
Reno membawa Gaby ke taman belakang sekolah. Mereka kemudian duduk di sebuah kursi besi sambil menikmati sepoi angin yang berhembus dibawah pepohonan.
Tetesan keringat nampak bercucuran dari kening Reno. Dia lantas mengambil sebotol air mineral kemudian menyiramkannya ke kepala.
"Segar," ujarnya sambil menggelengkan kepala cepat agar air yang disiramkannya tadi bercipratan kemana-mana. Termasuk ke arah Gaby.
"ish, basah Reno!" protes Gaby. Dia mengusap wajah dan kemejanya yang basah terkena cipratan air dari Reno.
"Eh. Sorry-sorry," ujar Reno sambil tersenyum. Manis sekali.
Senyumnya manis juga. Apalagi kalo tuh lesung pipi keliatan. Meskipun Reno ga seganteng Willy...
Gaby tersentak. Dia menggelengkan kepala cepat-cepat.
Kenapa gue jadi mikirin dia sih? Konslet nih otak! Tapi Willy kan emang ganteng, sayang aja kelakuannya ga ikutan ganteng!
Gaby tersenyum sendiri.
"Lo kenapa?" tanya Reno heran. Dia melempar botol air mineral kedalam tempat sampah tepat sasaran.
"Huh? Oh, engga apa-apa kok," kilah Gaby
"Tadi gue liat lo senyum-senyum sendiri. Jangan-jangan lo lagi mikir macem-macem lagi karena kita berduaan disini. Sorry ya, gue ga selevel sama lo," ujar Reno kumat. Gaby membuang senyumannya ke planet mars.
Sabar Gaby, Sabar. Orang sabar dijamin dapet tiket masuk surga.
"Kok diem? Omongan gue bener ya!" tanya Reno membuat Gaby memutar bola matanya.
Mulai deh percaya diri akutnya merajalela.
"Selamat ya... " ujar Gaby menyodorkan tangannya mengalihkan pembicaraan. Kening Reno berkerut.
"Lo ga liat hasil skor tim basket gue?" Gaby mengangguk.
Liat lah, orang tuh angka di papan skor segede gaban
"Liat kok, makanya gue ucapin selamat. Selamat atas kekalahannya," Gaby tersenyum jahil.
Reno tertawa. "Wah, bisa ngeledek juga lo ya. Oke, terima kasih ucapannya. Ga sekalian kasih gue coklat?" sahutnya sambil menjabat tangan Gaby.
Oh jadi selain over percaya diri, doyan ngebully orang, lo juga perhitungan ternyata?
"Gue ga punya coklat," sahut Gaby cepat.
"Yaaahhh..." Reno kecewa.
"Lo pecinta coklat?" Gaby mengayunkan kakinya. Membiarkannya terbang bebas di udara.
__ADS_1
"Iya. Gue suka coklat sejak kecil. Lo tau gak kalo dulu gigi gue jelek banget karena kebanyakan makan coklat?" Reno menunjuk tatanan giginya yang tidak rata.
"Tau. Sampe sekarang pun gigi lo masih jelek kok," sahut Gaby polos membuat Reno lagi-lagi tertawa.
"Lo tuh bener-bener spesies langka tau ga. Ga pernah gue ngobrol bahkan nemuin cewek yang omongannya kayak lo,"
"Emang kenapa sama omongan gue?"
"Ya gitu deh," sahut Reno tak bisa menjelaskan. Dia merentangkan kedua tangannya pada sandaran kursi.
Nyaman maksud lo? Gitu aja ga mau ngaku. Tengsin ya!
"Turunin tangan lo. Baunya asem!" ujar Gaby sambil memencet hidungnya. Reno kembali tertawa.
"Masa sih?" Reno mencium ketiaknya. Memastikan kebenaran ucapan Gaby. Sambil berpikir dia berkata, "Engga ah. Wangi parfum begini," elaknya tak mengaku.
"Ish!" Gaby cemberut. "Bulu hidung gue udah kesetrum gini, dan lo masih billang ga bau? cepet-cepet periksa ke THT sana, kali ada masalah sama hidung lo."
Reno tertawa lagi.
"Lo kenapa sih ketawa terus? Ga ingat kalo tim basket lo kalah tadi? Atau Lo lagi happy ya?" tebak Gaby
"Iya, gue lagi happy karena ketemu sama lo hari ini. Kemaren kenapa lo bolos? Badung juga lo ya." Reno menunjuk-nunjuk Gaby.
