
Gaby mengaduk es batu yang berenang bebas didalam gelas jus jeruknya. Sedangkan Mika lebih memilih menggigit buah apel kesukaannya sebagai menu pengganti makan siangnya kali ini.
"Oke, sekarang coba lo ceritain sama gue sedetail-detailnya, siapa itu Daniel?" tanya Mika penasaran. Ditatapnya wajah Gaby seperti seorang polisi yang tengah menginterogasi.
"Daniel itu mantan pacar gue yang selingkuh sama kakak tiri gue," ujar Gaby membuat Mika terperanjat. Gadis dengan gigi kawat merah muda itu menelan apel yang tengah dikunyahnya dengan susah payah seperti tengah menelan paku.
"What! Jadi selama ini lo pernah pacaran? Kok gue bisa ga tau sih, Gab?" keluh Mika kecewa.
"Lanjut cerita ga nih?" tanya Gaby sambil membetulkan letak kacamatanya yang sedikit turun.
"Iya.. iya.. Protes dikit aja ga boleh," ujar Mika sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bisa dibilang Daniel itu cinta pertama gue waktu SMP. Kami pacaran kilat waktu itu, cuma seminggu," terang Gaby mengenang masa lalu. Masa yang menurutnya indah karena pada masa itulah dia baru mengenal kata cinta kepada lawan jenis.
"Hah?" Mika terperangah dengan pengakuan Gaby, "Udah kayak jumlah hari dikalender aja masa pacaran lo, Gab." Mika geleng-geleng kepala.
"Bisa lo bayangin kan gimana rasanya ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya? Dicampakkan gitu aja kayak barang udah ga berguna? Dan itu yang gue rasain waktu Daniel ninggalin gue,"
Mika berdecak menyayangkan perlakuan yang diberikan Daniel kepada Gaby, "Jadi alasan lo ga pernah pacaran lagi karena belom bisa move on dari Daniel, gitu?" ramal Mika yang tentu saja langsung dibantah Gaby.
"Enak aja lo. Amit-amit deh kalo gue harus susah move on dari dia," gerutu Gaby mulai kehausan. Diminumnya es jeruk yang sedari tadi hanya ia mainkan. Sedangkan Mika sudah mengambil apel kedua dari dalam kotak bekalnya.
"Gue tuh bukannya ga bisa move on dari pengkhianat macem dia. Tapi lebih tepatnya gue trauma, Mik. Takut diselingkuhin lagi," terang Gaby sedih.
Memang. Trauma itu meninggalkan bekas mendalam, bahkan sulit hilang meski kejadiannya sudah berlangsung cukup lama.
"Tapi ga semua cowok kayak gitu, Gab. Pasti adalah satu cowok baik yang nyelip diantara cowok-cowok gak kuat iman macem si Daniel itu," bela Mika berapi-api.
"Salah satunya Riza kan?" goda Gaby membuat pipi Mika merona jadi merah muda.
"Apaan sih, Gab!" ujar Mika malu-malu. Mika mengulum senyum saat nama lelaki idolanya disebutkan Gaby.
"Udah, ga usah pura-pura deh sama gue. Lo suka kan sama ketua Osis kita?" goda Gaby lagi membuat Mika salah tingkah.
"Eng... Eng... Engga!" teriak Mika ragu-ragu.
"Alaaaahhh... Serius lo ga suka? Terus menurut lo siapa ya yang suka kirimin Riza coklat ke ruang Osis sampe bikin dia diabet?" tanya Gaby sambil pura-pura berfikir.
"Hah? Riza punya diabet emang?" tanya Mika panik. Gaby yang mendengar jawaban Mika tersenyum senang karena targetnya sudah kena jebakan.
__ADS_1
"Punya lah. Kalo setiap hari lo kirimin coklat kayak begitu, lama-lama juga dia bakalan punya penyakit diabet. Lo tunggu aja waktunya," ujar Gaby menakut-nakuti. "Asal lo tau ya, orang yang punya penyakit diabet itu berpotensi tinggi menurunkan penyakitnya itu sama keturunannya. Bahkan katanya bisa nyampe 10 kali lebih tinggi lho"
"Ih, jahat banget sih lo. Nyumpahin orang ga pake saringan."
"Ini bukan nyumpahin, Mik. Ini bakal bener-bener kejadian kalo lo kasih coklat ke Kak Riza tiap hari. Lo belom tau kan kalo kak Riza itu chocoholic?"
"Ah serius? Lo tau darimana Gab?"
"Dari ramalan bintang!" Gaby tertawa lepas karena sudah berhasil menipu Mika. Sedangkan Mika yang sebal menempelkan tangannya di gelas bekas jus, dan mencipratkan embun yang menempel digelas itu ke wajah Gaby.
"Eh, terus gimana awal ceritanya Daniel kenal ama kakak tiri lo?" tanya Mika mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau fans Riza di kantin yang jumlahnya seabrek mendengar dirinya membicarakan idola mereka lantas membully-nya.
