Get Back Love

Get Back Love
Tom and Jerry


__ADS_3

Ruang OSIS pagi itu sudah dipenuhi para pengurus yang tengah sibuk menyiapkan acara bazaar amal di area depan sekolah. Mereka semua mendapatkan kompensasi untuk tidak masuk kelas selama persiapan bazaar dilakukan.


Gaby yang merupakan salah satu anggota OSIS menikmati moment langka itu. Mendapat kesempatan untuk membantu sesama yang membutuhkan sekaligus mengistirahatkan otaknya dari segala macam pelajaran yang lumayan menguras pikiran membuat Gaby bahagia. Sedangkan Mika mau tak mau harus terima nasib ikut ujian pak Jeremy yang terkenal killer karena bukan merupakan anggota OSIS.


"Please, Gab. Culik gue ke ruang OSIS selama pelajarannya pak Jeremy dong. Ya... ya... yaa..." pinta Mika memelas. Kedua telapak tangannya ia tempelkan dengan wajah pura-pura sedih hampir menangis.


Pelajaran matematika memang paling tidak Mika sukai. Selain karena mengharuskannya untuk menghitung sesuatu yang menurutnya tidak konkret, Mika juga tidak suka melihat bukunya dipenuhi oleh angka-angka. Dia lebih senang jika bukunya dipenuhi gambar-gambar indah yang memanjakan mata.


"Ga bisa, Mik. Lo kan bukan anggota OSIS," tolak Gaby membuat Mika kini mulai merengek.


"Ayolah, lo kan sahabat gue. Masa lo seneng sih ngeliat gue kesusahan?"


Gaby memandang Mika. Iba? Tentu saja. Tapi mau bagaimana lagi. Ia tak berani ambil resiko.


"Ya eng-gak lah," sahut Gaby terpaksa.


"Makanya, bantuin gue. Please," desak Mika membuat Gaby bingung.


"Tetep ga bisa, Mik. Nanti kalo pak Jeremy nanya alasan gue bawa lo ke ruang OSIS gimana? Gue mesti jawab apa?" Gaby menatap Mika lekat-lekat. Wajah Mika langsung berubah terang saat Gaby menanyakan pertanyaan yang sudah di tunggu-tunggu olehnya.


"Bilang aja, kalo pengurus OSIS kekurangan relawan buat bantuin bazaar. Pak Jeremy kan jiwa kemanusiaannya tinggi banget tuh, dia pasti ijinin lo ngajak gue ke ruang OSIS," Mika mengedip cepat.


Gaby berpikir sejenak. "Tetep ga bisa, Mik. Hari ini lo ujian kan? Kalo lo hindarin ujian hari ini nilai raport lo bakal jadi taruhannya nanti,"


Kembali, Mika memberikan seribu alasan. Dia mengibaskan tangannya menganggap enteng.


"Itu bisa diatur. Lagian ini kan cuma ujian percobaan aja. Ujian sebenernya kan masih bulan depan. Paling nanti gue bakal disuruh remedial sama pak Jeremy buat nebus nilai ujian yang gue tinggalin hari ini. Lagian gue lagi banyak pikiran banget nih hari ini, otak gue pasti gak bakalan konsentrasi jawab soal ujian pak Jeremy," ujar Mika menghela nafas.


"Lo ada masalah?" Tanya Gaby cepat. Mika mengangguk pelan.


"Mereka ribut lagi?" tanya Gaby coba menerka-nerka. Mika mengangguk lagi.


"Yaudah, tapi kali ini aja ya," ujar Gaby akhirnya luluh juga. Mika bersorak dalam hati.


"Oke, cuma kali ini aja. Dan gue janji bakal bantuin lo apapun."

__ADS_1


Gaby memicingkan mata. Dia nampak tertarik dengan penawaran yang Mika ajukan.


"Apapun?" ulang Gaby memastikan. Mika mengangguk cepat sambil tersenyum senang.


Tapi beberapa detik kemudian senyumnya lenyap. Dia nampak berubah pikiran.


"Gue ralat. Ga jadi apapun," ujar Mika cepat. Gaby menggeleng.


"Ga bisa! Janji adalah janji. Lo tadi udah janji mau bantuin gue apapun. A-PA-PUN," eja Gaby penuh penekanan.


"Yaudah iya. Apapun deh apapun. Jadi lo mau gue bantuin apa?" tanya Mika malas. Dia sepertinya tahu bantuan apa yang diinginkan sahabatnya.


"Gue belom butuh bantuan lo sekarang. Mungkin nanti." ujar Gaby sambil tersenyum.


"Perasaan gue kok jadi ga enak gini ya?" bisik Mika pada diri sendiri.


"Kenapa Mik?"


"Engga. Ini mulut gue masih ada sisa makanan yang nyelip di gigi kayaknya. Jadi ga enak," ujar Mika sambil menggerakkan bibirnya.


"Iihh.." Gaby berteriak. Tiba-tiba Reno muncul dengan senyuman berlesung pipi andalannya.


