Get Back Love

Get Back Love
Bantuan Tania


__ADS_3

Byuuuurrrrr!


Wajah bantal Gaby dengan sadis di siram air oleh Tania. Gaby yang masih terbuai di alam mimpi sontak bangun gelagapan. Sementara Tania malah memamerkan deretan gigi putihnya sambil menahan tawa. Inilah yang selalu dia rindukan selama berada di pengasingan kemarin.


"Taniaaaaaa!" teriak Gaby jengkel. Dadanya naik turun sedangkan tangannya sibuk mengusap wajah yang basah seperti baru saja disembur mbah dukun.


"Makanya bangun. Lo itu anak cewek, masa udah siang begini masih aja selimutan? Malu tuh sama ayam," omel Tania sambil berkacak pinggang. Sedangkan Merry nampak hanya mengintip pertengkaran Gaby dan Tania dari ruang makan. Tak berniat memisahkan.


Gaby menatap jam yang ada di tembok. Dengan sebal dia bangun lalu mengambil handuk yang tergantung di hanger belakang pintu.


"Yang harusnya malu itu elo! Nyalain musik kayak orang mau konser. Bikin orang ga bisa tidur tau! Untung tetangga sebelah ga lapor Pak Rt buat gerebek rumah ini," sahut Gaby sambil berlalu.


"Yang ga bisa tidur disini tuh sebenernya gue. Lo tuh anak cewek tapi ngoroknya kenceng banget kayak bunyi mesin trak-" Tania tidak berani melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba Gaby kembali dengan wajah masam.


Tania pura-pura bersiul sambil menggerak-gerakkan bola matanya kesegala arah. Dan saat Gaby berjalan mendekat ke arahnya, Tania dengan cepat menunduk sambil memejamkan mata.


Kenapa ga bisa gue kontrol sih ini bibir? Maen asal ceplos aja kayak emak-emak.


"Sini" ujar Gaby membuar Tania bingung.


"Apaan?"


Tanpa menyahut, Gaby segera menarik gayung yang tengah dipegang Tania.


"Gue ga bisa mandi kalo lo masih pegang ini gayung disini," ujar Gaby membuat Tania akhirnya bisa bernafas lega. Dia lalu mengusap pipinya yang dipikir akan ditampar Gaby.


Bunyi Klakson menarik perhatian Tania. Diliriknya dari jendela kamar wajah segar Willy yang baru saja tiba. Merry nampak menyambut kedatangan Willy dengan penuh sukacita seperti biasa. Tak mau kalah, Tania keluar dari kamar kemudian berlari menghampiri mereka.


"Hai Wil," sapa Tania kepada Willy yang sudah duduk di ruang makan.


"Oh hai," sahut Willy yang malah sibuk mencari keberadaan Gaby. Seperti sudah tahu, Merry yang tengah membawa roti isi langsung memberitahu Willy.


"Gaby masih ada dikamar mandi. Sebentar lagi juga dia keluar," terang Merry kemudian kembali masuk kedapur.


Dan benar saja ucapan Merry. Beberapa menit kemudian Gaby keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya. Berjalan lurus, tak perduli meski Willy nampak tak berkedip menatapnya.


"Taniaaaaaaa!" kali ini teriakan Gaby kembali membuat panik semua orang. Merry yang pertama kali masuk kedalam kamar, disusul Tania dan Willy yang masuk secara bersamaan.


"Ada apa lagi sih?" tanya Merry dengan kening berkerut. Gaby menunjuk isi lemarinya yang sebagian besar dipenuhi oleh pakain milik Tania. Merry menatap Tania, sedangkan Tania malah mengulum senyum.


"Ya ampun, Gaby. Tania kan belum punya lemari. Apa salahnya sih kalo kamu berbagi sebagian lemari kamu sama Tania?" ujar Merry membuat Gaby makin kesal.


Kemaren kamar, sekarang lemari. Besok apalagi?


"Lebih baik kamu pakai seragam kamu. kasihan Willy kalau harus menunggu lama," ujar Merry kemudian mengajak Willy dan Tania keluar kamar.


Terus aja belain orang. Gue kan anak tiri disini.


Setelah selesai mengenakan seragam, Gaby kemudian keluar kamar dan mendapati tempat duduknya yang biasa sudah ditempati Tania.


Tak mau ambil pusing, Gaby kemudian menarik kursi disamping Tania lalu memakan sarapannya dengan lahap. Toh tempat duduk lamanya itu berhadapan langsung dengan wajah Willy. Jadi mau tak mau saat sarapan ia akan terus melihat Willy meskipun secara tak sengaja. Dan kali ini dia bebas.


"Kesibukan Willy apa? Kuliah atau..." tanya Tania mulai membuka pembicaraan. Nada bicaranya manja dan terkesan mendayu-dayu.

__ADS_1


"Aku lagi mengelola beberapa restoran sekarang. Kebetulan bulan depan aku juga mau membuka cabang baru di luar kota," terang Willy sombong


"Waaaw, keren banget," puji Tania kagum


Baru juga punya beberapa restoran, udah pamer kayak punya pulau pribadi.


"Jadi pembukaan restoran kamu bulan depan? Bukannya kemarin kamu bilang kalau pembangunannya baru rampung 70%?" tanya Merry antusias.


"Semuanya dipercepat tante. Kebetulan papa dan mama hanya bisa hadir di acara pembukaan itu bulan depan," terang Willy senang.


"Kalau kamu mau datang, mereka pasti akan sangat senang," sambung Willy kini malah melirik Gaby. Tapi gadis yang ditatapnya malah asyik memandangi piring makanannya.


