Get Back Love

Get Back Love
Di hukum


__ADS_3

Gaby menulis nama Daniel diatas buku pelajarannya. Dipikirkannya baik-baik langkah yang harus dia ambil untuk menemukan Daniel Aditya tanpa harus bertatap muka langsung dengan pengkhianat itu.


"Gaby," panggil ibu Retno. Gaby bergeming. Dia masih asyik dengan petualangan di pikirannya sendiri. Bu Retno yang kesal karena tak ditanggapi akhirnya menghampiri tempat duduk Gaby.


"Gaby," panggilnya lagi. Kali ini intonasi suaranya sedikit ditinggikan. Namun masih saja tak bisa membuat Gaby bereaksi.


Nino yang duduk dibelakang Gaby segera mendorong kursi Gaby dengan kakinya agar teman sekelasnya itu segera sadar.


"Apaan sih No!" bentak Gaby menghadap belakang. Nino memberi kode dengan ibu jarinya. Gaby lantas melirik dengan ujung matanya. Wanita berbadan tambun itu nampak tengah bersedekap sambil menatap Gaby seperti hendak menerkam.


"o..oOw," ujar Gaby panik sambil menggigit bibir bawahnya. Hukuman yang mengerikan sepertinya sudah menunggu Gaby dengan tak sabar.


Bu Retno menarik buku tulis Gaby dengan paksa kemudian ia baca dengan seksama. Ada tulisan Daniel terukir manis disana. Bisa dipastikan, bu Retno tak akan menyukai coretan tangan Gaby yang ngawur itu.


"Jadi kamu lebih tertarik dengan Daniel dibandingkan pelajaran kimia yang saya berikan, Gaby?" tanya bu Retno membuat seisi kelas hening. Begitupun Gaby. Jawaban yang diberikan nanti pastilah salah semua dimata bu Retno.


"Kenapa? Apakah Daniel itu pacar kamu?" tanya bu Retno lagi sambil membetulkan kacamatanya yang turun. Seiisi kelas yang tadinya hening tiba-tiba bersorak-sorai menyoraki Gaby yang dilanda malu setengah mati.


"Kamu ga mau jawab pertanyaan saya!" bentak Bu Retno geram.


"Daniel itu nama kucing tetangga saya bu," ujar Gaby berbohong.


"Sebegitu pentingnya kah kucing tetangga kamu itu dibandingkan pelajaran yang ibu berikan? Apa kamu pikir kucing tetangga kamu itu akan masuk kedalam soal ujian?"


"Maafkan saya bu," ujar Gaby tertunduk pasrah.


"Yasudah saya maafkan," ujar bu Retno hampir membuat Gaby loncat memeluk guru killernya itu, "Tapi..." sambungnya lagi, "Setelah jam pelajaran saya berakhir, saya tunggu kamu di ruang guru. Saya punya kenang-kenangan yang tidak akan pernah kamu lupakan setelah ini" ujar bu Retno tersenyum penuh arti.


*****


Gaby melirik matahari yang dengan sombongnya memancarkan cahaya panas yang begitu menyengat kulit. Berkali-kali ia menelan salivanya sendiri karena kehausan. Dan berkali-kali pula ia mengusap peluh yang selalu keluar dari pori-porinya..

__ADS_1


Gelak tawa dari teman-teman satu sekolahnya yang lewat dilorong sekolah membuat Gaby menundukkan kepala. Apalagi salah seorang siswa yang ikut menertawakannya itu adalah Leona. Siswi cantik sang primadona yang jadi incaran para siswa laki-laki baik di dalam maupun luar sekolah.


"Ternyata manusia cupu macem lo bisa suka ama cowok juga ya?" ejek Leona saat melihat buku tulis yang tadi dipermasalahkan Bu Retno sedang diangkat tinggi diatas kepala Gaby.


Apes banget gue. Pake ada dia lagi. huft!


Gaby menatap Leona sebal. Entah apa yang membuat gadis cantik itu begitu membencinya. Berkali-kali dia melontarkan kata-kata sindiran yang begitu menyayat hati.


"Gue kira dia cuma suka sama buku tebel doang, kayak kacamatanya itu," timpal Rana sambil menunjuk kacamata Gaby, "Ternyata dia suka sama manusia juga, pemirsa." Kembali, Gaby ditertawakan bak badut yang gagal menunjukkan aksi trik sulapnya.


"Manusianya yang kayak gimana dulu? Ada mukanya ngga? Ada badannya ngga? Jangan-jangan bentuknya juga sama persis kayak buku lagi, hahaha" sahut Leona lagi membuat seluruh bagian tubuh Gaby panas, bukan hanya ucapannya saja. Tawa Leona pun seolah begitu menyiksa. Jika bukan sedang disekolah, ingin rasanya Gaby menjambak rambut panjang Leona hingga tercabut dari akarnya.


