
Tania yang tengah berbaring sambil bermain handphone kaget melihat kedatangan Gaby. Dia lantas bangun kemudian duduk di tepi ranjang sambil memandang Gaby yang sibuk mencari handuk mandinya.
"Lo baru balik?" tanya Tania sambil menatap jam dinding. Jarum pendek di benda persegi berwarna merah muda itu sudah mengarah pada angka 9. "Malam banget baru balik," ujar Tania lagi.
"Iya. Tadi gue bantuin beres-beres dulu. Mama kemana? Kok ga keliatan?" tanya Gaby yang masih sibuk mencari handuknya. Dia bolak-balik seperti setrikaan yang tengah menggosok pakaian.
"Gue juga ga tau. Daritadi gue ga keluar kamar. Badan gue panas," sahut Tania kembali menjatuhkan kepalanya di atas bantal.
Dia menghela nafas panjang kemudian menatap photo Willy yang kini ia sandingkan berdekatan dengan photo miliknya sendiri. Sedangkan photo keluarga milik Gaby ia beri jarak beberapa inchi agar tidak mengganggu pemandang indah katanya.
"Lo sakit?" Gaby mendekati Tania kemudian memegang keningnya. Kening Gaby berkerut. "Ga panas kok. Lo sakit apa?" tanya Gaby kembali mondar-mandir mencari handuk merah muda yang ada inisial namanya di ujung handuk tersebut.
"Gue kena sakit mala-" ujar Tania yang ucapannya sudah keburu dipotong Gaby.
"Malaria?" tanya Gaby terkejut.
"Mala rindu. Gue rindu banget sama Willy," ujar Tania membuat Gaby menggelengkan kepala. Dia memeluk guling di dekatnya membayangkan jika guling yang dipeluknya itu adalah Willy.
"Gue kira lo sakit beneran. Ya, lo tinggal telepon dia lah. Gitu aja kok repot," ujar Gaby memberikan saran. Tapi wajah Tania bukannya senang malah nampak semakin murung.
"Udah berkali-kali. Dan dia sama sekali ga angkat panggilan gue. Apa dia sesibuk itu ya?" tanya Tania sambil menghela nafas panjang. Dikembalikannya lagi guling yang tadi ia peluk ke posisi semula.
Kalo dia sibuk ga mungkin dia usil teleponin gue terus setiap 5 menit sekali.
"Ga tau kenapa akhir-akhir ini gue selalu kepikiran dia terus. Apa mungkin gue jatuh cinta sama Willy ya?"
"Maybe. Kan yang ngerasain diri lo sendiri. Jadi udah pasti cuma lo yang tau apa lo jatuh cinta sama Willy atau engga."
"Tapi kan ga mungkin secepat itu rasa cinta bisa muncul, Gab. Gue aja belom tau tuh sifatnya Willy kayak gimana. Apa dia orangnya baik, atau pemarah, setia atau royal..." Tania masih terus mengabsen satu persatu sifat yang dimiliki oleh manusia.
"Nanti juga lo bakal tau gimana sifatnya Willy," ujar Gaby menghentikan ocehan Tania.
"Lo bisa kasih tau lebih banyak ga soal Willy? Anggap aja lo jadi mak comblangnya gue."
"Ga mau ah, biasanya malah mak comblang yang jadian sama kliennya. Gue kan justru lagi usaha buat jauhin Willy. Kenapa lo malah kepengen gue deket sama dia?" tolak Gaby cepat.
"Tapi hari ini dia telepon lo ga?" tanya Tania. Tak ingin melihat kekecewaan di wajah Tania, Gaby segera mengalihkan pembicaraan.
"Eh, lo lihat handuk gue yang warna merah muda ngga? Kok daritadi gue cari-cari ga ada sih?" tanya Gaby kini mulai membongkar lemari pakaian miliknya. Hanya ada tumpukan baju miliknya dan sebagian milik Tania yang menyebrang melewati perbatasan.
"Lo salah taruh mungkin," ujar Tania menendang handuk Gaby yang ada di samping tempat tidur ke kolong ranjang.
__ADS_1
Handuk itu sebenarnya Tania pinjam untuk mengeringkan rambutnya tadi siang. Tapi saat sudah ia pakai, ia lupa mengembalikan handuk Gaby ketempatnya hingga secara tak sengaja handuk itu kejatuhan satu botol pewarna kuku yang tengah ia gunakan.
"Ga mungkin! Gue selalu simpen semua barang gue ditempatnya kok. Lo ga pindahin handuk gue kan?" tanya Gaby akhirnya menyerah. Dia mengambil handuk putih yang tidak pernah ia pakai, kemudian mengalungkannya di leher.
