Get Back Love

Get Back Love
Tantangan Main Catur


__ADS_3

"Sudah sampai, Den."


Willy berdehem tiga kali sebelum akhirnya menjawab ucapan pak Mus.


"Terima kasih, Pak."


Willy kembali diam karena canggung dengan suasana di dalam mobil. Begitu pun dengan Gaby yang nampak sedang menggigiti bibir bawahnya karena bingung harus melakukan apa.


"Kita..." Willy melirik Gaby malu-malu. "Turun sekarang ya," ajak Willy lembut sambil menggaruk kening sebelah kanan dengan tangan kirinya. Matanya bergerak kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu.


Gaby mengangguk. Willy yang matanya tak henti mengerjap akhirnya memutuskan membuka pintu mobil tanpa menunggu pak Mus membukakannya. Pak Mus senyum-senyum sendiri melihat kelakuan Willy.


Sebelum memutuskan turun, Gaby terlebih dahulu memandang sebuah bangunan megah berlantai 3 yang akan ia kunjungi lewat kaca mobil.


Bangunan yang juga memiliki 3 buah jendela kaca super besar itu memamerkan beberapa gaun indah yang begitu menarik mata. Gaby tersenyum, membayangkan jika seandainya salah satu dari gaun indah itu bisa melekat di tubuhnya. Ia pasti akan terlihat sangat cantik sekali bak seorang putri.


"Non..." panggil pak Mus membuyarkan lamunan Gaby. "Den Willy sudah masuk ke dalam," ujarnya membuat Gaby melongo.


Bisa-bisanya dia ninggalin gue sendiri setelah apa yang dilakukannya tadi. Willy emang ga pernah berubah! Selalu menyebalkan.


Gaby menghentak-hentakkan kakinya di mobil membuat pak Mus keheranan.


"Ada apa, Non?"


"Ga ada apa-apa," sahut Gaby jaga image. "Saya masuk dulu ya, Pak." Gaby membuka pintu mobil kemudian berjalan masuk kedalam bagunan yang dilihatnya tadi.


Saat hendak masuk, Gaby dihadang oleh seorang petugas yang mengenakan seragam keamanan. Dia nampak menatap penampilan Gaby dari atas kepala hingga ujung sepatu.


"Ada perlu apa ya, Dik.?" Lelaki itu bertanya dengan sangat sopan sambil tersenyum lebar. Mungkin karena Gaby tengah mengenakan pakaian olahraga jadi lelaki itu tahu jika dirinya masih anak sekolah.


"Saya sudah ditunggu di dalam oleh teman saya, Pak." Gaby memandang Willy dari pintu kaca. Dia nampak tengah berbincang dengan seorang wanita cantik di dalam sana. Wanita yang mengenakan dress motif bunga-bunga dengan rambut lurus sebahu berwarna kecoklatan. Wajahnya putih bersih terawat dengan berbagai macam aksesoris mahal menempel ditubuhnya yang indah.


Satu kata yang langsung terlintas dipikiran Gaby tentang wanita itu. Cantik!


Jangan-jangan dia lagi cewek yang namanya Chelsea.


Gaby menelan ludah. Tak ingin membandingkan dirinya sendiri dengan wanita cantik di dalam sana. Ia takut nanti sakit hati, karena sudah pasti ia kalah telak.


Sang petugas keamanan nampak kebingungan. Telunjuknya terbang ke arah wanita cantik di dalam kemudian berganti ke arah Gaby. Berkali-kali. Dia mungkin bingung, teman mana yang sedang Gaby maksud.

__ADS_1


"Dik, jangan bohongi saya ya. Kalau Adik mau main-main di tempat ini, saya sarankan lebih baik Adik pulang saja ke rumah," ujarnya tak lagi ramah. Senyuman yang tadi ia tunjukkan lenyap seketika terbawa bersama debu jalanan.


"Siapa yang mau main-main sih, Pak! Saya tadi datang kesini sama laki-laki yang pakai kemeja abu-abu itu." Telunjuk Gaby ia arahkan kepada Willy yang kini nampak tengah tertawa dengan wanita cantik tadi.


"Mas Willy maksudnya?" Gaby mengangguk cepat. "Ga mungkin kamu temannya mas Willy. Usia kalian saja terpaut cukup jauh. Kamu mau mempermainkan saya ya?" tanyanya tak percaya. Gaby menghela nafas panjang. Lelah karena terus-terusan diminta untuk menjelaskan. Tapi yang meminta penjelasan masih tetap tak mengerti juga.


"Lebih baik sekarang Bapak panggil aja dia kesini. Saya bener-bener capek nih, Pak. Pengen buru-buru pulang buat istirahat," ujar Gaby curhat.


"Ga bisa! Saya ga bisa sembarangan memanggil tamu." Petugas keamanan itu menggelengkan kepala menolak permintaan Gaby. "Kalau kamu memang benar-benar capek, kenapa kamu malah datang kesini bukannya langsung pulang saja ke rumah?" tanyanya lagi membuat Gaby menepuk jidat.


"Ya gimana saya mau pulang? Saya kan diajakin kesini," ujar Gaby.


"Diajakin siapa?"


"Willy!" teriak Gaby yang batas kesabarannya mulai menipis.


"Memang kamu siapanya Mas Willy?"


"Bapak itu polisi atau petugas keamanan sih? Kok pertanyaannya bikin saya emosi terus ya?" keluh Gaby kesal. Dia kemudian duduk di kursi milik petugas keamanan yang sejak tadi menginterogasinya. Dia melipat kedua tangannya di dada sambil menopangkan sebelah kakinya.