Dasar si roller coaster. Tadi jelek-jelekin gue, eh ga ada 5 menit bikin hidung gue terbang ke angkasa. Bentar lagi pasti nih orang narik paksa gue buat turun ke bumi kayaknya.
"Oh... Ada urusan apa? Jangan-jangan soal Tania ya?" tebak Reno penasaran.
"Harus gue kasih tau emangnya? Lo udah naik jabatan jadi guru piket sekarang?"
Reno tertawa lagi.
"Udah ah, jangan ketawa terus. Takut gue!" teriak Gaby menggeser posisi duduknya sedikit lebih menjauh.
"Ehh, mau kemana. Udah sini jangan jauh-jauh," seru Reno kembali menarik Gaby kembali ke posisinya.
"Engga!" tolak Gaby
"Sini!" Reno menarik Gaby lagi.
"Ish, gue balik kelas aja kalo gitu!"
"Yaudah, yaudah. Lo tetep disitu," Reno mengalah. Dia tidak mau kehilangan informannya. "Hmm.. nanti, pulang sekolah gue anterin balik ya,"
"Apa?" Gaby kaget. Sekaget-kagetnya. "Lo becandain gue kan?"
"Engga, Gue serius. Nanti gue tunggu di parkiran ya pulang sekolah. Jangan kabur duluan lo!" ancam Reno
__ADS_1
"Emang lo ga malu balik bareng sama orang cupu macem gue? Nanti temen-temen lo ngatain macem-macem sama lo."
"Malu sih. Tapi ya mau gimana lagi? Temen-temen cewek gue pasti udah ngatain gue daritadi karena narik lo kesini di depan mereka."
Tuh kan! Belom ada 5 menit nih cowok udah hempas gue ke dasar bumi.
"Yaudah kalo malu ngapain lo ngajakin gue balik? Gue juga biasa balik sendiri kok," ujar Gaby marah. Dia melipat kedua tangannya didada sambil membuang wajah.
"Cie, manusia cupu ngambek," goda Reno sambil tertawa.
"Udah ah, gue mau balik ke kelas," ujar Gaby bangkit dari tempat duduknya.
"Oke. Tapi jangan lupa ntar balik tungguin gue diparkiran ya," Reno mengedipkan matanya. Gaby bergidig.
"Gab..." panggil Mika tiba-tiba muncul.
"Hai, gendut!" seru Reno melambaikan tangannya. "Gue duluan ya. Nitip si cupu jangan sampe ilang," ujar Reno berlalu sambil tertawa.
"Iyuh, efek kalah tanding basket dia jadi... " Mika menggores keningnya miring. Gaby tertawa saja mendengar ucapan Mika. Mika kemudian duduk di tempat Reno tadi.
"Ngomongin apa aja kalian berdua? Dia ga mungkin ngajakin lo ngedate kan?" tanya Mika mulai menginterogasi.
"Ga mungkin lah, Mik. Dia sendiri kok yang bilang kalo gue bukan levelannya dia."
"Astaga, sombong amat manusia satu itu. Udah macem dia orang paling ganteng aja di dunia. Padahal masih gantengan..."
"Kak Riza kemana-mana kan?" Gaby menggoda Mika membuat pipinya merah.
"Itu lo tau."
"Sebenernya apa sih yang bikin lo suka dari kak Riza?"
"Kak Riza ya? Dia itu yang pasti ganteng, cerdas, baik, sama berwibawa Gab. Lo ga liat apa kalo dia lagi kasih pengumuman? Gayanya itu udah kayak pemimpin negara," puji Mika
"Presiden dong."
"Belom, masih dalam proses. Semoga aja dia beneran jadi presiden pas gede nanti."
"Emangnya kenapa kalo dia jadi presiden?"
"Aduh, lo ini beneran lupa apa pura-pura lupa sih? Kalo kak Riza jadi presiden, ya otomatis gue jadi ibu negaranya dong, Gab."
"Khayalan lo tingkat tinggi, Mik. jangan lupa pegangan ya. Biar nanti kalo suatu saat tiba-tiba lo jatoh, lo ga bakal terlalu ngerasa sakit." Gaby menepuk pundak Mika beberapa kali kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"Eh, lo mau kemana Gab?" teriak Mika saat Gaby mulai berjalan meninggalkan nya.
"Masuk kelas. Ada ulangan pak Jeremy," sahut Gaby menjauh.
__ADS_1
"Astaga! Guru killer. Gaby tunggu Gab. Ini handphone lo ketinggalan," seru Mika sambil mengangkat sebuah handphone yang ia temukan di kursi tinggi-tinggi.