
"Kamu lagi. Kamu lagi. Rasanya saya sudah bosan memberikan kamu hukuman," komentar guru BK saat melihat wajah Reno yang kembali masuk kedalam ruangannya, lagi dan lagi.
"Saya justru jauh lebih bosan melihat wajah anda saat ini, Pak!" sahut Reno sekenanya. Dia duduk asal sambil menggigit tusuk gigi yang sengaja dibawanya dari kantin tadi.
"Dasar berandal," umpat pak Tomo pelan. Reno sebenarnya mendengar ucapan pak Tomo, tapi jika dia membalas umpatan itu tidak menutup kemungkinan hukumannya akan bertambah jadi double.
Guru BK yang kerap disapa pak Tomo itu kemudian mengambil sebuah buku super besar dari dalam lemari kabinet. Dia menggelengkan kepala saat nama Reno mendominasi kata di dalam buku tersebut.
Sekilas, ia menatap Gaby yang lebih memilih berdiri daripada harus duduk berdampingan dengan Reno.
"Kamu ga berniat memberikan kursi kamu sama temen berantemmu ini? Dia perempuan lho." Pak Tomo nampak mulai mencatat nama Reno di buku besar itu.
"Buat apa? Tuh, kursi disebelah saya masih kosong. Suruh aja dia duduk disitu kalo ga mau berdiri," ujar Reno sambil menendang kursi disebelahnya sedikit lebih menjauh.
Bener-bener lho dia.
Gaby tentu saja buang muka. Ia lebih memilih kakinya pegal-pegal daripada harus duduk berdekatan dengan lelaki tidak tahu sopan santun seperti Reno.
"Nama kamu siapa?" tanya pak Tomo pada Gaby.
"Gaby, Pak" pak Tomo mendorong frame kacamatanya ke atas hidung agar dapat melihat wajah Gaby dengan seksama.
"Sepertinya kamu baru kali ini masuk ruangan saya, betul?" Gaby mengangguk sedangkan Reno menyeringai.
"Tolong usahakan, ini adalah kali pertama dan terakhir kamu masuk kesini, ya."
"Maafkan saya pak," jawab Gaby menyesal.
"Jangan seperti dia," ujar pak Tomo menatap Reno. "Hampir setiap hari saya menulis namanya di blackbook ini. Hampir setiap hari juga saya menghukumnya tapi tetap tak bisa membuat dia jera."
Gaby mengulum senyum sedang Reno mulai sewot.
"Ayolah pak. Apa gunanya sih anda kasih tau dia? Kami disini sama. Sama-sama menunggu hukuman dari anda," ujar Reno gengsi. Apalagi saat melihat Gaby menertawakannya. Reputasi yang ia bangun dengan menjadi kapten tim basket hancur seketika.
"Tentu saja kalian berbeda. Dia anak baik-baik yang terseret kesini sedangkan kamu kebalikannya. Bahkan saya dengar Gaby ini adalah salah satu kandidat peserta lomba matematika seprovinsi, apa benar?"
__ADS_1
Gaby mengangguk sambil tersenyum. Mengingat betapa sulitnya dia untuk dapat mewakili sekolah agar bisa ikut lomba itu. Dia harus rela hanya tidur beberapa jam agar punya lebih banyak waktu untuk belajar
Pak Tomo kembali menghela nafas panjang.
"Apa case-mu kali ini? Merusak kantin sekolah dan bertengkar dengan perempuan. Hmm... Ga gentle sekali kamu," komentarnya lagi membuat api kemarahan Reno sedikit tersulut.
"Kalo gitu gimana kalo bapak yang bertengkar dengan saya biar saya keliatan lebih gentle. kita sama-sama lelaki kan?" tantang Reno membuat bibir Gaby gatal ingin mencibirnya.
"Emang basicnya lo ga tau malu ya, masa ngajakin bokap sendiri buat berantem?" ujar Gaby geleng-geleng kepala membuat pak Tomo tersenyum.
Reno menaikkan sebelah alisnya.
"Pak Tomo itu kan guru lo meskipun cuma guru BK. Dan guru itu ibarat orangtua kita disekolah. Jadi bisa dibilang pak Tomo itu sama aja kayak bokap lo kalo dirumah. Masa iya sih lo mau pukulin bokap lo sendiri? Mau jadi anak durhaka?"
"Kalo gitu lo yang gantiin dia, mau?"
Reno sudah berniat bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Gaby.
