Get Back Love

Get Back Love
Baikan


__ADS_3

Gaby mengendap-endap masuk kedalam rumah. Semua lampu rumah nampak dipadamkan. Hanya tersisa beberapa lampu kecil di sudut rumah saja sebagai sumber cahaya. Memang itu sudah menjadi kebiasaan Merry sejak roda perekonomiannya terjun bebas. Selain dapat membuat suasana rumah lebih nyaman, kebiasaan itu sedikit lebih meringankan beban tagihan listrik katanya.


Gaby dengan mudah masuk kedalam rumah. Biasanya, jika lampu sudah padam seperti ini kemungkinannya cuma 2. Yang pertama Merry sudah tidur dan yang kedua Merry sedang pergi keluar rumah.


Saat Gaby dengan segera hendak membuka pintu kamarnya sebelum ketahuan. Tiba-tiba lampu ruang tengah menyala. Gaby tak bergerak. Dia memasang ancang-ancang menghadapi Merry.


"Dari mana aja lo baru pulang jam segini?" Tania berkacak pinggang seperti ibu kost yang tengah menagih uang sewa. Wajahnya nampak putih karena tengah memakai masker.


Gaby melirik. Itu suara Tania, bukan mamanya.


Gaby mengelus dadanya pelan.


Selamat. Ternyata itu bukan mama.


"Tania! Gue pikir lo hantu. Tadi gue ada rapat OSIS dulu di sekolah," ujar Gaby kemudian berganti melirik pintu kamar Merry yang tertutup rapat.


"Nyokap lo lagi pergi," terang Tania yang kini duduk di ruang keluarga sambil menyalakan televisi. Ada wajah Willy tengah diwawancara disana.


"Kemana?" Gaby menyimpan tas abu-abunya di atas sofa.


"Mana gue tau. Nemuin kekasih gelapnya mungkin," Kening Gaby berkerut. Tania segera meralat ucapannya. "Becanda gue," Tania tertawa, berharap Gaby tak percaya dengan ucapannya.


"Ga lucu tau!"


Gaby lantas mengambil air minum yang sengaja disimpan di ruang makan.


"Willy hebat ya. Bisa masuk TV," seru Tania nampak kagum. Judul talk show itu adalah Pengusaha Muda Yang Pekerja Keras.


Gaby mencibir dalam hati.


Pekerja keras apanya? Dia punya usaha dimana-mana kan dapat modal dari orangtuanya. Coba kalo engga, paling restorannya baru buka satu. Itu pun pasti kurang laku. Semua kan berkat koneksi orangtuanya. KONEKSI!


"Kalo lo mau masuk TV juga bisa kok," Gaby meneguk minumannya hingga tandas.


"Gimana caranya?" Tania penasaran. Dia pikir Gaby memiliki rekanan agensi ternama atau salah seorang produser terkenal.


"Pecahin aja layar kaca nya. Terus lo masuk deh kesana," ledek Gaby sambil tertawa. Dia kemudian duduk disamping Tania sambil menarik toples kue kering.


"Haha. Lucu," sahut Tania sebal. "Lo udah makan?" Gaby menggeleng.


"Gue bikinin spagethi mau?"

__ADS_1


Hujan angin, kilat petir tiba-tiba menyerbu rumah Gaby.


"Tumben hari ini lo baik banget. Pasti ada maunya," tebak Gaby masih sibuk mengunyah kue.


"Kalau ga mau yaudah. Gue ga maksa juga kok." Tania pura-pura marah.


"Iya. Iya gue mau. Lo gampang banget berubah pikiran sih. Tapi jangan dipakein racun ya," Gaby mengedip sedang Tania tersenyum kemudian melotot. Dia lalu berjalan ke arah dapur dan memulai aksinya sebagai seorang chef dadakan.


Dan dalam hitungan menit, tiba-tiba sepiring spagetthi sudah tersaji dimeja.


"Wuihh... Kayaknya enak nih. Kok lo cuma bikin satu porsi?" Gaby keheranan. "Lo udah makan emang?" Tania menggeleng.


"Bahannya ga cukup," sahut Tania duduk hendak menemani Gaby makan.


"Mau bagi dua?" tawar Gaby sebenarnya tak rela. Bayangkan saja, perutnya sejak pagi hanya diisi sepotong roti, satu gelas jus jeruk dan satu buah cokelat kecil.


"Kalo pun gue mau, gue ga akan mau berbagi sama lo," Gaby tersenyum. Bersyukur karena Tania ternyata tak mau. Dia lantas melanjutkan makan.


