengurus yang telah membantu menyukseskan acara sudah terkapar karena kelelahan. Satu persatu dari mereka pulang ke rumah dan sebagian masih tetap disekolah untuk membereskan sebagian barang yang masih berantakan.
Gaby dan Mika pun sama. Mika apalagi. Semua sisa makanan di booth yang ia jaga sudah beralih ke perutnya yang lebar. Dengan alih-alih kata mubazdir dia memborong semua makanan yang tersisa kemudian memakannya sendiri tanpa berniat bagi-bagi.
Alasannya satu, menjaga booth itu membutuhkan tenaga yang besar, maka ia harus mendapat asupan yang besar juga agar tidak pingsan.
"Gue duluan ya, Gab. Perut gue mules, kayaknya masuk angin nih," Mika meringis sambil memegangi perutnya. Gaby yang tengah memasukkan sisa perlengkapan bazaar ke dalam kardus segera bangkit mendekati Mika.
"Serius? Kebanyakan makan kali lo, Mik." Gaby kemudian mengambil sebotol minyak kayu putih dari dalam tasnya kemudian menyerahkan minyak kayu putih itu kepada Mika.
"Nih pake," titahnya. Mika pun menurut, dia menuangkan sedikit minyak kayu putih ke telapak tangannya kemudian mengusapkannya dengan lembut ke perut.
"Kayaknya bukan deh. Ini mungkin masuk angin biasa. Nanti juga kalo gue udah minum jamu bikinan mbak Asih pasti langsung sembuh." Mika kemudian menyerahkan kembali minyak kayu putih ke tangan Gaby.
"Yaudah kalo gitu lo buruan pulang sana."
"Lo ga apa-apa pulang sendiri? Ga minta di jemput Willy?" goda Mika membuat bibir Gaby mengerucut.
"Willy? Apaan sih lo!"
"Becanda gue. Tapi beneran ga apa-apa nih ya lo gue tinggal sendiri kayak gini," ujar Mika lagi kini menyelempangkan tas abu-abu yang sama percis dengan tas milik Gaby keatas bahunya.
"Iya, ga apa-apa. Udah lo jalan sana."
"Yaudah, Bye Gaby." Mika kemudian keluar dari ruang OSIS lalu mulai melewati lorong sekolah menuju halaman parkir.
"Gab, mendingan kita pulang aja yuk. Bentar lagi kan mau malem, kerjaan yang belom kelar bisa kita lanjutin besok. Gimana?" ujar Hani yang sejak tadi sibuk memandang langit yang sudah mulai menggelap.
"Yaudah, kita bilang sama Riza yuk," ajak Gaby kemudian menghampiri Riza yang tengah menggulung spanduk.
"Za, gimana kalau kerjaan yang belom selesai kita lanjutin besok aja," saran Hani kepada Riza. Riza mengganggukkan kepala menyetujui saran Hani.
"Yaudah. Lagian sisa kerjaannya juga tinggal sedikit lagi. Biar nanti gue aja yang urus. Thanks ya, kerjasamanya. Berkat kerja keras kalian semua bazaar amal ini sukses dan mendapatkan banyak sekali donasi untuk dikirimkan kepada yang membutuhkan. Bangga gue sama kalian," ujar Riza.
Coba kalo Mika denger ucapan Riza barusan. Bisa keluar bunga-bunga tuh dari matanya.
"Yaudah, kalian boleh pulang duluan. Gue sebentar lagi nyusul," ujar Riza kembali menggulung spanduk.
"Kami duluan ya," ujar Gaby dan Hani bersamaan.
"Oke," sahut Riza sambil mengacungkan ibu jarinya tinggi-tinggi.
Gaby masih menunggu angkutan kota yang biasa mengantarnya pulang ke rumah di halte sekolah. Tapi karena waktu sudah mulai petang, jumlah angkot yang beroperasi pun semakin berkurang armadanya.