"Gue sih ga tau detailnya mereka ketemu dimana dan kayak gimana. Tapi yang jelas, 5 hari setelah gue jadian sama Daniel Tania ngaku kalo dia suka sama Daniel dan Tania bilang kalo dia mau Daniel jadi pacarnya" terang Gaby sambil tersenyum getir.
"Ya ampun, Gab" ujar Mika prihatin. "Emang bener-bener ga punya perasaan apa kakak tiri lo itu," Mika gemas sendiri mendengar cerita Gaby. Dia bahkan menggigit apel yang tengah dipeganhnya berkali-kali dalam satu gigitan.
"Dari situ gue berantem sama Tania. Gue benci sebenci-bencinya sama dia karena udah tega ngerebut pacar adiknya sendiri. Terus gue minta Tania buat jauhin Daniel."
"Tania mau?"
Gaby menggeleng. "Dia malah minta Daniel buat putusin gue. Daniel nurutin permintaan dia, dan kami resmi putus," Gaby menghela nafas panjang kemudian kembali meminum jus jeruknya hingga tandas.
"Tania minta tolong gue buat cari Daniel."
"Lho, kok..." Mika kebingungan. Banyak tanda tanya besar mengelilingi kepalanya.
"Buat apa dia cari Daniel?"
"Katanya masih ada urusan yang belom mereka selesaikan,"
"Urusan apa?" kening Mika berkerut.
Gaby mengendikkan bahu. "Tania ga mau kasih tau gue,"
"Kenapa ga dia cari sendiri aja sih? Emang dia ga takut apa kalo Daniel CLBK ama lo,"
"Ga mungkin lah, meskipun Daniel adalah laki-laki yang cuma tersisa satu didunia ini gue akan tetep milih jadi jomblo selamanya daripada harus CLBK sama dia,"
Mika tertawa. "Emang sampe detik ini aja lo masih jomblo kan?" ledeknya membuat Gaby bersorak.
__ADS_1
"Huuu.. Yang penting gue jomblo yang ga nyimpen perasaan gue sama orang macem lo," serang balik Gaby.
"Terus Tania minta apalagi?"
"Itu aja sih,"
"Dan lo mau?" Gaby terdiam, "Lo ga mau kan, Gab?" desak Mika tak sabar.
"Katanya dia bisa bantuin gue buat jauh dari Willy. Dan sebagai balasannya gue harus bantuin dia cari Daniel,"
Mika menghela nafas panjang. Ia sudah tau apa jawaban yang akan diberikan sahabatnya itu.
"Mending lo jangan mau deh bantuin Tania. Lo jangan cari-cari api, Gab. Gue takut nanti lo kebakar," saran Mika membuat Gaby kebingungan.
"Maksudnya?"
"Lo ga lupa kan Willy itu kayak gimana orangnya?" ujar Mika mengingatkan. Meskipun sebenarnya Mika sama sekali belum pernah sekali pun bertemu dengan lelaki bernama Willy, tapi ia sedikit paham dengan sifat lelaki itu dari cerita-cerita yang didengarnya dari Gaby.
"Justru karena gue tau Willy itu orangnya kayak gimana jadi gue lagi berusaha buat lepas dari dia," terang Gaby, "Siapapun ga ada yang bisa bantu gue buat lepas dari Willy. Dan cuma Tania yang bisa bantuin gue," ujar Gaby yakin.
Mika pasrah. Gaby yang keras kepala tidak akan pernah mendengarkan ucapannya jika ia sudah merasa yakin akan sesuatu.
"Ya deh. Terserah lo. Gue sih gimana baiknya aja. Yang penting gue udah ingetin lo ya," ujar Mika memperingatkan. Ia yang sudah tak berselera lagi menghabiskan sisa apelnya dan berniat melempar apel itu ke dalam tempat sampah tanpa perlu bangun dari tempat duduknya. Namun sayang, karena bukan ahli pelempar benda, lemparan yang harusnya mendarat di tempat sampah malah berakhir tepat di belakang kepala Reno, sang kapten basket yang duduk membelakangi mereka.
"Mik, jangan asal main lempar. Nanti kena kepala orang repot," cegah Gaby mengingatkan. Namun sayang, buah apel itu sudah terlanjur terbang diudara.
Pluk!
Reno mengusap belakang kepalanya kemudian menunduk mencari benda yang tadi menabraknya. Setelah di temukan, Reno menyisir setiap ichi meja yang memajang buah apel diatasnya.
Ketemu!
Reno kemudian bangkit dan menghampiri meja Gaby serta Mika.
"Gue bilang juga apa! Elo sih," bisik Gaby menyalahkan.
"Aduh, gimana ini. Reno kan udah terkenal banget sama sifatnya yang..." belum sempat Mika melanjutkan ucapannya Reno sudah ada didepan mereka sambil melipat kedua tangannya di dada.
"o.. Oow," ujar Gaby dan Mika bersamaan.
__ADS_1