
Reno berteriak minta tolong dari jendela perpustakaan. Urat dilehernya bahkan terlihat semua saat ia berteriak saking kencangnya.
"Toloooongggg... Tolooooonnggg... Disini ada orang terkunci."
"Percuma lo teriak begitu. Diluar udah ga ada siapa-siapa," ujar Gaby yang ikut mengintip dari balik jendela. Suasana sekolah saat itu memang sudah hening layaknya kuburan.
"Ya mudah-mudahan aja ada anak OSIS yang lembur sampe malem gitu. Terus mereka nemuin kita disini, terus mereka bisa tolongin kita keluar dari sini. Terus..." ujar Reno kekanak-kanakan.
"Terus lo ngimpi aja sampe pagi," sahut Gaby jutek. Ia masih kesal dengan handphonenya yang rusak.
"Galak bener lo. Udah, masalah handphone rusak biar nanti gue yang ganti. Lo mau handphone kayak apa? Yang sama persis? Mau berapa biji? Dua, tiga atau berapa? Tinggal ngomong ama gue," tawar Reno sudah seperti sales handphone.
"Kenapa sih rata-rata orang kaya itu selalu menganggap semua masalah itu mudah? Apa karena mereka punya uang banyak ya?" tanya Gaby membuat Reno serba salah. Maksud hati ingin membuat keadaan membaik, tapi ternyata keadaan malah terjadi sebaliknya.
"Ya gak gitu juga sih. Terus menurut lo gue harus apa? Barang lo udah gue rusakin, dan nanti mau gue ganti. Apa itu salah?"
"Sama sekali ga salah. Tapi cara penyampaiannya itu yang salah. Lo anggap kalo dengan mengganti handphone gue yang rusak bisa membuat semuanya selesai. Tapi lo lupa, yang gue butuhin itu bukan handphonenya tapi isinya."
Reno mengerti. Dia akhirnya diam tak banyak bicara seperti tadi.
"Terus mau lo gimana dong?"
"Gue ga tau," sahut Gaby masih ketus.
Reno menghela nafas panjang. "Begini nih malesnya ngadepin cewek. Dikasih solusi ditolak mentah-mentah. Giliran ditanya maunya apa, malah bilang ga tau kalo engga terserah. Rumit banget emang jadi cewek," curhatnya pada diri sendiri.
Gaby melirik Reno. Reno melirik Gaby. Dan akhirnya Reno memilih untuk berteriak lagi.
"Tolooooongggg... Toloooooonnggg..."
Masih sunyi, sama seperti tadi.
Teriakan itu masih terdengar hingga akhirnya Reno batuk-batuk karena berteriak selama 2 jam nonstop.
"Itu tenggorokan apa toa sih? Kok bisa kuat ampe lama gitu ya" ujar Gaby salut. Jika ia yang berteriak minta tolong seperti itu, mungkin kondisinya ia sudah terkapar dilantai karena pingsan. Dehidrasi juga,karena sejak tadi ia tak melihat Reno minum sama sekali!
"Demi apapun yang penting gue bisa keluar dari sini. Gue masih ada janji sama temen gue"
"Cewek?"
"Iya dong. Gue paling anti temenan ama cowok. Ga seru," jawabnya membuat Gaby menelan ludah.
Bukannya ga seru, lo nya aja yang playboy! hidup lo bukan buat nyari temen, tapi nyari pacar.
"Ya tapi tenggorokan lo bisa sakit juga kalo teriak-teriak minta tolong terus kayak gitu," ujar Gaby mengingatkan.
Uhuuk.. uhuuk..
"Tuh kan! Udah lo duduk aja disini. Terus berdoa semoga Tuhan kasih sebuah keajaiban."
"Keajaiban itu cuma ada di cerita dongeng. Kita tetep harus usaha untuk mewujudkan keajaiban itu," bantah Reno masih dengan suara serak menahan batuk. "Keajaiban itu ga akan pernah datang secara tiba-tiba," lanjutnya lagi kini serius. Membuat Gaby sedikit bingung
Eh kenapa nih anak?
"Udah mending lo diem aja deh. Tar dikira abis nyanyi di konser metal lagi kalo suara lo ilang." Reno tak menyahut.
__ADS_1
"Oh ya, soal Tania. Sifatnya itu kayak gimana sih?"
Ini orang bener-bener ajaib ya. Suara udah ampir abis gitu masih aja cari info buat PDKT.
"Ini mungkin ya, Baik, setia. Hmmm..." Gaby berpikir keras. Apa saja sifat baik yang ada pada dirinya. Dia jadi bingung sendiri.
"Cantik," seru Reno menambahkan.
Sebenarnya Gaby merasa tersanjung karena dipuji begitu oleh Reno. Tapi mengingat itu bukanlah sosoknya kini, jadi Gaby hanya bisa tutup telinga agar tak mudah GR.
"Ish, kenapa sih yang ada di otak lo itu cuma cantik doang?"
"Karena yang pertama kali kita lihat kan visualnya. Kayak gue ngeliat lo, lo cupu dan gue ga suka," ujar Reno blak-blakan. Wajah Gaby berubah masam.
Manusia itu ga ada yang sempurna, Gab. Jadi jangan ambil hati ucapan Reno. Toh kamu pun sama sekali tidak menyukai Reno kan?