"Kalo gitu kali ini gue yang berubah pikiran. Selamat makaaaann," ujar Gaby berselera. Tania nampak bingung. Ditatapnya wajah Gaby yang kelaparan.


"Oh ya, gimana sama Daniel? Lo udah berhasil nemuin dia?"


Gaby menelan makanannya. "Lo kira Daniel pake GPS makanya langsung bisa ditemuin dalam waktu sehari?"


"Gimana ga lelet. Lo sendiri aja ga kasih tau gue alesan kenapa Daniel tiba-tiba hilang gitu aja," protes Gaby tak mau disalahkan.


Tania terdiam. Dia seperti tengah berpikir sejenak.


"Katanya keluarga dia bangkrut. Abis itu kami lost contact."


"Oh ya?" Tania mengangguk.


"Dulu sih emang gue pernah denger ada beberapa perusahaan yang colleps karena terlilit hutang. Gue ga nyangka kalau salah satu perusahaan itu milik orangtua Daniel."


"Ternyata lo stalking Daniel? Masih suka lo ya sama dia?" tuduh Tania


"Ikh, engga! Siapa juga yang stalking dia. Ini tuh cuma prediksi gue doang. Ga tau kalo bener apa engganya," kilah Gaby. Tania hanya ber oh-oh ria saja.


"Hmmm... Gab."


"Ya."

__ADS_1


"Ternyata kalo kita akur itu lebih seru ya,"


Gaby dengan susah payah menarik ujung bibirnya.


Selama ini kan elo biang kerok yang selalu bikin gara-gara. Mulai dari rebut perhatian mama, ngerebut Daniel, bisa kuliah di luar negeri yang gue sendiri aja ga dibolehin, minta apapun sama mama tanpa perlu dikasih syarat. Sebenernya gue ga bener-bener benci sama lo. Gue cuma benci sama ketidakadilan antara gue sama lo.


"Soal Daniel. Gue bener-bener minta maaf sama lo," Gaby berhenti makan. Sisa makanan di dalam mulutnya pun dia kunyah pelan menggunakan mode slow motion.


Gaby mengangguk pelan. Ditelannya makanan itu dengan susah payah. "Oke. Gue bakal maafin lo, asal lo ga bohongin gue kali ini buat lepas dari William."


"Oke. Kartu As udah gue pegang. Lo tinggal tunggu waktu aja buat bebas dari William,"


"Kartu As?"


"Lo ga perlu tau. Dan ga usah nanya-nanya karena pertanyan lo ga bakal gue jawab." Gaby mengerucutkan bibirnya.


"Curang lo ya," protes Gaby penasaran. Dia kembali memakan spagethi yang tersisa sedikit.


"Lo tau dimana rumah Daniel?" Tania mulai wawancara tentang Daniel lagi.


"Gue ga mau jawab."


"Yaudah, gue ga jadi bantuin lo."


"Ikh, kok ngancem?"


"Makanya lo jawab. Lo tau ngga dimana rumah Daniel?"


Gaby mengangguk lalu berkata, "Gue pernah diajak kesana sekali."


Dalam hati sebenarnya ingin protes agar dibiarkan makan dengan tenang. Tapi berhubung makanan yang tengah dimakannya adalah buatan Tania, setidaknya dia harus menjawab pertanyaan Tania sebagai ucapan terima kasih.


"Kita kesana besok." Kali ini Gaby tersedak. Diambilnya lagi minuman dan segera meneguknya hingga habis.


"Lo aja deh yang kesana. Gue takut kalau sampe mama sama Willy tau."


"Mereka ga akan tau. Willy lagi keluar kota selama seminggu buat urus acara pembukaan restoran barunya. Kalo urusan nyokap lo biar nanti gue yang ngomong. Ya, bohong-bohong dikit boleh kali ya."


"Hebat juga lo ya. Tapi kenapa buat urusan Daniel lo minta bantuan gue?"


"Lo ga perlu tau. Itu Rahasia. Udah buruan makan! Makan aja lelet lo kayak kura-kura," titah Tania. Gaby menurut saja karena memang sejak tadi dia sudah kelaparan.

__ADS_1


"Makasih buat hari ini. Lo udah bikin Willy ga bisa anterin gue ke sekolah," ujar Gaby senang seperti baru dapat hadiah.


"Itu masih belom seberapa. Gue bisa bikin yang jauh lebih baik dari itu buat pisahin kalian berdua," ujar Tania yakin. Dia tersenyum miring sedang Gaby yang polos lebih memilih meneguk air minum disampingnya karena makanannya sudah berpindah tempat ke dalam perutnya.


__ADS_2