"Engga. Gue.. Gue kan punya handuk sendiri. Kalau lo mau pinjem handuk gue ga apa-apa. Tapi jangan lupa lo balikin," ujar Tania gelagapan. Dia lalu kembali mengambil handphone dan berusaha menghubungi Willy.
'maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk atau berada di luar service area. Cobalah beberapa saat lagi. The number you are calling is busy. Please try again later'
Tania membanting handphonenya.
"Tuh kan, dia sibuk terus,"
"Ga ada jaringan kali,"
"Emang dia buka restoran di tengah hutan sampai ga masuk jaringan?" Tania mulai marah-marah sendiri.
"Lo coba aja terus. Gue mau mandi ya, udah lengket nih badan gue kena keringet," ujar Gaby memilih kabur ke kamar mandi.
Saat Gaby keluar dari kamar, Tania yang penasaran kemudian mengecek handphone Gaby. Meski tak bisa membuka password handphone tersebut, tapi dari pop up notivication dapat dilihat jika Willy beberapa kali menghubunginya.
Dan saat hendak mengembalikan handphone Gaby ke tempat semula, tiba-tiba Willy kembali menghubunginya.
"Gab..."
"Ya."
"Lo siapa? Ini bukan suara Gaby."
Tania terdiam. Merasa jika kesempatannya untuk mendekati Willy sangat tipis. Bayangkan saja, suara Gaby pun Willy dapat dengan mudah mengenalinya.
"Lo pasti Tania."
"Iya, Wil. Ini gue. Ada apa?"
Tania mengatur nafasnya. Berusaha senormal mungkin bercakap-cakap dengan Willy via telepon. Beruntung mereka tak bertatap muka langsung, karena jika iya. Akan ketahuan jika Tania tengah dilanda rasa cemburu.
"Kalian lagi apa?"
"Gue lagi sakit nih. Kalau Gaby baru pulang dari sekolah dan sekarang dia lagi mandi tuh."
"Selarut ini?"
__ADS_1
"Katanya dia abis bantuin beres-beres perlengkapan sisa bazaar amal yang diadain sekolahnya, makanya dia pulang malem banget."
"Dia udah makan?"
"Belom kayaknya. Dia baru nyampe banget soalnya."
"Tante Merry mana? Kok gue hubungi beberapa hari terakhir ini ga diangkat ya?"
"Nyokap lagi pergi, mungkin dia lagi sibuk."
"Oh oke. Nanti tolong lo pastiin Gaby makan ya, Tan. Dia ga boleh telat makan soalnya, gue takut badan dia drop terus sakit."
Tania mengeraskan rahangnya. Kecewa karena tidak sedikit pun Willy menanyakan kabarnya.
"Oh ya satu lagi, tolong sampaikan kepada Tante Merry jika kebutuhan Gaby yang Tante Merry minta beberapa hari yang lalu udah gue transfer ke rekeningnya. Sorry ya, Tan. Gue jadi ngerepotin lo banget. Kerjaan gue bener-bener diluar harapan nih. Semua kacau"
"Kacau?"
"Tapi lo ga perlu khawatir. Semua pasti bisa gue handle kok. Gue cuma titip Gaby sama lo ya. Jagain dia dengan baik. Dan jangan biarin dia jalan sama cowok manapun."
"Lo ga perlu khawatir, Wil. Gaby pasti bakalan lepas dari lo secepatnya."
"Lo barusan bilang apa, Tan? Sorry disini berisik banget. Gue lagi dijalan, kena traffic light nih. Semua orang pada mrnggila. Stress pengen cepet-cepet nyampe rumah kayaknya makanya pada pencet-pencet klakson berkali-kali bikin polusi suara."
"Yaudah, lo hati-hati dijalan. Gue tutup ya. Bye Will."
Sambungan telepon pun dimatikan. Tania yang marah melempar handphone Gaby keluar jendela.
"Tania, lo lagi ngapain?" panggil Gaby saat melihat Tania berdiri memandang jalanan dari jendela kamar. Wajah merah Tania tak dapat lagi disembunyikan. Airmatanya membendung di pelupuk mata.
"Lo kenapa?" tanya Gaby lagi.
"Gue makan dulu ya," ujar Tania susah payah. Ditariknya ujung bibir meski dengan gemetar kemudian ia pergi keluar kamar.
Gaby yang kebingungan tak mau ambil pusing dengan tingkah aneh Tania. Dia kemudian mencari handphonenya hendak memberitahukan ucapan terima kasih Riza yang ditujukan untuk semua anggota yang sudah membantu menyukseskan acara bazaar.
Namun saat dicari, handphone Gaby tak juga ia temukan. Membuat Gaby berniat kembali membongkar kamarnya untuk yang kedua kalinya.
Kok jadi pada hilang gini sih
Gumam Gaby dalam hati.
__ADS_1