Get Back Love

Get Back Love
Baju Olahraga Hilang


__ADS_3

Gaby memutar kepalanya berkali-kali seperti sedang melakukan gerakan pemanasan. Tangannya yang pegal tak lupa ia tekuk beberapa kali untuk mengurangi rasa sakit yang mendera. Kakinya yang terpaksa harus berjongkok pun sama. Semua anggota tubuh Gaby kesakitan akibat hukuman yang diberikan pak Gilbert kepadanya. Pun tak terkecuali kulit putih Gaby yang mulai kecoklatan karena hampir selama 4 jam berdiam dibawah teriknya panas matahari.


"Sudah selesai hukuman yang saya berikan?" tanya pak Gilbert sambil melipat kedua tangannya didada. Gaby mengangguk pelan. Malas menjawab pertanyaan orang yang sudah tega menyiksanya hanya karena dendam cinta.


"Ya sudah kamu ke lapangan sana, pak Wisnu sudah menunggu. Hari ini jadwal kamu ujian praktek basket kan?" tanya pak Gilbert mulai luluh. Dia sepertinya merasa bersalah juga karena sudah memberikan hukuman terlalu berat kepada Gaby.


Gaby kembali mengangguk. Entah masih bisa di gunakan untuk ujian basket atau tidak tangannya yang sudah mati rasa ini saking pegalnya. Dengan gontai dia berjalan ke ruang kelasnya, tanpa berniat pamit kepada lelaki berkacamata yang kepalanya dibuat plontos tak berambut itu.


Didalam kelas, Gaby mengambil pakaian olahraganya didalam tas kemudian ia berjalan ke arah toilet untuk mengganti pakaian.


Setelah selesai mengganti pakaian, Gaby kembali ke kelasnya dan menyimpan seragamnya di atas kursi. Tiba-tiba dari luar kelas datang Elisa yang memintanya buru-buru pergi ke lapangan.


"Gaby, cepetan! Pak Wisnu udah nungguin lo daritadi tuh," seru Elisa dari ambang pintu.


"Iya. Bentar lagi juga gue selesai kok," sahut Gaby. Dia kemudian keluar kelas menuju lapangan basket menyusul Elisa yang sudah lebih dulu datang kesana.


Setelah selesai mengikuti ujian basket, Gaby kembali ke kelas untuk mengganti seragamnya. Namun baju seragam yang ia tinggal diatas kursi tiba-tiba hilang. Saat itu hanya ada 2 orang siswa laki-laki yang tengah duduk di kursi paling belakang di dalam kelas.


"Kalian ada yang lihat seragam gue ga?" tanya Gaby panik. Ia tak mungkin mengikuti pelajaran lain dengan baju olahraga. Selain karena bau keringat, peraturan sekolah memang tidak memperbolehkan siswanya mengenakan pakaian selain seragam di dalam kelas.


Dua orang siswa itu kemudian menggeleng. Mereka lantas pergi meninggalkan Gaby sendiri.


"Aduh, kemana itu seragam?" tanya Gaby pusing sendiri. Dia mengeluarkan seluruh barang dari dalam tasnya, berharap ia salah taruh disana. Tapi sayang, hasilnya tetap nihil. Seragam Gaby tidak ia temukan disana.


Bel pergantian jam pelajaran pun berbunyi. Gaby yang takut mendapat hukuman lagi kemudian berlari ke toilet sekolah untuk bersembunyi. Setidaknya sampai jam pelajaran sekolah berakhir.


Satu jam.

__ADS_1


Dua jam.


Tiga jam.


Empat jam.


Bel pulang sekolah pun berbunyi. Gaby keluar dari toilet sambil mengendap-endap takut ada yang melihatnya. Belum sempat dia melewati pintu toilet, seorang siswi yang tak ingin Gaby temui justru dengan sengaja menghadangnya.


"Ngapain lo disini?" tanya Leona yang dengan sengaja menghalangi jalan Gaby di pintu keluar toilet.


"Menurut lo gue ngapain kalo ke toilet? Makan?" tanya Gaby mulai mencium aroma bullyan yang akan diterimanya.


Leona tertawa, disusul oleh empat orang temannya yang berdiri dibelakang Leona seperti palang pintu. Mereka menutup pintu toilet kemudian menguncinya. Salah satu diantara mereka nampak membawa sebuah bungkusan berwarna hitam yang disembunyikan di belakang tubuhnya.


"Udah berani jawab pertanyaan gue lo ya? Cupu!" ujar Leona sambil menatap tak suka pada Gaby.


"Malah sengaja lo ya. Mau ngelawan?" Leona maju beberapa langkah ke arah Gaby.


"Lo ga punya hak buat jawab pertanyaan gue, cupu! Karena kita sama sekali ga selevel" ujar Leona yang berbicara tepat di depan wajah Gaby. Tangannya sengaja ia kibaskan ke kanan dan kiri dengan bibir sedikit dinaikkan.


