Get Back Love

Get Back Love
Chelsea


__ADS_3

Setelah puas memarahi pak Abbas, Willy mengajak Gaby masuk ke dalam bersamanya. Dua orang wanita cantik berseragam menyambut kedatangan mereka. Willy melewati mereka begitu saja dengan wajah datarnya. Sedangkan Gaby hanya tersenyum tipis membalas sapaan mereka. Dia lebih tertarik menikmati setiap sudut ruangan serta arsitektur bangunan tersebut yang menurutnya sangatlah indah.


"Berapa ya kira-kira biaya yang harus dikeluarkan oleh orang yang membangun tempat indah ini?" bisik Gaby bicara pada diri sendiri. "Pasti orang itu menghabiskan dana sampai milyaran hingga triliunan rupiah."


Willy yang sejak tadi diam saja nampak mendengarkan ucapan Gaby. Dia kemudian menjawab, "Gue rasa ga akan sebanyak itu. Kenapa? Lo mau bangun tempat yang kayak gini juga?" tanya Willy membuat Gaby minder. Uang darimana dia sampai bisa membangun tempat sebagus ini. Dari Willy? No way!


"Engga! Gue cuma penasaran aja." sahut Gaby kini mulai mempercepat langkahnya agar dapat menyamai Willy.


Willy tersenyum miring. Gaby yang melihatnya segera menghentikan langkah kemudian bergaya seolah-olah hendak menonjok Willy dari belakang.


Willy berbalik lalu berkata, "Ayo! Ngapain lo diem disitu aja? Lo mau bikin gue nungguin lo lagi?" bentaknya galak. Willy kembali berjalan


Sesampainya di ruang inti, Willy dan Gaby segera bergabung dengan lelaki yang bernama Ferdi tadi. Juga dengan wanita cantik yang sejak tadi mengajak Willy berbincang. Mereka berdua tersenyum lebar melihat kedatangan Willy dan Gaby.


"Buat apa lo bawa anaknya pak Abbas ke sini? Kalian berdua udah saling kenal emangnya?" tanya Ferdi yang langsung bergerak mendekat ke arah Gaby. Jiwa playboy yang ia miliki saat melihat seorang wanita nampak langsung muncul dengan sendirinya tanpa perlu menunggu komando. Willy langsung pasang badan. Dia menghalangi Ferdi agar tidak dekat-dekat dengan Gaby.


"Dia bukan anaknya security itu. Kenalin dia..." Willy menggantung ucapannya saat melihat Gaby dan Ferdi sudah saling bersalaman disampingnya. Wanita cantik tadi tertawa. Dia seperti terhibur dengan tingkah Gaby serta Ferdi.


"Hai, kenalin. Nama gue Ferdian Arkahadi Kusuma. Lo bisa panggil gue Ferdi, Ferdian, Arka, atau Hadi. Tapi jangan panggil gue Kusuma ya, karena nama itu udah di hak paten kan sama kakek gue," ujarnya sambil mengedipkan mata. Tangannya terulur yang tentu saja langsung disambut oleh Gaby.


Sejenak Gaby tertawa kemudian bergantian memperkenalkan dirinya, "Marissa Gabriela. Panggil aja Gaby," ujar Gaby sambil mengulum senyum.


Sejak pertama kali melihat Ferdi tadi, entah mengapa Gaby merasa bahagia. Wajah friendly serta sosoknya yang humoris nampak begitu sangat menyenangkan, berbanding terbalik dengan Willy yang sifatnya egois serta menyebalkan.


"Ada nomor telepon yang bisa dihubungi atau alamat yang bisa dikunjungi?" Ferdi segera mengeluarkan handphone dari saku celananya.


"Astaga, Ferdian!" teriak Willy sambil melotot ke arah Ferdi. Dia melempar bola matanya mengisyaratkan agar Ferdi duduk kembali di tempatnya.


Ferdi tertawa. Dia lantas menarik tangannya kemudian kembali duduk di samping wanita cantik yang kini malah berdiri kemudian bergerak mendekati Gaby. Willy menatap wanita itu sambil mengangkat kedua tangannya setinggi bahu. Meminta tindakan.


Gaby menatap wanits cantik yang tengah mendekatinya.


Wajah yang cantik, keluarga yang berada, baik hati pula. Mereka pasti akan jadi pasangan yang serasi kalau bersama-sama. Ayolah Chelsea, tolong jadikan Willy sebagai kekasihmu sekarang juga!

__ADS_1


"Hai, kamu pasti pacarnya Willy," tebaknya sambil tersenyum. Gaby terperangah mendengar ucapan pertama yang keluar dari mulut wanita tersebut.


"Aku Agatha Prameshwary. Kamu boleh panggil aku Agatha, atau Tata" ujar wanita itu tak kalah ramah.


"Aku Gaby. Senang bisa bertemu dengan Kak Agatha." Gaby tersenyum. Dia kembali memandang Agatha dalam-dalam.


Jadi dia bukan Chelsea? Terus dimana Chelsea sekarang?


Gaby mengedarkan pandangannya. Dicarinya seorang wanita cantik yang dia prediksi sebagai Chelsea. Tapi sayangnya, tidak ada satu pun pengunjung lain selain mereka berempat disana.


Apa orang yang namanya Chelsea itu pemilik gedung ini ya? Tapi dimana dia sekarang?