"Eh, jangan-jangan cowok yang namanya Daniel itu cowok yang sering anter jemput dia ke sekolah itu ya. Yang kalo dateng ga pernah keluar dari mobil itu," tanya Leona membuat sayembara.


Itu sih Willy kali. Bukan Daniel!


"Mukanya kayak gimana ya? Apa cupu juga kayak dia? Kalo mereka pacaran jadi cupu kuadrat dong," Hina yang lain seperti tak ada puasnya.


Willy itu ganteng. Kalo kalian liat dia, pasti kalian bakalan rela meski disuruh minum air selautan! *eh


Tak tahan terus dihina, akhirnya Gaby buka suara.


"Puas hina-hina guenya? Apa lo ga punya kerjaan lain selain ngusilin hidup gue?"


"Uhh, ada yang marah guys!" seru Leona pura-pura ketakutan.


"Sebenernya apa sih salah gue sama lo, Na sampe bikin lo ga suka sama gue kayak gini? Gue pernah nyakitin lo? Engga kan? Gue pernah ngerebut cowok lo? Engga juga kan?"


Leona nampak terpancing. Dia maju beberapa langkah menghampiri Gaby.


"Ngerebut cowok gue?" tunjuknya pada diri sendiri. "Heh, cupu! Ngaca dong! Cowok gue matanya masih bagus semua ya, ga mungkin lah dia rela ninggalin berlian macem gue demi sampah kayak lo!" ujar Leona jumawa. Didorongnya pundak Gaby hingga mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Dengerin gue ya, manusia cupu. Sekolah ini bisa berdiri kokoh karena bantuan dari kakek gue. Dan rasanya gue ga rela aja kalo sekolah ini harus diisi manusia cupu macem lo!" tunjuk Leona marah.


Bukannya sekolah ini berdiri kokoh karena dibikin dari bahan bangunan ya?


"Dari dulu sekolah ini tuh sekolah elit. Cuma siswa terpandang dan berkualitas aja yang bisa masuk kesini. Tapi semenjak kehadiran lo sama temen-temen cupu lo, sekolah ini jadi berubah!"


Gaby mengerutkan keningnya. Tak mengerti dengan apa yang dikatakan Leona.


"Makanya, selama lo masih ada disini jangan harap gue bisa berbuat baik sama lo. Karena manusia cupu ga akan pernah dapet tempat dimanapun di belahan dunia ini, salah satunya di sekolah gue!"


Gaby menghela nafas kemudian geleng-geleng kepala.


Jadi hampir setiap hari lo bully gue, cuma karena gue cupu?


"Kenapa lo geleng-geleng kepala kayak gitu? Lo ngeledek gue?" tanya Leona marah


"Mana berani lah gue ngeledek lo, kakek lo kan pemberi donasi paling besar disekolah ini," ujar Gaby malah membuat Leona makin marah. Leona merasa jika Gaby tengah mengolok-olok dirinya.


"Elo!" tunjuk Leona dengan mata melotot.


"Gaby!" teriak Mika tiba-tiba, "Ngapain lo ada disini? Daniel itu siapa?" berondong Mika keheranan saat membaca sekilas tulisan di buku yang tengah dijunjung tinggi Gaby.


Leona yang tadinya ingin marah, segera mengurungkan niatnya saat melihat Mika. Bagaimanapun, mama Mika merupakan sahabat karib mamanya. Jika sampai Mika mengadu jika Leona membuat ulah, maka jangan harap Leona bisa shopping-shopping cantik secara bebas lagi di dalam mall.


"Urusan kita belom kelar!" ancam Leona yang mengajak pasukannya meninggalkan Gaby dan Mika.


"Lo ga minat kelarin urusan lo sekarang aja? Gue lagi free nih!" teriak Gaby sambil cengengesan


"Ada ururaan apa lo sama si nenek sihir?" tanya Mika penasaran. Gaby mengendikkan bahunya.


"Lo belom jawab pertanyaan gue, Gab! Siapa Daniel? Terus kenapa juga lo bisa dihukum kayak gini" tanya Mika masih penasaran.

__ADS_1


"Ceritanya panjang. Nanti pasti gue ceritain pas jam istirahat. Lo sendiri ngapain keluar kelas?" tanya Gaby


"Oh ya ampun, gue lupa disuruh ambil buku tugas dari Pak Martin" ujar Mika tepuk jidat kemudian berlari ke ruang guru. Gaby hanya tersenyum kecil melihat gaya sahabatnya yang pelupa itu.


__ADS_2