Gaby memantapkan hati. Hatinya masih terluka dan akan ia biarkan kosong hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
"Kok diem? Gue salah ngomong ya?"
"Engga. Lo ga salah ngomong kok. Emang itu kenyataannya kan. Sampe kapan pun lo ga akan pernah suka sama gue," ujar Gaby coba menahan diri. Ingin rasanya mencocol mulut Reno dengan sambal super pedas agar kapok tak asal bicara.
"100 buat lo. Pantesan aja lo jadi kandidat buat ikut lomba. Otak lo encer banget," ujar Reno memamerkan ibu jarinya dihadapan Gaby.
"Sama. Lo juga pinter kok. Pinter mainin perasaan orang!"
"Kok?"
"Iya lah. Lo itu ibarat roaler coaster. Bisa dengan tiba-tiba menaik turunkan perasaan seseorang." Reno menautkan kedua alisnya.
Gaby mengendikkan bahu.
"Maksud lo, gue doyan muji tapi gue juga doyan ngebully. Gitu?"
Gaby mengangguk.
"Yaelah, pujian sama bully-an itu kayak dua sisi mata uang. Ga bisa dipisahin. Bukan gue doang kok yang doyan ngebully sekaligus muji. Lo pun sama. Karena didunia ini ga ada orang yang terus-terusan bisa dipuji. Pasti ada satu celah kesalahan yang bisa bikin seseorang di bully juga. Inget kan kalo manusia ga ada yang sempurna?"
Pinter ngomong lo.
Tiba-tiba Gaby meringis. Perutnya sangat sakit seperti sedang diiris silet.
"Kenapa lo?"
"Sakit magh gue kumat. Dari pagi gue cuma makan roti doang," ujar Gaby memegangi perutnya.
"Terus ngapain tadi lo nongkrong di kantin kalo bukan buat makan? Makan itu penting tau," ujar Reno kemudian merogoh saku celananya.
"Nih, lo makan. Sisa satu doang. Bisa kuat sampe besok kan?" Gaby mengangguk kemudian membuka bungkusan coklat itu dan memakannya.
"Tadinya juga gitu. Cuma keburu ada insiden sama lo, makanya gue lupa," ujar Gaby meneliti bungkus coklat yang baru saja dimakannya.
Kayak kenal.
"Lo sendiri gimana?"
__ADS_1
"Perut cowok mah gampang. Tar gue nyari cicak buat dimakan," candanya sambil tertawa girang. Gaby bergidig geli sekaligus jijik.
"Lo ga suka diet-diet kan?" tanya Reno lagi seperti seorang wartawan.
"Engga. Kenapa emang?"
"Karena mau sebagus apapun body lo, kalau lo cupu kayak begini pasti ga akan ada orang yang mau sama lo," ujar Reno lagi-lagi mencederai perasaan Gaby.
Baru saja dia menganggap Reno orang baik karena rela memberikan barang berharga satu-satunya yaitu coklat kepadanya. Tak berapa lama Reno sudah menunjukkan sifat aslinya. Sama persis seperti William.
William! Astaga. Jangan-jangan dia jemput gue tadi. Aduh, bisa abis nih diomelin sama mama
"Lo kenapa? Ga tersinggung sama omongan gue barusan kan?"
Gaby menggeleng. Pikirannya sudah terbang kemana-mana.
Creekk.. Creekk..
Tiba-tiba pintu perpustakaan terbuka. Seorang lelaki membawa senter masuk ke perpustakaan.
"Apa ada orang disini?" teriaknya.
Reno yang mendengar suara manusia kemudian bangkit dan ikut berteriak memanggil untuk segera diselamatkan.
"Kami disini."
Dan tibalah penjaga sekolah yang membawa senter ke tempat mereka.
"Syukurlah bisa ketemu bapak disini. Saya pikir saya harus nginep disekolah malem ini," ujar Gaby menyambut penjaga sekolah dengan gembira.
"Iya, tadi saya dikabari kalo masih ada yang terkunci di perpustakaan. Jadi saya buru-buru datang kesini."
"Pak Udin" panggil Reno.
"Kamu lagi?" pak Udin kaget. Dia mengarahkan senter yang tengah dipegangnya ke arah Reno.
Reno menutupi wajahnya dengan tangan karena silau.
"Bisa diturunin ga senternya pak. Saya silau nih."
"Oh ya. Maaf."
"Tadi bapak bilang dikabari siapa, Pak?" tanya Gaby penasaran.
"Anaknya pak Tomo" terang penjaga sekolah. "Tadi sore tiba-tiba pak Tomo pingsan di ruang BK. Dan sekarang dia sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit," lanjutnya lagi
"Terus gimana kondisinya sekarang Pak?"tanya Gaby penasaran.
"katanya tadi sempat sadar sebentar memberitahukan soal kalian yang terkunci. Setelah itu kembali tak sadarkan diri sampai sekarang."
"Ya ampun..." Gaby menutup mulutnya.
"Wawancaranya besok aja bisa? Sekarang mending kita pulang dulu. Udah malem banget nih," ujar Reno yang tak sabar dan langsung nyelonong keluar ruang perpustakaan. Gaby mendelik kesal.
Emang dasar ga punya empatinya sama sekali nih orang.
__ADS_1
"Ayo" ajak penjaga sekolah yang dibalas senyuman manis Gaby.