Get Back Love

Get Back Love
Naik Motor


__ADS_3

Mika berlarian di lorong sekolah sambil berteriak dan melambaikan tangan memanggil nama Gaby. Namun Gaby sedikitpun tak berbalik. Telinganya tak dapat mendengar suara apapun karena di tutupi headset.


"Gaby!" bentaknya sambil menepuk pundak Gaby saat dirinya sudah berhasil memperdekat jarak diantara mereka. Gaby pun akhirnya berbalik.


"Mika! Ngapain lo lari-lari?" Gaby baru melepas headsetnya kemudian menyangkutkannya di leher.


"Elo tanya gue kenapa lari-lari?" tanya Mika dengan nafas terengah-engah bahkan hampir putus.


"Tarik nafas, Mik. Tarik nafas," saran Gaby sambil menggerakkan tangannya naik turun seperti seperti instruktur yoga. Mika pu. menurut. Nafasnya kini sudah mulai sedikit teratur.


"Ada apa? Kenapa elo lari-larian gitu kayak lagi kejar kereta?" Gaby menatap Mika kasihan.


"Kejar kereta dari Hongkong? Jelas gue ngejar elo lah," sewot Mika. "Dari keluar kelas tadi, gue udah teriak-teriak manggil nama lo sampe diliatin anak-anak satu sekolah. Tapi bukannya nengok, jalan lo malah makin cepet. Mau bikin gue kurus secara instan lo ya?" omel Mika. Nafasnya masih sedikit tersengal mungkin dikarenakan efek dari berat badannya yang sedikit berlebih.


Kalau bisa sih gue pengen banget Mik, bikin lo sedikit lebih kurus.


Gaby tersenyum.


"Masa sih? Kok gue ga denger ya?" ujar Gaby sambil menarik Mika berjalan ke arah parkiran.


"Kok elo malah narik-narik gue kayak kambing gini sih, Gab? Gue masih cape nih gara-gara ngejar lo tadi," keluh Mika melepaskan genggaman tangan Gaby. Gaby memberikan kode dengan matanya. Beberapa siswa melirik mereka dengan wajah tak suka. Mika malah membalas mereka dengan deretan gigi putihnya.


"Kita ngehalang jalan mereka ya?" tanya Mika kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.


"Bukan kita sih. Lebih tepatnya, elo!" tunjuk Gaby ke arah kening Mika kemudian mendorongnya ke belakang. Mereka akhirnya kembali berjalan ke arah parkiran.


"Padahal timbangan gue udah turun satu kilo lho," terang Mika serius. Nampaknya turun berat badan meski hanya satu ons saja sudah bisa membuat Mika senang.


"Kalo cuma turun sekilo doang sih, efeknya cuma keliatan di kelingking lo doang, Mik. Kalo body lo masih segitu-gitu aja," ledek Gaby sambil tertawa tapi malah membuat Mika menghentikan langkahnya. Dia memandang dirinya sendiri seolah tak percaya.


"Kok malah berhenti? Ayo!" ajak Gaby tapi Mika masih tetap diam ditempat. Gaby yang menyadari jika Mika sama sekali tak bergerak lalu kembali ke belakang menghampiri Mika.


"Kenapa sih, Mik? Gue cuma becanda ah! Jangan diambil hati gitu dong. Kita kan udah sahabatan sejak dalam kandungan," rayu Gaby sambil menyenggol pundak Mika agar berhenti merajuk.


"Emang body gue ga keliatan ada perubahannya ya?" Kini Gaby mulai kebingungan menjawab pertanyaan Mika.


"Engga kok. Body lo sebentar lagi hampir saingin Angelina Jolie. Tinggal sedikiiiiiitt lagi," rayu Mika sambil menempelkan ibu jari dan telunjuknya.


"Bener?" Gaby mengangguk cepat. Mika akhirnya tersenyum senang.


"Tapi lebih baik mulai besok lo ga usah makan yang manis-manis dulu, Mik. Percuma juga kan kalo lo seharian cuma makan buah tapi disela-sela itu lo makan coklat banyak banget. Apa itu bukan pekerjaan yang sia-sia?" saran Gaby.


"Tapi lo kan tau kalo moodbooster gue itu coklat," sahut Mika sedih.


"Usahain dulu, Mik. Pelan-pelan juga gak apa-apa. Yang penting dikurangin." Mika mengangguk ragu.


"Yaudah, nanti gue coba deh."

__ADS_1


"Nah gitu dong. Biar lo ga gemuk-gemuk amat pas lulus."


"Kalo lo sendiri gimana? Mau tetep cupu sampe lulus?"


"Kalo gue kan tergantung permintaan. Yang pegang kendali kan Willy. Kata Willy cupu ya cupu. Kata Willy cantik ya jadi angsa gue."


Gaby dan Mika tertawa bersama.


"Hey, Cupu!" teriak seseorang dari atas motor sport warna merahnya. "Buruan! Panas nih," teriaknya lagi. Mika menatap Gaby dengan wajah bingung.


"Lo balik bareng dia?" tunjuk Mika. Gaby mengangguk. "Kok bisa?" tanyanya lagi.


"Ada udang di balik batu," bisik Gaby. Mika mengangguk mengerti.


"Awas ketahuan Willy, bisa jadi angsa goreng di warung tenda lo."


"Willy lagi keluar kota seminggu, jadi semua aman." Gaby mengedipkan matanya.


"Oh ya, ini handphone lo ketinggalan di kursi taman," ujar Mika sembari menyerahkan handphone dengan case merah muda kepada Gaby.


"Lho, kok?" Gaby kebingungan. Gaby memeriksa layar handphone nya. Tak ada lagi sarang laba-laba disana. Semuanya kembali, Mulus!


