
"Silahkan non," ujar lelaki itu ramah. Dia membuka pintu mobil dengan sangat hati-hati. Disana nampak Willy tengah sibuk menatap layar handphonenya.
Gaby segera masuk. Dia duduk tepat disamping Willy. Sekilas dilihatnya Riza masih berdiri ditempat yang sama, menatap mobil yang Gaby naiki hingga akhirnya lelaki yang menjemput Gaby tadi menjalankan mobil menjauhi Riza.
Willy berdehem. Gaby yang baru sadar memalingkan wajahnya kepada Willy.
"Kaget lihat saya?" tanya Willy yang tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari layar handphonenya. Dia mengenakan kacamata sambil memegangi sebuah pena yang terus ia coreti dilayar handphonenya. Wajahnya nampak serius. Sama seperti wajah Gaby jika sedang mengerjakan ujian matematika.
Berapa hari gue ga lihat dia? Kok badannya kayak sedikit lebih kurus ya.
Gaby menggeleng cepat.
Apa-apaan sih lo Gab. Buat apa lo peduli sama dia. Mau badannya kurus kayak tengkorak hidup kek, mau badannya gemuk kayak pesumo Jepang kek. Harusnya lo ga perlu pikirin. Bikin beban otak di kepala lo makin berat aja.
"Biasa aja," sahut Gaby datar. Dia menyilangkan kakinya mencari posisi duduk ternyaman.
Mendengar jawaban Gaby, seketika Willy menoleh. Dia lantas menyimpan handphonenya sambil melepaskan kacamata. Diliriknya Gaby seketika itu juga.
Namun tiba-tiba Willy menyembur karena tak kuat menahan tawa. Dia menggerakkan kepalanya naik turun melihat penampilan Gaby yang berantakan. Akhirnya tawa Willy pun pecah, membahana.
"Kejadian apa yang bisa bikin kamu sampe kayak gini? Ulang tahun kamu masih 2 bulan lagi kan?" tanya Willy dengan tawanya yang tersisa.
Gaby mengerucutkan bibirnya sambil membuang muka. Mungkin seharusnya tadi ia tidak pindah dari mobil Riza. Karena Riza pasti tidak akan menertawakannya seperti Willy. Keputusan yang ia ambil benar-benar salah.
"Ah ... Saya tau. Kamu lagi dapet peran di acara drama sekolah ya? Jadi nenek-nenek yang bawa buah apel beracun buat putri salju kan?"
Willy semakin semangat meledek Gaby. Wajah serius yang tadi Gaby lihat pudar menjadi tawa bahagia.
Kayak lo pernah nonton film snow white aja.
"Terserah kamu mau ngomong apa. Aku ga peduli," ujar Gaby cuek. Dia memejamkan matanya sambil menyenderkan kepala di kursi penumpang.
"Pak Mus, lihat mukanya! Seperti boneka sedang pakai bedak kan?" ujar Willy lagi seperti tak ada puasnya. Gaby mengintip kaca mobil lewat sebelah matanya.
Emang sisa tepung tadi masih ada di muka gue ya? Perasaan tadi udah gue cuci sampe bersih deh.
Lelaki yang dipanggil pak Mus itu hanya mengulas senyum tipis. Gaby akhirnya memilih duduk secara tegap agar dapat memelototi lelaki yang Willy ajak untuk bersekutu meledeknya itu jika berani menertawakannya lagi. Sekilas, Gaby melirik Willy yang masih terus tertawa.
Puas lo? Ketawa aja terus sampe perut lo sakit.
"Ya Tuhan Gab. Ga sia-sia saya dateng kesini cuma buat nemuin kamu. Kamu emang selalu bisa bikin saya bahagia." Willy mengusap ujung matanya yang berair. Pak Mus menyodorkan kotak tissue kehadapan Willy.
Dan lo kebalikannya. Lo selalu bisa bikin gue kesusahan.
"Sekarang tujuan kita mau kemana, den?" tanya pak Mus menunggu komando.
"Kita langsung ke rumah nenek pembawa apel beracun ini aja pak. Kasihan dia harus buru-buru mandi biar bisa kembali menjadi muda lagi."
Apa yang barusan dia bilang?
Handphone Willy berdering. Sekilas ia memandang nama sang penelpon dari layar handphonenya. Sambil menghela nafas panjang, dia menjawab panggilan yang masuk ke handphonenya.
__ADS_1
"Ya Pak Krisna. Ada apa lagi?"
Gaby menggaruk tengkuknya yang benar-benar gatal. Tepung yang bercampur air cucian kain pel tadi sepertinya sukses membuat kulit Gaby iritasi.
"Saya kan sudah bilang, saya ga mau tahu. Saya ingin masalah ini segera selesai."
Suara Willy semakin meninggi. Raut wajahnya berubah kembali menjadi serius bahkan mengarah pada kesal. Sepertinya sebentar lagi ia akan mengeluarkan tanduk dari kepalanya.
"Bapak jangan pura-pura lupa. Saya sudah memberikan bapak keringanan sejak satu bulan yang lalu. Keringanan apalagi yang bapak inginkan?"
Willy berdecak. Seseorang yang menelepon nya pasti mengatakan sesuatu yang membuat Willy kesal.