"Harusnya lo sadar dimana posisi lo yang sebenarnya. Jangan mentang-mentang Reno deketin lo akhir-akhir ini, jadi lo ngerasa kalau level kita itu sama," maki Leona dengan tatapan sinisnya.


Kali ini Gaby tak menyahut. Dia lebih memilih diam. Karena menurutnya diam adalah emas. Meski bukan emas 24 karat.


"Asal lo tahu aja, Reno deketin lo mungkin karena ada satu hal yang dia pengen dari lo. bukan karena dia suka sama orang cupu macam lo" Leona kini mendorong tubuh Gaby secara terus menerus hingga akhirnya terhenti di dinding toilet.


"Lo tahu siapa aja mantannya Reno?" tanya Leona lagi. Terang saja Gaby menggeleng. Mengenal Reno saja belum lama. Mana mungkin dia berani cari tahu siapa saja mantannya dahulu. Yang ia tahu mantan Reno itu ada banyak. Titik!

__ADS_1


"Kasih tahu dia biar bisa ngaca!" ujar Leona kepada teman-temannya.


"Vallery Wibisono, anak cheers yang kecantikannya udah ga perlu di ragukan lagi. Bokapnya pemilik salah satu hotel bintang lima yang memiliki fasilitas luar biasa sempurna. Kebanyakan tamu yang datang ke hotelnya adalah para pejabat dan artis papan atas. Hanya orang-orang tertentu yang bisa ketemu langsung sama orangtua Vallery," terang Ghea panjang kali lebar.


Kok yang dibanggain malah orangtuanya ya?


Gaby bingung sendiri.


"Helena Hutomo, model cantik yang karirnya mulai melejit dan sekarang udah jadi super model dengan bayaran termahal. Jangan harap lo bisa ketemu sama dia tahun ini, karena jadwalnya udah full sampai tahun depan. Dia sibuk banget," lanjut Inka sambil mengibaskan rambutnya yang baru selesai perawatan disalon 2 hari yang lalu.


Pantesan mereka putus. Pasti jarang ngedate.


"Jennifer, seorang pianis yang-" Leona mengangkat tangannya meminta Dena berhenti bicara. Dengan wajah muram Dena mundur satu langkah kebelakang Ghea. Malu dan merasa tak dihargai Leona. Lagi dan lagi.


"iIu adalah sebagian kecil kehebatan dari para mantan pacarnya Reno. Dan kalo dibandingin sama lo" tunjuk Leona kemudian berkata, "Lo itu ga ada apa-apanya. Bahkan seujung kuku pun ga bisa dibandingin," ujar Leona mengangkat dagunya. Dia tersenyum mengejek sambil memandang Gaby dari atas rambut hingga ke ujung kaki.


"Lihat gaya lo yang norak! Rambut dikepang ke belakang, pake kacamata super tebel, muka polos ga pake make up sama sekali. Aksesoris murahan, dan tas diskonan yang ketinggalan jaman pula. Ya ampun, gue ga bisa bayangin deh kalau Reno..." ujar Leona bergidig ngeri. Sedangkan Gaby cuek bebek menanggapi ucapan Leona yang sebenarnya menyayat hati.


"Ya lo jangan bayangin lah. Lagipula ga mungkin dong Reno suka sama gue. Cowok yang suka sama gue kan kemungkinannya cuma 2, antara tuh cowok udah putus asa karena ga dapet pacar cantik atau selera tuh cowok yang emang jauh banget dibawah standart," ujar Gaby mengulang ucapan Leona dulu. "Dan Reno kayaknya ga masuk ke dalam satupun kriteria cowok yang lo bilang dulu," lanjut Gaby membuat darah Leona terasa mendidih.


Ia lantas meminta Ghea memberikan bungkisan hitam yang sejak tadi dipegangnya kemudian membuka plastik hitam itu tepat diatas kepala Gaby.


Wuuurrr...


Serbuan tepung membuat rambut Gaby memutih seperti uban. Tak puas hanya menumpahkan tepung dikepala Gaby, Leona dengan emosi mengambil ember berisi air sisa cucian kain pel yang berada dibelakang pintu kemudian menumpahkannya di kepala Gaby. Gaby yang kebasahan mengusap wajahnya yang sudah tidak karuan.


"Ini hadiah kecil buat orang cupu ga tahu malu macem lo! Sekali lagi gue lihat lo deket-deket sama Reno, Lo bakal ngerasain hadiah yang lebih menarik dari ini," ancam Leona sambil berbisik ditelinga Gaby.

__ADS_1


"Yuk cabut," ajak Leona kepada rombongannya. Pintu toilet dibuka secara kasar kemudian ditendang oleh Inka. Gaby yang baru saja mendapat kejutan hanya bisa berdiri mematung membiarkan teman-teman satu sekolahnya mengintip dari pintu sambil berbisik membicarakannya.


__ADS_2