Ditambah lagi tetesan air dari langit yang mulai berjatuhan membasahi bumi semakin menambah kesan sepi di halte tempat Gaby berdiri. Mau tak mau Gaby harus menunggu sedikit lebih lama meskipun sebenarnya tubuh Gaby sudah lelah dan rasanya ingin segera beristirahat.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Gaby jadi teringat Willy. Teringat betapa ontime nya Willy saat mengantar dan menjemputnya ke sekolah tak peduli cuaca panas ataupun hujan.
Tak peduli betapa lamanya ia harus menunggu kala Gaby diminta untuk rapat OSIS dadakan. Tak peduli betapa menyebalkannya Gaby saat diantar olehnya. Willy tetap setia. Tetap mengantarnya tanpa pernah sekalipun terdengar ungkapan mengeluh keluar dari mulutnya.
Willy..
Suara klakson berbunyi. Gaby yang tengah melamun dikagetkan oleh suara klakson yang cukup ia kenali. Sebuah mobil sedan hitam yang biasa terparkir di halaman rumahnya kini sudah ada di hadapannya. Berikut sang pengemudi yang tadi sedang ada dalam pikirannya.
"Willy," seru Gaby terkejut. Seseorang membuka kaca mobilnya.
"Gue Reno! Bukan Willy," teriak Reno hampir tak terdengar. Suaranya kalah jika harus dibandingkan dengan ribuan tetes air yang lambat laun mulai semakin deras.
Gaby mengucek matanya berkali-kali. Memastikan jika yang dilihatnya benar-benar bukan Willy tetapi Reno.
"Reno! Ngapain lo disini?"
"Jemput macan!" sahut Reno cepat. "Ya jemput lo lah. Kemaren kan gue udah janji mau anter lo pulang sekolah. Ayo buruan masuk," ujarnya kemudian membuka pintu mobil. Gaby pun langsung masuk kedalam mobil.
"Ya ampun jadi lo sengaja balik lagi ke sekolah cuma buat jemput gue?" tanya Gaby merasa tersanjung. Dia mengusap wajahnya yang basah terkena air hujan.
"Sebenernya sih engga. Kebeneran aja tadi gue lewat sini," jawab Reno jujur. Reno lantas membuka dasboard mobil lalu memberikan sebuah handuk kering kepada Gaby. "Tuh pake! Keringin dulu kepala lo biar ga pusing,"
Gaby hanya ber oh-oh ria mendengar jawaban Reno.
"Emang lo habis darimana?" tanyanya sambil mengusap wajah dengan handuk yang tadi Reno berikan.
"Pacar-pacar lo maksudnya?" ralat Gaby sambil sedikit meledek Reno. "Pantesan lo bawa mobil, ternyata mau ngedate," ujar Gaby lagi tapi dengan suara super kecil. "Takut rambut lo berantakan ya?" goda Gaby sambil tersenyum. "Pacar lo yang keberapa yang lo ajak kencan hari ini? mau lo ajakin dia kemana aja? makan sama nonton doang?" tanya Gaby penasaran.
Gaby memang benar-benar merasa penasaran dengan gaya berpacaran anak jaman sekarang. Karena dia sama sekali belum pernah diajak kencan oleh siapapun termasuk Willy.
"Bisa ga sih lo nanyanya satu-satu. Haus informasi amat sih lo," keluh Reno mulai kesal karena terus diinterogasi.
"Gue kan cuma nanya. Emang ga boleh? Kemaren gue diem aja pas lo anter gue pulang, salah. Sekarang gue ngomong terus juga salah. Gue jadi ngerasa serba salah ngadepin lo, Ren." Gaby menyenderkan kepalanya ke kursi sambil memejamkan mata.
"Lo udah makan?" tanya Reno sambil melirik Gaby. Gaby menggeleng pelan masih dengan mata terpejam.
Reno terdiam. Dia nampak memfokuskan diri ke arah jalanan. Tak lama kemudian mobil Reno berhenti disebuah restoran.
"Yuk, turun!" ajak Reno kemudian membuka pintu mobil lalu turun.
