
"Gab!" panggil Mika yang baru saja turun dari motor maticnya. Gaby segera berbalik.
"Hai Mik," sahut Gaby. Ekor matanya menelisik satu persatu sepeda motor yang terparkir di halaman parkir sekolah. Tapi ia tak mendapati sepeda motor warna merah yang biasa dibawa Reno.
Dia ga masuk kah?
"Hey! Malah ngelamun lagi. Ayo ke kelas," ajak Mika yang langsung merangkul pundak Gaby.
"Oh iya," sahutnya.
"Kemaren gue coba telepon lo kok ga di angkat sih? Willy udah balik ya?" tanya Mika. Gaby menggeleng cepat.
"Belum. Kenapa sih perasaan dari kemaren banyak yang nanyain Willy udah balik apa belum sama gue? Gue kan ga tahu. Teleponan aja bisa di hitung pake jari saking jarangnya," ujar Gaby membuat Mika berdecak.
"Ya ampun, Gab. Gue kan cuma nanya. Kok lo jadi sensi begitu sih? Lo lagi dapet ya?" tanya Mika kini cengengesan.
"Abis, udah tau gue ga suka ditanyain masalah Willy. Eh, lo malah sengaja memancing di air keruh," omel Gaby sebal.
"Ya terus kenapa lo ga jawab telepon gue kemaren?"
"Handphone gue hilang,"
"Hah?" Gaby menutup mulut Mika yang terbuka lebar dengan telapak tangannya. "Tuh handphone emang bener-bener harus di lembiru kali ya, udah sempet jatoh ke air di westafel toilet pas Leona ngerjain lo, udah layarnya retak di jatohin sama Reno dan sekarang malah hilang ga tau kemana." Mika geleng-geleng kepala mengasihani nasib handphone Gaby yang kurang beruntung.
"Lembiru apaan sih Mik?"
"Lempar beli yang baru dong. Masa lo ga tahu?" Gaby menggeleng.
"Ya, kalo orang kaya macem lo sih iya aja mau lembiru handphone tiap detik satu juga. Nah gue, ini handphone aja di kasih dari Willy."
"Eh ciee.. Nama Willy akhirnya disebut juga," goda Mika sambil mencolek pinggang Gaby.
"Ih, Mika! Lo sengaja ya mancing gue buat sebut nama dia?" tanya Gaby ingin membalas Mika dengan cara menggelitikinya. Mika menghindar. Dia kemudian berlari kecil meninggalkan Gaby agar tak di kelitiki.
"Eh, kita harus buru-buru Gab. Sebentar lagi kan mau upacara," ujar Mika lagi mengingatkan. Gaby hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Gagal membalas Mika.
Sesampainya di depan kelas masing-masing, Gaby dan Mika pun berpisah. Gaby masuk ke dalam kelas, namun tak seperti biasanya aura kelas pagi itu sedikit berbeda.
Gaby tak mengindahkan perasaannya. Dia segera menyimpan tas kemudian mengambil topi untuk segera pergi ke lapangan mengikuti upacara bersama teman-teman lainnya.
"Gab! Sini baris deket gue," panggil Mika saat melihat Gaby tengah berjalan ke arah barisan kelasnya.
__ADS_1
"Engga ah. Ini kan bukan barisan kelas gue, Mik. Kalo ketahuan pak Thomas gue bisa dijemur sampe gosong," Gaby tetap pada pendiriannya. Namun bukan Mika namanya jika tak bisa mengeluarkan jurus paksa kepada Gaby.
"Udah ga apa-apa. Tuh lihat, Sera aja barisnya di kelas lain. Gue pengen ngobrol sama lo soalnya." Gaby memandang Sera. Dia memang nampak tengah berbincang dengan Dio kekasihnya yang berbeda kelas.
"Ngobrolnya nanti aja pas istirahat," tolak Gaby tak mau. Dalam satu bulan ini sudah 2 kali dia mendapatkan hukuman. Dan Gaby tak mau menambah jumlah hukuman yang diterimanya.
"Ayolah, please... " Mika menempelkan kedua telapak tangannya seperti biasa. Raut wajah memelas pun tak lupa ia keluarkan.
Pengeras suara mulai diaktifkan. Guru pelaksana sudah meminta para murid berbaris rapi di barisan masing-masing. Gaby yang hendak pergi ke barisannya ditarik tangannya secara paksa oleh Mika hingga akhirnya mau tak mau dia pun jadi berbaris di kelas lain meskipun itu sebenarnya tidak diperbolehkan.
"Mika!" teriak Gaby berusaha melepaskan tarikan Mika. Tapi sayangnya gagal. Mika sepertinya tadi pagi meminum jamu kuat buatan ART nya yang merupakan mantan penjual jamu gendong. Dibelakang pun sudah ada beberapa guru laki-laki yang berjaga mengawasi barisan.
"Udah diam! Kalo lo berisik terus nanti lo beneran dijemur sampe gosong," ujar Mika kemudian memandang lurus ke depan. Gaby menghela nafas. Beginilah sifat Mika yang keras kepala. Kalau menurut dia A ya harus A.