"Saya tidak peduli. Kalau bapak tidak becus menyelesaikan masalah yang anak buah bapak perbuat, silahkan tinggalkan surat pengunduran diri bapak di atas meja saya besok pagi."
"Berhenti memohon. Saya sudah muak mendengar janji-janji yang bapak berikan."
Willy menutup teleponnya kemudian menyandarkan kepala ke belakang. Dia memijat pelipisnya sambil menutup mata.
Gaby tak berani bertanya. Lagipula urusan bisnis bukanlah ranahnya. Ia tak mau membuat Willy semakin pusing dengan pertanyaan-pertanyaan darinya.
Handphone Willy kembali berdering. Kali ini dia langsung menjawab panggilan tersebut dengan cepat. Raut wajahnya berubah cerah meski rasa kesal seperti masih menyelimutinya.
"Halo ma."
Gaby melirik saat Willy memanggil nama mamanya dengan begitu lembut dan sopan. Dia seperti memiliki kelainan. Bisa dengan mudah meluapkan kemarahannya dan bisa langsung manis pula dalam sekejap mata.
"Lagi jalan sama Gaby."
"Iya, sorry ya ma. Abis Willy udah kangen banget sama Gaby."
Gaby bergaya seolah-olah hendak muntah.
"Oke. Mama tunggu di rumah ya. Satu jam lagi Willy sampai."
"Oh, mama lagi ada disana sekarang? Yaudah, kalo gitu nanti Willy susul mama kesana."
Willy mematikan teleponnya.
"Pak Mus, kita ganti tujuan ya. Antar saya ke tempatnya Chelsea dulu."
Chelsea? Siapa Chelsea? Semoga perempuan yang mau dijodohkan sama Willy. Biar gue bisa merdeka.
"Baik den." Pak Mus memutar kemudinya. Gaby yang tak terima langsung melakukan protes.
"Eh, kita mau kemana ini?" tanya Gaby panik.
"Kemana ya?" Willy mengusap dagunya yang licin seperti orang sedang berpikir. Tak lama kemudian ia kembali berkata, "Saya juga ga tahu. Kan yang bawa mobilnya pak Mus. Bukan saya," ujar Willy sambil tersenyum menyebalkan.
"Pak, kita sebenarnya mau kemana?" Gaby menepuk pundak pak Mus dua kali. Baru saja pak Mus hendak menjawab, Willy dengan sigap mencegahnya.
"Udah jangan banyak nanya. Pak Mus butuh konsentrasi untuk mengemudi."
__ADS_1
"Makanya jawab dulu pertanyaan aku."
"Kalau saya jawab pertanyaan kamu, apa keuntungan yang saya dapet?"
"Pahala. Kamu bakal dapet pahala karena udah berbaik hati kasih informasi penting buat aku."
"Dan kalau saya ga mau jawab pertanyaan kamu, apa kerugiannya buat saya?"
"Kamu bakal aku sumpahin masuk neraka."
"Ya Tuhan, kayaknya kamu punya obsesi tersendiri ya sama kata-kata neraka? Memangnya di neraka itu ada apanya sih? Apa disana saya bisa bikin perusahaan baru?"
"Emang susah kalau ngomong sama pengusaha. Yang ada di otaknya itu cuma ada perusahaan, untung sama rugi aja. Ga ada yang lain."
"Siapa bilang?"
"Aku, barusan."
Willy tertawa. Dia benar-benar menikmati kebersamaannya dengan Gaby.
"Kok malah ketawa. Kamu ga mau jawab pertanyaan aku?"
"Pertanyaan yang mana ya?"
Willy pura-pura lupa.
"Willy!" pekik Gaby kesal.
"Gaby..." panggil Willy lembut.
"Mending kamu turunin aku sekarang."
"Yakin? Kamu mau jalan kaki lagi ya kayak tempo hari?"
Gaby mendengus kesal.
"Udah mending kamu duduk manis aja, jangan banyak tanya. Nanti kalau udah nyampe, kamu pasti tau mau aku ajak kemana dan ngapain."
"Ga bisa. Aku lebih milih jalan kaki daripada harus pergi ke tempat antah berantah sama kamu."
Willy yang tadinya sabar kini mulai kesal. Dia meminta pak Mus menyalakan musik dengan volume paling kencang agar meskipun Gaby berteriak hingga uratnya putus Willy tak perlu mendengar teriakan itu
"Willy ... Aku mau dibawa kemana?" teriak Gaby berkali-kali. Tapi Willy malah menganggukkan kepalanya menikmati alunan musik yang menggema di mobilnya.
Gaby menyerah. Dia menangis karena tak ditanggapi. Willy yang melihat Gaby menangis mengusap airmata Gaby dengan perlahan lalu meminta pak Mus mematikan musiknya.
"Kamu jangan nangis, Gab. Aku paling ga suka lihat airmata mengalir di pipi kamu."
"Makanya kasih tau, kita mau kemana?" tanya Gaby sambil terisak. Willy mencondongkan tubuhnya kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Gaby.
"Kita malam Selasa-an dulu ya," bisik Willy sambil tersenyum tipis.
__ADS_1