"Lho, kita makan dulu nih?" tanya Gaby yang mengekori Reno turun lalu masuk kedalam restoran.
"Iya, lo bilang belom makan kan? Anggap aja ini ngedate pertama kita," ujarnya kemudian masuk kedalam restoran. Disana sudah ada resepsionist yang menyambut kedatangan mereka.
"What!"
"Iya, tadi kan gue bilang mau nongkrong sama temen gue tapi lo bilang sama pacar. Nah, sekarang gue mau nongkrong sama lo, apa lo masih mau bilang kalo lo pacar gue?" ujarnya sambil menyeringai. Reno lantas memesan table kepada resepsionist lalu duduk sesuai meja yang dipesannya.
__ADS_1
"Lo mau pesen apa?" tanya Reno sambil membuka daftar menu. Seorang waiters berdiri menunggu pesanan mereka dengan setia.
"Gue pesen toilet dulu ada ga?" Gaby terkekeh tapi Reno mendelik.
"Jangan lama-lama," sahut Reno masih tetap berfokus pada buku menu.
"Oke, ga akan nyampe satu jam kok." Gaby tertawa. Kali ini Reno mendongakkan wajah menatap Gaby.
Gaby bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan ke arah toilet. Saat di lorong toilet, Gaby secara tak sengaja berpapasan dengan Williana, kakak kandung Willy.
"Kak Anna!" seru Gaby. Anna yang tengah bergandengan dengan seorang pria paruh baya nampak terkejut melihat Gaby. Dia dengan spontan melepaskan gandengannya di tangan pria itu kemudian memeluk Gaby.
"Gaby, ngapain disini?" tanya Anna. Dia lantas mencium pipi Gaby bergiliran.
"Diajak temen makan, kak. Kalau kakak lagi apa disini?"
Gaby menatap lelaki paruh baya yang nampak tak nyaman dengan keberadaannya. Sekilas, wajah lelaki itu hampir mirip dengan seseorang yang Gaby kenal.
"Aku lagi meeting nih," ujar Anna menatap lelaki paruh baya berdasi biru langit yang kini mulai pura-pura sibuk dengan handphonenya.
"Oh ya, Wiily udah pulang dari luar kota?" tanya Anna. Gaby mengerutkan keningnya.
"Belum kak, bukannya dia pulangnya masih 3 hari lagi ya?"
Anna tak menjawab, karena lelaki disampingnya sudah lebih dulu memberi kode untuk mengajaknya pergi.
"Aku duluan ya, Gab" ujar Anna sambil memeluk Gaby lalu kembali mencium pipinya kanan dan kiri.
Setelah Gaby selesai dari toilet, Gaby kembali ke meja yang dipesan Reno tadi. Tapi yang ia dapati justru tamu lain yang sudah mengisi meja tersebut.
Reno kemana?
Gaby kemudian keluar dan melihat Reno sudah berdiri disamping pintu mobilnya.
"Reno, kenapa keluar? Kita jadi makan kan?" tanya Gaby. Dilihatnya wajah Reno yang merah dengan rahang yang sengaja dikeraskan.
"Kita batalin aja acara makannya. Tiba-tiba migrain gue kambuh," ujar Reno sambil memegangi kepalanya.
"Tapi lo masih bisa nyetir? Kalau ga bisa gue pesenin taxi online aja ya," tawar Gaby yang langsung ditolak Reno.
"Kalau buat nyetir sih gue masih mampu, paling pas pulang nanti badan lo ada yang lecet lah dikit," ujar Reno usil.
"Ish. Orang ngomong serius malah di ajak becanda."
"Orang yang doyan becanda itu awet muda kayak gue. Dan orang yang pikirannya serius terus bakal cepet tua kayak lo," tunjuk Reno di kening Gaby. "Ayo jalan. Tarif mobil gue biasanya naik 5 kali lipat kalo lagi traffic light," ujar Reno masuk kedalam mobilnya.
"Dasar rentenir!" ujar Gaby ikut masuk kedalam mobil.
__ADS_1