"Wah, kalau boleh sih aku mau banget liat pembukaannya," seru Tania antusias. Dia mengira jika ajakan yang di lontarkan Willy adalah untuknya, "Itung-itung pemanasan ketemu ama calon mertua," kekehnya berharap.


Willy terbatuk-batuk saat mendengar Tania mengatakan hal keramat itu. Sedangkan Merry dengan sigap memberikan minuman kepada Willy. Sayang, ia lupa jika minuman yang ia suguhkan merupakan jus jeruk bukan air bening.


"Gab, tolong kamu ambilkan minum untuk Willy ya. Kasihan dia, takut tersedak," titah Merry kemudian menepuk-nepuk pundak Willy agar berhenti batuk.


Gaby menuruti perintah ibunya disusul oleh Tania yang menawarkan diri untuk membantu.


"Ngapain lo?" tanya Gaby saat langkahnya disusul Tania.


"Bantuin lo ambil minum."


"Kenapa ga lo aja yang ambilin tadi? Bikin repot," ujar Gaby hendak balik badan kembali ke ruang makan.


"Gue bisa bantuin lo buat ngejauh dari Willy," ujar Tania membuat Gaby menghentikan langkahnya.


"Lo yakin?" tanya Gaby penuh selidik. Tania hanya mengangguk pasti sambil mengangkat kedua alisnya. Tak lupa senyuman miring ciri khasnya tak mau ketinggalan.


"Kalo lo mau minta duit. Lo salah alamat," Gaby mengambil teko alumunium dan menuangkan air di dalamnya ke dalam gelas kaca.


"Gue tau. Makanya gue mau minta yang lain,"


"Apa?"


Cuuuuurrrrrr.


Air dari teko terjun bebas kedalam gelas.


"Cariin Daniel."


Gaby mematung. Nama laki-laki yang dulu membuatnya bertengkar hebat dengan Tania kini disebut lagi.


"Gue ga mau," tolak Gaby tegas. Dadanya naik turun menahan emosi saat nama laki-laki pertama yang melukai hatinya disebut. Disimpannya teko alumunium itu dengan sedikit kasar.


"Yakin?"


Gaby terdiam. Bukan karena bingung untuk membuat keputusan melainkan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka sampai Tania harus meminta bantuannya mencari Daniel.


"Kenapa ga lo cari sendiri? Kalian berantem? Apa udah putus?" tanya Gaby keceplosan.


Gaby mengutuki diri karena menanyakan hal yang tidak seharusnya ia katakan. Berfikir apa kata Tania nanti jika tahu ia masih penasaran dengan hubungannya bersama Daniel.

__ADS_1


"Kami udah putus. Dan dia hilang gitu aja sama kayak papa. Sedangkan gue masih punya urusan penting sama dia,"


"Urusan apa?" Gaby berbalik. Kali ini dia benar-benar penasaran.


"Kayaknya lo ga perlu tau deh. Gue cuma butuh lo buat bantu cariin dia. Itu aja udah cukup."


"Kalo gitu lo cari dia sendiri. Gue ga mau bantu lo," ujar Gaby tak perduli.


"Oke. kalo gitu gue juga bakal pastiin lo hidup seperti ini terus bersama William. Se-la-ma-nya!"


"Lo ngancem gue?"


"Ini kesepakatan. Lo bantu gue cari Daniel, dan gue bantu lo buat jauh dari Willy."


"Terus nyokap gue?"


"Urusan nyokap lo mah kecil,"


"Oke. Deal," mereka berdua lalu berjabat tangan tanda setuju. Sedangkan Merry berteriak meminta agar Gaby segera membawakan minuman Willy.


Tania menjentikkan jarinya saat Gaby sudah keluar dari dapur.


Perfect.


"Kamu ngambil air minum dimana sih? Kasihan Willy daritadi batuknya belum berhenti-berhenti," omel Merry sambil memberikan minuman kepada Willy.


"Ya maaf ma, air di teko habis. Jadi aku ngambil air dari keran deh," ujar Gaby usil. Willy yang mendengarnya kembali batuk. Malah lebih parah dari sebelumnya.


"Gaby!" bentak Merry marah


"Becanda ma. Bisa sakit perut 7 hari 7 malam boss muda kita ini kalo dikasih air keran," sindir Gaby sambil tertawa kecil.


"Gaby" teriak Merry lagi


"Gimana? Udah mendingan belom?" tanya Gaby pura-pura perhatian. Diselempangkan tas abu-abu miliknya di bahu.


Willy menganggukkan kepalanya pelan. Tenggorokan nya masih dia pegang mungkin karena masih terasa gatal. Kemudian mereka berdua pamit hendak berangkat.


Saat hendak masuk kedalam mobil, sebuah ojek online tiba-tiba berhenti tepat didepan rumah Gaby.


"Nona Gaby" panggil pengemudi ojek online tersebut.


"Ya" sahut Gaby. Willy yang keheranan memutuskan turun dari mobilnya.


"Ini helm nya"


Seperti mendapat durian runtuh, Gaby tersenyum dan langsung menerima helm itu lalu duduk dijok belakang.


"Cepetan jalan, pak" ujar Gaby lalu menepuk pundak sang pengemudi


"Siap Mbak! Tolong di klik dulu helm nya" pinta pengemudi itu sebelum berjalan. Gaby melambaikan tangannya pada William sambil tersenyum lebar


Willy yang hendak mengejar harus rela menahan keinginannya karena tiba-tiba ban mobilnya kempes semua.

__ADS_1


Aaarrgghhh!


Teriaknya marah.


__ADS_2