"Ayo duduk," ujar Agatha manis. Gaby langsung duduk disebuah sofa berwarna putih gading tepat di depan Ferdi, disusul Willy yang memilih duduk berdampingan dengan Gaby. Sedangkan Agatha tentu saja kembali ke tempat duduknya semula. Disamping Ferdi.


"Ternyata sekarang lo doyannya sama daun muda ya, Will?" tanya Ferdi melirik Agatha. Mereka berdua sama-sama tersenyum. Ferdi meraih tangan Agatha kemudian menggenggamnya dengan erat. Gaby memandang mereka.


Mereka berdua pacaran?


"Hemm, Gab. Kamu sekolah dimana?" tanya Agatha cepat mengalihkan pembicaraan. Willy memalingkan wajahnya dengan wajah masam. Sedang Ferdi kembali memasang senyum model pasta gigi andalannya.


"Di SMA Global International, Kak."


"Oh ya? Apa kamu kenal sama Riza?"


"Riza? Iya, Kak. Kami satu organisasi di sekolah."


"Waw. Riza itu adikku, Gab."


"Oh ya?" Gaby tersenyum sumringah. Senang karena Agatha punya topik pembicaraan lain selain membicarakan hubungannya dengan Willy yang aneh.


"Bagaimana dia di sekolah?" tanya Agatha antusias.


"Dia menjabat sebagai ketua OSIS di sekolah, Kak. Fansnya juga banyak lho, salah satunya sahabat aku," ungkap Gaby semangat membuat Willy mendelik kesal.

__ADS_1


"Really? Kebetulan yang sangat menyenangkan sekali. Aku ga nyangka kalau bumi sesempit ini." Agatha tertawa disusul Ferdi yang kini malah menatap Willy.


"Riza masih jomblo kan, Kak?" tanya Gaby lagi membuat mata Willy melotot.


"Dia masih jomblo kok. Kenapa?" Agatha melirik Willy yang kesulitan menelan ludah. Agatha tahu, Willy pasti tak suka jika mendengar seseorang yang disukainya membicarakan orang lain di depannya. Dia type lelaki pencemburu.


Willy seperti kebakaran jenggot mendengar obrolan antara Gaby dan Agatha. Dia melonggarkan ikatan dasinya dengan kasar sambil mengeraskan rahangnya.


"Chelsea mana sih? Dia mau bikin gue nunggu berapa lama lagi cuma demi sebuah gaun?" gerutunya kesal. Willy kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu nampak mencoba menghubungi seseorang.


Tak lama kemudian tiba-tiba muncul seorang lelaki tampan yang berjalan menghampiri mereka. Lelaki berwajah macho dengan kumis dan jenggot tipis tersenyum kepada semuanya. Lengan dan sisi wajah bagian kiri nampak dihiasi lukisan tatto yang pasti memiliki makna tersendiri saat pembuatannya.


Gaby yang melihat lelaki itu nampak terpukau dengan ketampanannya. Wajahnya putih bersih tak ada noda sedikitpun. Wajah Gaby saja kalah mulus jika dibandingkan dengannya.


Willy mendelik ke arah Gaby. Lalu menghela nafas panjang.


"Ya Tuhan. Sorry ya guys, sudah buat kalian lama menunggu. Gue tadi lagi sibuk urusin tuh security kurang ajar yang udah bikin..." ujarnya menggantung kemudian bergelayut manja di lengan Willy. "Tamu VVIP gue ini menunggu lama." Gaby terperangah. Suara lelaki itu begitu mendayu dan manja. Belum lagi gerakan tangannya yang begitu gemulai mirip sekali dengan, Wanita!


Dia siapa? Jangan bilang ini yang namanya Chelsea.


"Lo udah pecat dia kan?" tanya Willy yang dibalas anggukan cepat olehnya. Gaby langsung menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya.


Pecat? Jangan-jangan security yang mereka bicarakan itu pak Abbas lagi.


Lelaki itu melirik Gaby kemudian berkata, "Hey, jadi ini si gadis muda beruntung yang berhasil memikat hati pangeran dari keluarga Atmaja?" tanyanya kini beralih mendekati Gaby. Di lihatnya Gaby dari atas sampai ke bawah seperti seorang juri yang tengah menilai hasil karya para peserta lombanya.


Siapa bilang kalo gue beruntung? Yang ada gue malah rugi!


Dia mengangguk lalu berkata, "Cantik! Benar-benar cantik. Cuma perlu sedikit polesan aja disini." Tunjuknya di wajah Gaby. "Disini." Tunjuknya lagi di rambut Gaby. "Dan disini." tunjukan terakhir ia tujukan pada pakaian setengah kotor yang tengah Gaby kenakan. Wajahnya nampak berubah menjadi aneh melihat gaya penampilan Gaby. "Dan semua pasti akan nampak sempurna!" pekiknya sambil berputar. "You, memang pintar memilih pasangan," ujarnya sambil mencolek dagu Willy.


"Jangan sentuh gue, Chel" tolak Willy tak suka. Apalagi saat itu Gaby tengah memandangnya tanpa kedip. Sedangkan Ferdi dan Agatha nampak saling merangkul sambil terus tersenyum layaknya pasangan yang sangat bahagia.


Serius? Jadi beneran dia yang bernama Chelsea? Harapan, enyahlah kau sekarang juga!

__ADS_1


__ADS_2