"Bapak lihat ga saya tadi keluar dari mobil putih itu sama Willy?" Gaby melayangkan telunjuknya ke arah parkiran dengan pandangan tetap lurus menatap lelaki itu.


Lho, kemana pak Mus? Bukannya dia seharusnya nungguin Willy sampai selesai ya?


"Tadi beneran ada kok, Pak. Swear!" Gaby menunjukkan simbol dua jari.


"Kamu bisa main catur?" tanya petugas keamanan itu setelah menghela nafas panjang. Gaby mengernyitkan keningnya.


Petugas keamanan itu kemudian mengambil sebuah papan catur kemudian menyimpannya disebuah kursi panjang yang biasa ia pakai tidur jika istrinya tak membukakan pintu saat sedang merajuk gara-gara tak diberi uang belanja tambahan untuk membeli peralatan make up.


Lelaki itu kemudian duduk lalu melambaikan tangannya mengajak Gaby untuk bergabung. Dia menyusun bidak catur sesuai tempatnya. "Lebih baik kita main catur saja sekarang daripada kamu ngeyel ngaku-ngaku kalau Mas Willy itu teman kamu."


Emang bener sih, Willy kan bukan temen gue. Gue malah benci banget sama dia. Terus hubungan gue sama dia apa dong namanya kalau gitu? Benci tapi bareng-bareng terus.


"Kok malah bengong? Ayo," ajaknya tak sabar. Gaby kemudian bangkit dari tempat duduknya kemudian duduk berhadapan dengan petugas keamanan tersebut.


"Kalau saya yang menang, kamu segera pulang ke rumah. Tapi kalau saya yang kalah, saya akan mengijinkan kamu masuk ke dalam. Bagaimana?"


"Deal." Gaby tersenyum senang. Dia paling semangat jika mendapat tantangan seperti ini. Dalam hati Gaby bertekad agar dapat memenangkan pertaruhan ini.

__ADS_1


Permainan catur dimulai. Petugas keamanan itu sudah berhasil memakan beberapa prajurit milik Gaby dalam hitungan menit. Dia yang merasa diatas angin kemudian mengejek Gaby.


"Menurut ramalan saya, sebentar lagi pasti kamu akan pulang. Lihat, belum ada 5 menit saya sudah memakan hampir setengah dari prajurit kamu. Kalau seperti ini terus cara permainan kamu, bisa-bisa raja dan ratunya juga akan bernasib sama dengan prajuritnya," ujarnya jumawa.


"Oh ya?" Gaby mengangkat kedua alisnya mendengar kesombongan lelaki di hadapannya.


Suara klakson tiba-tiba berbunyi. Seorang lelaki berkemeja biru langit turun dari dalam mobilnya. Wajahnya yang begitu friendly langsung tersenyum saat melihat Gaby dan petugas keamanan itu melirik ke arahnya.


"Selamat sore, Pak Abbas." Lelaki itu lantas melonggarkan ikatan dasi yang melilit lehernya kemudian menariknya hingga terlepas.


"Sore juga Mas Ferdi, silahkan masuk. Anda sudah ditunggu sejak tadi," ungkap pak Abbas ramah sekali. Lelaki itu mengangguk kemudian melemparkan pandangannya pada Gaby. "Anaknya Pak Abbas ya?"


"Huh?" Gaby membelalakkan matanya. Lelaki itu malah tersenyum lebar kemudian kembali melirik pak Abbas.


"Jagain anaknya, Pak. Gede sedikit bakal jadi rebutan cowok-cowok playboy kayak saya," ujarnya terkekeh sebelum masuk ke dalam.


"Apa sih maksud dia?"


"Sudah, ga usah kamu pikirkan ucapan Mas Ferdi barusan. Dia itu senang bercanda. Lebih baik sekarang kita lanjutkan main caturnya. Saya sudah ga sabar menyuruh kamu pulang," ujar pak Abbas kembali duduk.


"Bapak yakin bisa suruh saya pulang? Kalau saya jalanin bidak caturnya seperti ini bagaimana?" Lelaki itu melongo saat melihat Gaby membalas dendam dengan mengambil salah satu bidak caturnya yang sangat penting. Ratu!


"Astaga, kenapa saya bisa seceroboh itu membiarkan ratu tanpa perlindungan," keluhnya menyesal. Dia mengacak-acak rambutnya seperti orang frustasi.


"Kalau saya ambil langkah ini, permainan selesai." Tunjuk Gaby tersenyum miring. Lelaki itu menghela nafas panjang, menyadari kekalahannya yang sudah di depan mata.


Seseorang berdehem di pintu masuk. Pak Abbas yang wajahnya sudah lesu kaget dan langsung bangkit kemudian menghampiri sumber suara.


"Mas Willy,"


"Gaby! Jadi lo biarin gue nunggu di dalem sampai mati kebosanan cuma demi main catur sama dia?" Tanya Willy marah sambil menunjuk pak Abbas tepat di depan wajahnya.


"Jadi Mas Willy kenal sama dia?" tanya pak Abbas gelagapan. Dia menatap Gaby yang tersenyum melihat ekspresi wajahnya.


"Dia itu pacar saya!"


"Pa... Pacar?" ujarnya gugup. Tangannya nampak gemetar dengan tetesan keringat menyelinap keluar dari pori-porinya. Gaby melihat ekspresi wajah pak Abbas seolah-olah sedang berkata.


MATILAH SAYA!

__ADS_1


__ADS_2