"Fantastic! Lo panggil nama sahabat gue dengan bener? Ya Tuhan, jangan-jangan tadi pagi matahari muncul dari arah timur lagi," ujar Mika menatap langit dengan wajah shock yang tidak dibuat-buat hingga membuat Reno tertawa.


"Gue udah berdamai sama dia, dan gue ga akan pernah lagi panggil dia dengan sebutan cupu selamanya," ujar Reno membuat Gaby tersenyum.


"Kalo lo udah berdamai sama dia, harusnya lo berdamai sama gue juga dong. Gue kan sahabatnya. Jadi mulai sekarang, lo ga boleh lagi panggil gue gendut. Lo harus panggil gue Mika. M-i mi, K-a ka. Mika!" ejanya seperti seorang guru les bimba anak TK.


"Ga mau. Gue kan ga punya urusan sama lo. Jadi gue bakal tetep panggil nama lo dengan sebutan gendut. G-e ge, n d-u du t. Gendut," ujar Reno membuat Mika marah.


"Berani-berani nya lo ya panggil gue gendut terus. Belom pernah ngerasain diseruduk kulkas 2 pintu apa lo," ujar Mika bangkit dari tempat duduknya, Reno sontak bangun dan berlari mengitari kursi yang mereka bertiga duduki tentu sambil dikejar oleh Mika.


"Ish, kalian itu berantem terus deh. Kalo nanti kalian jodoh gimana?" ujar Gaby mencoba menghentikan. Tapi bukannya berhenti, mereka berdua malah semakin sengit beradu mulut.


"Ga mungkin jodoh gue gajah lampung kayak dia. Bisa hancur keturunan gue,"

__ADS_1


"Heh! Emangnya lo kira gue mau apa nikah sama cowok biang rusuh macem lo. Bisa bolak balik masuk ruang BP anak gue kayak bapaknya," teriak Mika sambil menunjuk Reno yang cengengesan.


Mereka masih terus berlarian sambil berputar seperti adegan dalam film-film India.


"Yang penting gue ganteng. Yang mau antre jadi calon mantan pacar gue aja masih banyak,"


"Alah... Tuh... Cewek... Udah... Hilang... Akal... Aja... Makanya... Mau sama... Lo " teriak Mika di sela-sela nafasnya yang mulai tersengal. Dia lantas duduk disamping Gaby dengan dada naik turun. Wajahnya merah seperti tomat dengan keringat bercucuran dari segala arah.


Sedangkan Gaby dengan sigap memberikan botol minum yang memang biasa Mika bawa kemana-mana. Mika nampak kehausan, bunyi tegukan berkali-kali menjadi buktinya. Air yang tadinya masih utuh kini nyaris habis.


"Udah sih, Mik. Pagi-pagi gini kok lo mau-mauan sih diajakin olahraga lari sama Reno," Reno kembali duduk disamping Gaby.


"Biarin aja. Supaya kurus tuh badan sohib lo. Kebanyakan nimbun lemak. Tar gede dikit punya penyakit kolestrol nih anak," ramal Reno yang langsung mendapat tepukan keras dari Gaby di bahunya. Tentu sambil melotot pula agar lebih cepat permintaan maaf diajukan.


"Sorry. Sorry" ujar Reno melirik Mika. Tapi gadis itu masih sibuk mengatur nafasnya.


"Gab," panggil Riza yang menggerakkan kepalanya memberi kode agar Gaby segera bergabung dengan pengurus OSIS yang lain.


"Oke," sahut Gaby menahan sakit karena tangannya digenggam Mika dengan erat. Riza kemudian tersenyum lalu menganggukkan kepalanya setelah itu pergi meninggalkan mereka bertiga.


Mika melepaskan tangan Gaby.


"Aw.." teriak Gaby kesakitan.


"Sorry Gab, gue pegang tangan lo nya kekencengan ya?" tanya Mika polos


"Bukan lagi. Tuh liat, lo hampir nyakar tangan gue," Gaby menyodorkan tangannya. Ada bekas tanda merah disana.


"Lagian kenapa sih lo pake pegang tangan gue kenceng banget kayak gitu?" tanya Gaby sedikit kesal. Dia meniup tanda merah itu berharap segera hilang rasa sakit dan tandanya.


"Tadi tuh Riza senyum ke gue, ya ampun.. baru kali ini kan dia senyum semanis itu," ujar Mika kagum. Dia bahkan tersenyum sambil memejamkan matanya.


Perasaan biasa aja deh.


"Awas, lo jangan ngekhayal macem-macem. Dosa!" ujar Gaby mengingatkan. Gaby kemudian bangkit hendak ke ruang OSIS.

__ADS_1


"Ga apa-apa kali kalo sedikit," ujar Mika ngeyel. Melihat Gaby pergi meninggalkannya, Mika segera menyusul sambil berteriak memastikan nasibnya. "Gab, jangan lupa pak Jeremy."


"Mika suka Riza? Hmm..." Reno mengendikkan bahu.


__ADS_2