
Keesokan harinya Willy datang sesuai janji. Merry dengan gembira menyambut kedatangan Willy berbanding terbalik dengan Gaby yang menyambutnya dengan malas-malasan. Ia bahkan sama sekali tak mau menyapa Willy saat pemuda itu berpapasan dengannya di halaman depan.
"Willy jalan dulu ya, Tante," pamit Willy yang dibalas anggukan oleh Merry.
"Kamu ga mau sarapan dulu, Wil?" tanya Merry basa-basi. Willy tersenyum sambil melirik Gaby yang sudah masuk kedalam mobil. Merry memanjangkan lehernya menatap Gaby yang kini sudah duduk tepat di kursi belakang.
"Anak itu!" Geramnya sambil geleng-geleng kepala.
Selama diperjalanan, Gaby lebih memilih mendengarkan musik lewat headphonenya. Mengatur volume yang super keras agar apapun suara yang dikeluarkan Willy tak terdengar ditelinganya.
Sambil mendengarkan musik Gaby menatap gedung-gedung pencakar langit yang menemani perjalanannya ke sekolah. Ia sangat senang berlama-lama menatap gedung tinggi, karena dulu ia sering sekali diajak papanya mengunjungi gedung-gedung tinggi tersebut.
Tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah seketika saat melewati sebuah gedung, matanya jadi berembun. Teringat akan papanya yang dulu pernah bekerja di gedung yang sama. Dengan jabatan dan posisi yang dapat dibilang membuat iri semua orang. Hingga tragedi itupun terjadi. Tragedi yang memaksanya harus kehilangan semua hal yang ia cintai termasuk sang papa.
Willy menatap Gaby dari balik spion depan. Wajah itu yang selalu dilihatnya jika mereka melewat jalanan ini. Wajah kesedihan yang membuat Willy semakin merasa bersalah!
Willy segera menetapkan hatinya. Ia tak suka kalau harus lama-lama melihat ekspresi itu. Dia harus segera merubahnya menjadi ekspresi lain. Tak perduli meski hanya ekspresi benci yang hanya dapat menggantinya.
"Woy!" panggil Willy yang sama sekali tak direspon oleh Gaby. Ia lantas melempar botol air mineral ukuran kecil kebelakang. Gaby yang kaget, dengan segera mengibaskan sebelah tangannya ke mata agar tak ketahuan Willy jika ia hampir menangis. Kemudian Gaby melempar kembali botol air mineral itu tepat ke bahu Willy hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Aw. Sakit tahu!" bentak Willy sambil mengusap bahunya yang tadi terkena lemparan botol air mineral.
"Tadi kan kamu yang mulai duluan. Aku sih ngikutin aja," sahut Gaby cuek. Dia lantas menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata.
"Kenapa? Ngantuk ya? Pasti semalem abis dapet ceramah panjang lagi kan dari Tante Merry?" ledek Willy senang.
"Bukan urusan kamu!"
Willy tertawa melihat wajah Gaby saat ini. Wajah yang sejak tadi ia tunggu-tunggu.
"Kenapa ketawa?" Gaby mengerutkan keningnya.
"Ini yang bikin gue suka dari lo," ujar Willy sambil menggerak-gerakkan telunjuknya.
"Dasar sakit jiwa!" cibir Gaby tak tahan. Tak lama setelah itu Willy menepikan mobilnya.
"Pindah! Udah kayak bos aja kamu duduk di belakang."
"Ogah!"
"Yakin? Ga bakal nyesel?" Tak ada sahutan. Gaby semakin seksama mendengarkan lagu dari handphonenya.
"Oke. Fine!" Willy kemudian memutar kemudinya ke arah yang berlawanan dengan sekolah Gaby.
"Eh, ini kemana? Ini bukan jalanan ke sekolah!" teriak Gaby panik. Dia bahkan sampai melepas headphone yang tengah ia gunakan.
__ADS_1
"Emang bukan," sahut Willy enteng.
"Terus kita mau kemana? Ini sebentar lagi bel masuk sekolah, William!" Gaby semakin panik saat Willy membawanya masuk ke jalur JORR.
"Kamu liat aja nanti," sahut Willy membuat Gaby kebingungan.
Setengah jam berlalu dan Gaby yakin jika ia sudah tidak bisa lagi masuk sekolah. Diliriknya Willy yang sibuk memutar kemudinya melewati jalanan berbelok hingga akhirnya berhenti disebuah rumah bergaya minimalis berpagar coklat.
Gaby terperangah. Seorang wanita berpakaian mini keluar dari rumah tersebut. Wajahnya cantik, rambutnya indah, dan, tubuhnya aduhai. Dia melambaikan tangan kala melihat Willy membuka kaca mobilnya.
"Hai Wil," sapanya masuk kedalam mobil kemudian mencium pipi Willy dengan mesra. Diliriknya Gaby yang tengah melipat tangan dijok belakang sambil merengut kesal.
"Jadi dia bikin gue bolos sekolah cuma demi jemput perempuan ini? Hebat lo William Eka! Hebat!" batin Gaby kesal.
Gaby memutar bola matanya kemudian kembali memasang headset di telinganya. Ia akan pura-pura tak melihat apapun kejadian yang mungkin akan dilihatnya nanti.