Upacara pun dimulai. Semua nampak hikmad menjalankannya, tak terdengar suara sedikit pun. Hingga akhirnya saat Riza yang bertugas sebagai pengibar bendera maju bersama kedua rekannya Mika langsung berbisik kagum kepada Gaby.
"Gab! Riza..." teriak Mika histeris. Gaby melotot ke arah Mika yang hilang kontrol.
"Mik, kecilin volume suara lo," pinta Gaby sambil menggerakkan matanya ke arah belakang untuk memberi kode. Disana ada beberapa guru yang sudah memperhatikan mereka.
Tak berhenti sampai disitu, Mika kembali membuat ulah dan menarik perhatian para guru pengawas barisan.
"Mika! Mika..!" panggil Gaby yang mulai memanjangkan lehernya.
Kesal.
Sudah salah barisan, ditinggal sendirian, kini diawasi para guru pengawas di belakang karena sejak tadi membuat keributan bersama Mika. Sungguh, sekali lagi saja Gaby membuat kesalahan dia benar-benar akan di hukum.
"Hey kamu!" panggil seorang guru pengawas yang kini berada tepat di depan Gaby. Gaby yang tadi menunduk berharap tak ada yang mengenali kemudian mendongakkan sedikit wajahnya.
"Ya Pak!"
"Kamu bukan murid di kelas saya kan?" tanya pak Gilbert yang merupakan wali kelas Mika.
Gaby memejamkan matanya, petualangannya berada dibarisan lain akhirnya harus ketahuan.
"Iya Pak," sahut Gaby pasrah. Mika yang tadi berbaris di depan menoleh kebelakang.
"Ini bukan barisan kamu kan?" tanyanya lagi sambil berkacak pinggang.
"Iya Pak,"
__ADS_1
"Kenapa kamu malah baris disini? Mau pindah kelas kamu, hah?"
"Bukan cuma saya kok pak yang baris bukan di barisannya. Sera juga sama," tunjuk Gaby ke tempat Sera tadi berdiri. Tapi Sera menghilang. Hanya ada Dio yang menatapnya iba.
Gaby kaget.
"Sorry Gab," ujar Mika pelan dengan bahasa bibir yang nampak komat-kamit seperti tengah membaca mantera.
"Mana Sera?" tanyanya sedikit berteriak.
"Tadi beneran ada kok, Pak" Gaby mulai menggigit bibir bawahnya. Panik.
"Ikut saya! Sudah berbaris bukan ditempatnya, membuat gaduh pula. Kamu mau menarik perhatian Riza yang lagi jadi petugas pengibar bendera?" omel pak Gilbert sambil menggiring Gaby ke barisan paling belakang.
"Bukan saya pak, tapi Mika." Pak Gilbert melotot.
"Kamu berani mengkambing-hitamkan anak murid saya?" tanya pak Gilbert membuat Gaby serba salah. "Jelas-jelas sejak tadi kamu yang membuat keributan," tuduh pak Gilbert sambil menaikkan kacamatanya yang melorot.
Tapi kan keributan itu asal muasalnya dari Mika pak, anak murid bapak!
"Saya akan laporkan kamu sama bu Celine, biar dia tahu bagaimana kelakuan anak murid yang selalu dia banggakan di depan muka saya," ujar pak Gilbert berapi-api.
Sepertinya ada sesuatu yang terjadi antara pak Gilbert dan bu Celine sampai membuat pak Gilbert seperti memendam dendam kesumat seperti itu.
Pak Gilbert mengambil handphone dari saku celananya. Dia nampak mencoba menghubungi bu Celine beberapa kali namun tak mendapat jawaban. Tak lama kemudian dia mengecek jadwal semua guru dari layar handphonenya.
"Pantas tak diangkat. Dia sedang cuti rupanya? Jangan-jangan dia sedang jalan-jalan berdua dengan pacar dokternya itu," omel pak Gilbert dengan raut wajah kecewa.
Oh, dendam asmara. Cinta ditolak hukuman bertindak kalau begini caranya. Nasib.. Nasib..
Gaby menepuk jidatnya.
"Apa kamu? Pake tepok-tepok jidat segala? Senang kamu karena tidak jadi saya laporkan sama bu Celine?" ujar Pak Gilbert makin marah.
Gaby menggeleng lemah. Kapok tak mau menjawab pertanyaan orang yang sedang marah.
"Yasudah, sebagai hukuman karena sudah membuat gaduh saat upacara tadi. Kamu saya hukum memindahkan air dari kolam ikan kedalam ember sebanyak 2 ember," ujar pak Gilbert mulai tenang. Dia melonggarkan ikatan dasinya sambil menaikkan celananya yang kebesaran di pinggangnya.
"Oh itu aja hukumannya, Pak?" tanya Gaby senang. Ternyata pak Gilbert jauh lebih baik jika dibandingkan bu Retno dalam hal hukum menghukum. Karena hukuman yang diberikan olehnya sedikit lebih manusiawi. Meskipun tadi wajah Gaby harus sedikit tegang saat di marahi pak Gilbert.
"Saya belum selesai bicara," jawabnya sambil menyeringai. "Kamu harus memindahkan air dari kolam kedalam ember menggunakan SENDOK!" teriaknya membuat Gaby membuka mulutnya lebar-lebar karena terkejut luar biasa.
__ADS_1