"Kenapa? Lo bingung? Sama gue juga! Lo bilang handphone lo dirusakin Reno, buktinya tuh handphone baik-baik aja."


Gaby menyalakan handphonenya, ada lebih dari 30 pesan dan 45 panggilan tak terjawab yang mayoritas berasal dari Willy.


"Cupu!" Teriak Reno lagi kini membuka helm fullfacenya lalu menyimpannya di spion motor. Dia hampir turun dari motornya tapi segera di urungkan karena Gaby nampak mulai berlari ke arahnya.


"Gue lebih seneng manggil lo cupu," sahut Reno tak perduli sambil menyerahkan helm kepada Gaby.


"Dan gue lebih seneng naik angkot daripada naik motor," Gaby mendorong helm pemberian Reno.


"Oke! Mulai sekarang gue panggil lo ..." Reno menelan ludahnya susah payah. "Gaby."


"Deal." Tapi Gaby tak serta-merta mengambil helm dari Reno.


"Ayo."


"Tapi gue serius sama omongan gue barusan. gue lebih seneng naik angkot daripada naik motor."


"Kenapa? Takut rambut lo bau? Sok cantik amat sih lo jadi cewek. Ga bakal ada yang mau kok sama lo. Udah, naik aja. Ribet amat!" celetuk Reno kembali mengenakan helmnya. "Ayo!" ujarnya lagi dengan intonasi sedikit meninggi.


"Oh ya, handphone gue-"


"Ngobrolnya nanti aja kalo udah dijalan. Panas nih," protes Reno lagi.


Gaby akhirnya mengenakan helm kemudian naik keatas motor. "Pegangan!" seru Reno sebelum memacu motor merahnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Selama diperjalanan, Gaby dan Reno sama-sama diam seribu bahasa. Hingga akhirnya Reno menepikan motornya di trotoar. Kemudian melepas helmnya tanpa turun dari motor.


"Kok kita berhenti disini? Lo ga ada niatan turunin gue disini kan? Rumah gue masih jauh loh," ujar Gaby trauma. Takut harus pulang jalan kaki lagi seperti saat diantar Willy dulu.


"Ya makanya lo ngomong dong. Jangam diem aja kayak ga punya mulut. Ini gue udah anterin lo pulang, bilang terima kasih atau apa kek. Ini alamat rumah lo aja gue disuruh tebak-tebakan kayak paranormal," keluh Reno kesal. Gaby terdiam. Teringat ucapan Willy yang selalu kesal jika dirinya diam saja selama perjalanan.


"Emang harus ya gue ngomong? Lo ga tau apa kalo sebagian besar kecelakaan lalu lintas itu terjadi dikarenakan pengendaranya tidak fokus selama perjalanan akibat diajak ngobrol sama penumpangnya?"


"Ya, minimal lo ada suara lah. Bocorin informasi tentang Tania contohnya."


"Informasi Non Tania itu mahal. Ga bisa sembarangan di kasih ke orang."


"Harga service handphone lo juga mahal."


"Kan lo sendiri yang bilang, kalo handphone itu lo yang rusakin jadi mau lo ganti. Ya berarti impas dong kalo lo udah service ini handphone meskipun mahal."


Reno kalah debat.


"By the way, handphone gue ga lo otak-atik kan?" tanya Gaby penuh selidik.


"Semua aman, cuma sebagian photo Tania udah gue copy ke handphone gue."


"Apa!" pekik Gaby


"Biasa aja dong teriak apanya. Drama amat! Cepetan pegangan lagi, udah mulai sore nih. Gue masih ada janji," titah Reno. Gaby memegang bagian belakang motor seperti nenek-nenek dibonceng cucunya.


"Ga ada estetikanya banget sih gue bonceng lo! Pegangan kesini, bukan kesana," ujar Reno menarik tangan Gaby kemudian melingkarkan di perutnya sendiri.


"Nah, gini kan enak. Gue jadi ga perlu takut lo terbang kalo jalannya sedikit ngebut," kekeh Reno yang langsung mendapat tepukan di bahunya.


Sesampainya di rumah, nampak Merry tengah berdiri sambil menatap jalanan di depan rumahnya. Gaby yang melihat mamanya sudah menunggu, meminta Reno menurunkannya sedikit lebih jauh agar tak kelihatan.


"Gue turun disini aja," pinta Gaby sambil melepaskan pelukannya. Reno menurut, diberhentikannya motor merah kesayanganya disebuah rumah 3 lantai yang cukup mewah. Reno menatap rumah itu.


"Rumah lo disini? Katanya lo anak pembantu?" tanya Reno keheranan.


"Rumah gue yang paling ujung sana," Gaby melepaskan helmnya.


"Terus kenapa lo minta turun disini?"


"Karena di depan ada nyokap gue. Biasanya kalo dia udah berdiri nunggu gue pulang kayak gitu, tandanya dia abis dimarahin majikannya."


"Tania?"


"Mamanya mungkin. Karena yang gue denger, mamanya super galak. Papanya Tania aja ga berani ngelawan kalau dia udah marah." Reno tak memberikan tanggapan.


"Kenapa? Lo takut ya?" tanya Gaby lagi. Kali ini ia memutuskan turun dari motor Reno.

__ADS_1


Reno tertawa dipaksakan "Haha, macan aja bisa gue jabanin."


"We will see," seru Gaby. "Thanks buat tumpangannya, gue tinggal lo ya. Lo tau arah puter baliknya kan?" Reno mengangguk. "Bye." Gaby melambaikan tangannya kemudian perlahan-lahan mulai berjalan ke arah rumahnya berbarengan dengan melintasnya Reno dengan sepeda motornya lebih dulu.


__ADS_2