"Sudah-sudah. Saya disini untuk memberikan pelajaran kedisiplinan untuk kalian. Bukannya mau mendengarkan pertengkaran kalian lagi," lerai pak Tomo tak ingin sakit kepalanya kumat.
"Aduh" ringis pak Tomo sambil memegang pinggang belakang. Gaby reflek membantu pak Tomo duduk kembali sedangkan Reno malah memilih bersandar di kursi dan pura-pura tidur.
"Bapak kenapa, Pak? Mau saya bawa ke klinik?" tanya Gaby khawatir. Pak Tomo menggeleng, dia menatap tugasnya yang masih menumpuk diatas meja. Ditambah tugas baru yang dibuat oleh Reno dan Gaby.
"Tidak usah. Saya sudah biasa kok seperti ini. Kalau nanti dibawa duduk lagi pasti akan sembuh dengan sendirinya," terang pak Tomo kemudian menggiring Gaby dan Reno ke ruang perpustakaan.
Reno terbatuk-batuk saat memasuki ruang perpustakaan yang sangat jarang didatangi siswa seperti dirinya. Bahkan mungkin selama sekolah, baru kali ini dia masuk ke perpustakaan. Itupun jika tidak karena mendapat hukuman mungkin hingga lulus sekolah nanti Reno tidak pernah tahu letak ruang perpustakaan itu ada dimana.
"Pelajaran disiplin kalian kali ini adalah membersihkan perpustakaan."
"Apa! Bersihin ruangan segede gini?" suara Reno terdengar menggema.
Penyakit anak orang kaya ya begini, alergi dengan kata bersih-bersih sendiri.
"Kenapa? Kamu mau saya ganti hukuman kamu jadi berdiri di atas tower sekolah sampai jam pelajaran usai?" tawar pak Tomo membuat Reno ketakutan. Sejak kecil, Reno memang phobia dengan ketinggian.
__ADS_1
Pak Tomo tersenyum menang. Dia kemudian menjelaskan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh Gaby dan Reno selama pendisiplinan.
"Sebanyak itu?" protes Reno lagi. Kali ini pak Tomo menghela nafas panjang.
"Dan akan saya tambah lagi kalau kamu masih protes," ancam pak Tomo
Akhirnya mau tak mau, suka tak suka. Reno menjalani hukumannya. Sedangkan Gaby yang memang terbiasa dengan perpustakaan tentu saja senang saat dihukum seperti ini. Selain dia mempunyai waktu lebih untuk membaca buku, hukuman ini setidaknya aman. Karena dia tak perlu melihat wajah Leona yang anti perpus seperti Reno.
Pak Tomo meninggalkan Gaby dan Reno berdua di perpus. Sedangkan ia sendiri kembali keruangannya untuk melanjutkan tugas-tugasnya. Pak Tomo berharap, dia dapat menyelesaikan tugasnya secepat mungkin agar dapat segera pulang dan beristirahat.
"Hey, mau kemana lo?" tanya Gaby saat melihat Reno putar balik ke arah pintu setelah menyadari pak Tomo tak mengawasinya.
"Pergilah. Apalagi?"
"Tapi kan lo belom ngerjain apa-apa," Gaby segera menghampiri Reno karena tak mau menanggung beban tugas bersih-bersih sendiri. Rencananya membaca buku sambil beres-beres pudar seketika.
"Lo beres-beres aja sendiri. Kan lo yang mulai gara-gara."
"Harus berapa kali sih gue bilang kalo bukan gue yang lempar."
Reno menepis tangannya diudara. Tak mau mendengar penjelasan Gaby lagi. Dia kemudian melanjutkan rencananya kabur dari hukuman.
Handle pintu ia gerakkan. Sulit dibuka!
"Oh God! Pintu ini dikunci," teriaknya marah. Gaby yang tadinya panik sekarang malah senyum-senyum sendiri. Dia kembali ke tempatnya tadi sambil bersenandung.
Braaakk.. Braaakk..
Reno menerjang pintu seperti seorang pahlawan yang hendak menyelamatkan korbannya yang disekap didalam kamar.
Braaakkk.. Braakk..
"Tendang aja terus pintunya. Sampe kaki lo copot pun pintu itu ga akan pernah terbuka," teriak Gaby tak dihiraukan Reno. Ia masih terus menerjang pintu seperti orang kesurupan.
"Pintu itu udah didesain khusus. Cuma orang yang punya kunci aja yang bisa buka."
__ADS_1
Reno akhirnya berhenti. Entah karena lelah atau mendengarkan ucapan Gaby. Dia kini duduk bersandar di dinding sambil memegangi kepalanya seperti orang frustasi.