Wanita itu kemudian memasang sabuk pengaman, sambil terus mengoceh seperti burung beo.
"Gue kok ga tau ya kalo lo punya adik, Wil." Wanita itu mulai memonopoli spion depan demi memastikan tatanan poni dan make up nya rampung serta paripurna.
Willy tak menjawab, sedangkan Gaby lebih memilih kembali memutar bola matanya sambil membuang wajah. Pura-pura tak peduli.
"Dia bukan adik gue," sahut Willy singkat. Wanita itu kemudian mengangkat kedua alisnya lalu membalikkan tubuhnya menghadap belakang.
"Pantesan! Adik lo kan ga mungkin cupu begitu ya, Wil?" cibirnya membuat telinga Gaby panas.
"Terus kalo bukan adik lo, kenapa lo harus repot-repot anterin dia ke sekolah?" tanyanya lagi. Kali ini wajah wanita itu nampak sangat tidak bersahabat.
"Emang kenapa? Ada masalah?" Kali ini Gaby buka suara. Sedangkan Willy malah senyum-senyum sendiri dibalik kemudi. Menunggu aksi selanjutnya antara dua wanita yang menumpang di mobilnya.
"Jelas masalah dong. Willy itu kan cowok gue. Dan gue ga suka dia deket sama cewek lain selain gue!" teriak wanita itu memekakkan telinga. Gaby bergidig ngeri, membayangkan jika wanita itu berorasi di depan gedung MPR/DPR dengan suara dan pakaian seperti itu.
"Posesif," celetuk Gaby.
"Apa lo bilang!" teriaknya dengan badan yang memaksa hendak merangsek ke belakang. Diulurkan tangannya ke arah Gaby, berniat untuk menjambak rambutnya.
"Dhea!" Willy yang tadinya sangat menikmati pertengkaran dua wanita didalam mobilnya akhirnya memutuskan untuk angkat bicara.
"Kalian bisa ga jangan berantem di mobil gue? Gue paling ga suka liat cewek ribut apalagi sampai pake kekerasan!" Willy menepikan mobilnya di pinggir trotoar. Dia tersenyum saat melihat Gaby memandangnya dari belakang dari balik spion.
"Wil... " panggil Dhea saat Willy dengan gerakan matanya memberikan isyarat untuk keluar.
"Sekarang!" titah Willy kemudian melemparkan wajahnya ke sisi lain.
"Kampus gue masih jauh Wil," ibanya tetap tak mau turun.
__ADS_1
"Salah satu diantara kalian harus turun dari mobil ini," putus Willy keras kepala. Dhea pun melirik Gaby.
"Kenapa ga dia aja yang turun?" ujar Dhea menatap Gaby. Senyuman miring tak ketinggalan menghiasi wajah cantiknya.
"Apa?" Gaby terperangah.
"Turun gue bilang! Willy ga mau denger kita berantem." titahnya galak.
"Kenapa harus gue?" Gaby tak terima. Dia kembali menatap Willy dari balik spion meminta dibela.
"Karena gue pacarnya Willy. Sedangkan elo bukan siapa-siapanya Willy."
Gaby menunduk. Membenarkan ucapan wanita itu. Tapi Gaby tidak mau kalah. Jiwa kompetisinya menolak untuk menyerah.
"Gue emang bukan siapa-siapanya dia tapi kan-"
"Gue ga mau denger alasan. Cepetan lo turun, atau gue yang bakal dorong lo ke atas trotoar," ancam Dhea tak membuat Gaby takut.
"Coba aja kalo berani," tantang Gaby membuat Dhea segera keluar dan menarik tangan Gaby secara paksa. Aksi tarik-tarikan pun terjadi.
"Ayo! lo batu banget sih jadi anak," maki Dhea sambil terus menarik tangan Gaby, "Cepetan turun. Gue sumpahin jadi batu beneran juga lo ya,"
"Emang lo emaknya malin kundang bisa ngutuk gue?"
"Eh, malah ngelawan lagi. Gue bilang turun ya turun dong, cupu!" bentak Dhea tak patah arang.
"Lepas!" teriak Gaby kesakitan. Kuku panjang Dhea secara tak sengaja melukai pergelangan tangan Gaby.
"Ups! Gue sengaja tuh," ujarnya tersenyum sambil melepaskan tangan Gaby.
"Lo manusia apa siluman kucing sih? Kuku lo tajem banget kayak mata pisau," protes Gaby sambil mengusap tangannya yang sedikit memerah. Rasa panas dan sakit bergabung menjadi satu.
"Jadi gimana? Siapa yang harus gue turunin sekarang?" tanya Willy membuat Gaby dilema.
"Dia dong!" tunjuk Dhea keras kepala.
"Gimana?" ulang Willy memastikan.
"Ga! Aku ga mau turun disini," tolak Gaby.
"Kalau gue yang lo turunin gue disini, kita putus," ancamnya membuat Gaby kesal. Willy terdiam menatap Gaby.
"Ayo, Wil. Tunggu apalagi," ajak Dhea membuat Willy akhirnya mulai menginjakkan kakinya dipedal gas dalam-dalam.
"Williaaaaaaam." teriak Gaby sambil menghentakkan kaki.
__ADS_1
Kini tinggal tersisa Gaby. Tersesat di jalan tol sendirian dalam kebingungan.